cerpen, sastra, Tak Berkategori

Kyai Sepuh

Kyai Sepuh ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg

KYAI Sepuh bukan dukun, bukan tukang ramal, bukan pula tukang tenung. Kyai Sepuh hanyalah seorang pemain teater. Tepatnya bekas pemain teater yang mengalihkan kemampuannya berseni peran dari panggung ke dalam kehidupan sehari-hari.

Dari caranya bersikap, memainkan mimik muka maupun bahasa tubuhnya, dia berhasil memberi kesan bahwa dirinya betul-betul seorang manusia bijak. Terbukti dengan begitu banyak orang yang percaya kepadanya, tanpa kesadaran bahwa yang dipercayainya adalah suatu peran yang dimainkan.

Demikianlah berlangsung dari hari ke hari. Dan setelah bertahun-tahun, Kyai Sepuh akhirnya berhasil mengelabui dirinya sendiri. Betapa dia memang sebenarnyalah sungguh bijaksana, pandai, cerdas, dan berpengetahuan. Dia sungguh-sungguh mengira, dengan kepekaan yang dirasa-rasakannya saja, dapatlah dia menunjukkan kebenaran yang dicari semua orang. Apalagi sambutan orang-orang di sekitarnya pun serba membenarkannya.

Baca juga: Setan Banteng – Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Koran Tempo, 22-23 Desember 2018)

Hanya saja Kyai Sepuh sudah mulai sakit-sakitan dan pelupa. Namun tiada seorang pun yang percaya. Kyai Sepuh sendiri memang tidak pernah memeriksakan sakitnya ke dokter. Karena ia berpikir jika dirinya berobat ke dokter dan darahnya diperiksa oleh laboratorium kesehatan, orang-orang tidak akan percaya lagi kepadanya.

“Masa orang pinter ke dokter,” itulah tanggapan yang dihindarinya.

Begitulah, semakin banyak saja orang yang datang minta petunjuk. Begitu banyak sehingga sudah tidak mungkin lagi dilayani satu per satu. Kerumunan di rumahnya begitu besar yang jika diurutkan dalam antrean akan menjadi terlalu panjang, yang dalam waktu 24 jam pun tidak akan berkurang karena orang-orang yang terus mengalir berdatangan.

Maka Kyai Sepuh memutuskan, penyelesaian masalah tidak akan dilakukan bagi setiap orang satu per satu, tapi secara borongan. Satu petunjuk untuk semua orang dengan penafsiran masing-masing.

***

Hari itu Kyai Sepuh bersila di tempatnya yang biasa. Sebuah kotak persegi panjang yang dalam dunia teater disebut “level”. Cukup sebuah level yang dialasi tikar pandan murahan, maka dia pun sudah lebih tinggi dari orang-orang yang berkumpul di ruangan itu. Kedudukan lebih tinggi itu baginya perlu, karena akan memberi kesan lebih tinggi dari segalanya, di ruangan itu maupun dunia di luarnya.

Dalam dunia teater, panggung adalah pusat dunia, dan ruangan itu adalah panggungnya. Kelompok teater yang didirikannya sudah lama bubar dan orang-orang sudah melupakannya. Khalayak kini mengenalnya sebagai orang pinter yang bisa menjawab semua pertanyaan tentang segala hal dengan baik dan benar, tepat dan jitu, asal mampu menafsirkan petunjuknya

Segala sesuatu yang terbukti menunjukkan kepintaran Kyai Sepuh. Segala sesuatu yang tidak terbukti menunjukkan kebodohan penafsirnya. Begitulah hukum yang berlaku di dunia Kyai Sepuh.

Dari masa lalunya hanya tersisa level itu. Dia hanya butuh satu. Lebih dari cukup untuk meninggikan dirinya dari siapa pun yang masuk ke rumahnya, panggungnya di dunia nyata—dan hari itu dia sedang berada di sana, bersila, memejamkan mata dengan kepala tertunduk dan tubuh membungkuk, tidak terlalu jelas apakah sedang tafakur atau mengantuk.

Dia sendiri kurang mengerti mengapa semakin tua dan semakin memutih jenggotnya dia begitu mudah terkantuk-kantuk. Namun lebih penting baginya bahwa semakin tua dirinya semakin dihormati, meski juga tidak terlalu jelas baginya apakah dia dihormati karena memang dianggap bijak ataukah sekadar karena tua.

Angin pagi masuk lewat jendela yang satu dan keluar lagi lewat jendela yang lain, membuat udara semakin sejuk, meski dinding kayu itu mulai memantulkan cahaya keemasan matahari. Mereka telah menunggu sejak pagi buta ketika Kyai Sepuh belum bangun. Setelah mandi dan sarapan Kyai Sepuh muncul, mengulurkan tangan untuk diletakkan di dahi tamu-tamunya, lantas duduk bersila di tikar itu.

Sampai lama sekali orang-orang menunggu. Di luar semakin banyak orang berdatangan dan tidak bisa masuk ke dalam sebelum orang-orang yang di dalam keluar. Beredar kabar Kyai Sepuh belum mengatakan apa pun sejak tadi.

“Kyai tidak selalu mengatakan sesuatu,” kata seseorang.

“Barangkali Kyai memang tidak akan mengatakan apa pun,” kata yang lain.

“Kyai memang tidak perlu mengatakan apa pun,” kata yang lain lagi.

“Kyai akan memberikan tanda-tanda.”

Seperti mendapat jalan keluar, semua orang menunggu. Jika tidak mengatakan sesuatu, Kyai Sepuh semestinya memberikan penanda, sebagaimana telah ditafsirkan selama ini oleh para pencari petunjuk. Sedangkan jika mengatakan sesuatu, kata-kata Kyai Sepuh tidak akan menunjuk langsung, jadi seperti penanda-penanda juga.

Akibatnya, selain merujuk Kyai Sepuh, para pencari petunjuk harus memanfaatkan jasa para juru tafsir di sekitarnya. Tidak terlalu jelas bagaimana mereka bisa muncul dan menjadi bagian dari keberadaan Kyai Sepuh, yang jelas kadang-kadang ongkos balas jasa bagi juru tafsir ini jauh lebih besar daripada balas jasa sukarela kepada Kyai Sepuh. Berapa? Jika Kyai Sepuh tidak pernah mengucapkan apa pun soal balas jasa, para juru tafsir ini selalu mengatakan, “Tahu sendiri.” Supaya tidak melakukan kekeliruan, orang-orang yang membutuhkan petunjuk Kyai Sepuh ini pun akan memberikan imbalan lebih dari pantas, yang kadang-kadang diterima dengan menggerutu.

“Kalian ini katanya membutuhkan pertolongan, dan petunjuk Kyai akan menyelesaikan masalah kalian, kenapa begitu malas memberikan imbalan? Jangan mau enaknya sendiri dong …”

Kyai Sepuh mendadak terbatuk-batuk. Ada yang mengira beliau sakit, tetapi para juru tafsir pendapatnya berbeda.

“Siap! Siap!”

“Rekam! Rekam!”

Ratusan orang mengeluarkan telepon genggamnya. Terekamlah bagaimana Kyai Sepuh terbatuk-batuk tanpa ada yang menolongnya. Sampai Kyai Sepuh sendiri terpaksa berpantomim menirukan orang minum, barulah seseorang datang membawakan air mineral.

Setelah minum, Kyai Sepuh tampak lebih tenang meski dadanya masih naik turun. Namun orang-orang sudah mendekati para juru tafsir yang segera membahas penanda berwujud batuk tersebut.

“Coba, berapa kali Kyai batuk?” kata seorang juru tafsir.

Rekaman pun diulang untuk menghitungnya.

“Empat puluh kali.”

“Tiga puluh sembilan.”

“Saya hitung kok empat puluh satu?”

“Huss! Kok lain-lain? Mesti yang bener! Lain hitungan lain lagi maknanya!” Seorang juru tafsir memberi komando.

Baca juga: Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa – Cerpen Edi A.H. Iyubenu (Jawa Pos, 11 November 2018)

Untuk mencapai kesamaan hitungan di antara ratusan orang ternyata tidak gampang. Lama kemudian baru disepakati, Kyai Sepuh batuk 45 kali.

“Huh, jauh banget. Coba langsung ditancap saja maknanya tadi, kan salah semua?”

Nah, jadi apakah maknanya batuk Kyai yang 45 kali?

Seorang juru tafsir berkata, “Karena artinya untuk setiap orang dan setiap persoalan lain-lain, setiap orang mendapat bisikan yang harus dirahasiakan. Jangan pernah membuka rahasia ini karena tuahnya akan langsung hilang.”

Setiap juru tafsir menyampaikan hal yang kurang lebih sama kepada orang-orang yang mengerumuninya. Namun ternyata Kyai Sepuh batuk-batuk lagi, dan meskipun begitu rupa parah batuknya, sampai Kyai jatuh tengkurap dan tercekik-cekik, orang-orang lebih cenderung menganggapnya sebagai rentetan penanda belaka.

“Rekam! Rekam! Rekam!”

“Jangan lolos satu gerakan pun!”

Memang benar seseorang memberikan botol air mineral sambil mengurut-urut punggungnya, tetapi batuknya tidak pernah berhenti lagi, sampai mata Kyai mendelik dan lidahnya terjulur, ketika batuknya menyatu tanpa jarak lagi sebagai ketercekikan yang panjang.

Suara aneh terdengar dari tenggorokannya, seperti hembusan napas yang keras, sepintas lalu bagaikan dengkur orang tidur.

Lantas Kyai Sepuh tidak bergerak lagi.

“Dapet semua?” Seorang juru tafsir bertanya.

“Alhamdullillah … dapet!”

Bertahun-tahun kemudian orang masih datang ke makam Kyai Sepuh untuk mencari petunjuk dan mendapatkan penanda-penanda. Segenap penanda yang berasal dari peristiwa kematiannya disebut-sebut telah mengatasi sebagian besar masalah, jika bukan seluruhnya, berkat pemecahan maknanya oleh para juru tafsir. Kehidupan dan kematian –adakah makna yang bisa lebih besar dari itu?

Sampai sekarang orang masih berdatangan mendaki bukit, menuju makam Kyai Sepuh yang terletak di bawah pohon dan sengaja dipisahkan dari makam-makam lainnya. Orang-orang bermalam di sekitarnya, membakar kemenyan atau hio, lantas menyerahkan diri kepada alam.

Menurut pengakuan orang-orang yang merasa mendapat petunjuk, penanda-penanda dari Kyai Sepuh mereka dapatkan dari bintang-bintang di langit, angin yang berdesir, atau gugur daun yang diterbangkan angin itu. Adakah kiranya yang bisa lebih kaya dari alam semesta sebagai sumber penafsiran segala makna?

Seorang juru kunci telah hadir di makam itu. Beliau dapat membantu pemecahan makna segala penanda, dan sungguh telah mendapatkan banyak uang.

Ada juga yang bercerita bahwa Kyai Sepuh muncul dalam mimpinya dan betapa ia menjadi sangat bahagia.

Betapapun telah disebutkan tadi, Kyai Sepuh bukanlah dukun, bukan tukang ramal, bukan pula tukang tenung. Kyai Sepuh hanyalah seorang pemain teater sahaja—tentang ini sudah tidak banyak orang yang mengetahuinya. (*)

sumber

esai, sastra, Tak Berkategori

SEBAGAI PARTAI ANAK MUDA, HARUSNYA PSI JANGAN KESERINGAN NEGATIVE CAMPAIGN

Membiarkan negative campaign ala PSI berkeliaran, kayak Piala Kebohongan PSI untuk kubu Prabowo—sungguh, itu bukan tugas anak muda, Kisanak.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bikin gebrakan lagi. Setelah bikin agenda kontroversial penghapusan Perda Syariah, kebijakan anti-poligami, dan penganugerahan Piala Kebohongan pada Prabowo, Sandi, dan Andi Arief tempo lalu.

Beberapa waktu lalu Ketua Umum PSI, Grace Natalie mengatakan punya agenda baru untuk kalangan anak muda, yaitu memasukkan profesi Youtuber, Influencer, dan Gamer dalam kolom profesi KTP.

Pidato itu disampaikan Grace dalam Festival 11 di Kota Bandung. Tak hanya bicara soal profesi baru—sebelum itu—Grace juga melayangkan kembali negative campaign tentang hoaks-hoaks Prabowo-Sandi, Capres-Cawapres urut 02, lalu dukungan terhadap Ahok. Tentu dengan kobaran semangat ala anak muda.

“Bro and sist,” ujar Grace, “PSI akan mendorong profesi-profesi baru seperti Youtuber, Influencer, Gamer, dan lain-lain, supaya profesi-profesi baru ini bisa dicantumkam dalam kolom pekerjaan di KTP.”

Saya tidak heran dengan kebijakan “anak muda” ini.  PSI mah memang begitu. Bukan saja karena Grace Natalie lebih cantik dan lebih populer ketimbang Surya Paloh dan Hary Tanoe, PSI memang menarik karena umpannya yang selalu menyasar kaum muda. Dan anak muda memang diprediksi jadi pemilih mayoritas dalam Pemilu nanti.

Unicorn baru dalam perpolitikan Indonesia versi Pak Jokowi ini, memang pakai standar ideal anak muda dalam usulan kebijakannya. Seperti dibangunnya citra PSI sebagai partai yang bakal konsisten memerangi korupsi. Dan karena partai baru, hal itu jadi jualan utama PSI dalam percaturan politik Tanah Air.

Sebagai partai baru dengan ide-ide segar, istilah milenial kemudian diidentikkan dengan PSI. Sebab ketika kata itu muncul, dalam pikiran kita berseliweran bayangan sosok Tsamara Amany, kader muda-cantik-cerdas. Apalagi ketika Tsamara bicara antipoligami, waduh, ramailah publik.

Sementara banyak anak muda progresif (kebanyakan gadis-gadis) seakan mendapat perwakilan suara, lalu jingkrak-jingkrak menyuarakan “stop poligami”.

Nah, sebagai sebagai unicorn dalam partai politik universe, PSI membawa proyek-proyek kekinian. Apa-apa harus anak muda, perspektif kebijakannya pun anak muda. Poinnya dari anak muda untuk kemajuan bangsa.

Hal yang seperti memberi sekat bahwa formula politik sekarang sudah kelewat usang karena keseringan pakai model-model kebijakan zaman old. Progresif dan menentang—seolah-olah—semua pola pikir konservatif.

Masalahnya jadi njelimet ketika anak muda itu merambah pada sesuatu yang kurang elok: negative campaign.

Memang, sih, tidak seperti black campaign, negative campaign masih sah-sah saja. Boleh. Juga tak bermasalah secara hukum. Tapi, kan, katanya anak muda. Masa anak muda lebih suka mencecar kekurangan lawan ketimbang menaikkan grade diri. Memangnya untuk menaikkan grade ala anak muda harus sambil menunjukkan kekurangan lawan dulu sih?

Hal yang malah bikin saya curiga, apa jangan-jangan negative campaign PSI yang agresif itu merupakan wujud ketidakmampuan menaikkan grade lagi ya?

Dengan agenda program yang berkualitas, misalnya. Toh, kita semua tahu, agenda-agenda PSI, meskipun banyak, semua periferal bahkan cenderung remeh temeh. Belum menyasar ke hal-hal yang substantif. Kolom pekerjaan di KTP akan diisi Gamer atau Youtuber misalnya. Ya itu keren juga sih, tapi kan itu belum penting-penting amat untuk diperjuangkan.

Masalahnya, ketidakmampuan mencari tawaran kebijakan yang lebih penting kemudian ditutupi PSI dengan menjatuhkan lawan politiknya. Ya itu mah intrik politik yang sudah lumrah. Bahkan hal itu cenderung cara konservatif yang sudah dilakukan politisi dari zaman old. Cuma gimik-gimiknya aja yang beda.

Kalau pakai cara-cara old juga untuk menaikkan eletabilitas, ya nggak perlu anak muda lah untuk melakukan itu. Politisi lawasan juga sama canggihnya, Bro and Sist.

Meski begitu, bukan berarti saya mau membela Prabowo-Sandi. Toh saya juga bukan timses mereka. Saya hanya fokus pada jargon PSI sebagai partainya anak muda, dan apa yang harusnya dilakukan oleh anak muda itu sendiri.

Saya juga nggak mengritik PSI atas nama ia sebagai partai pendukung Jokowi-Ma’ruf. Tetapi membiarkan negative campaign berkeliaran—sungguh, itu bukan tugas anak muda.

Betul memang, semangat anak muda itu wajib—terutama untuk menjaring suara pemilih. Reformasi ’98 saja juga dilakukan generasi anak muda loh—pada zamannya tentu. Tetapi agenda saat itu benar-benar progresif, seperti kebebasan mengritik dan kebebasan berpendapat.

Namun kalau sudah sampai berencana menghapus identitas agama dalam KTP sampai kebijakan anti-poligami, ya jangan salah kalau kemudian PSI mendapat serangan dari sana-sini. Jiwa muda sih boleh-boleh saja, tapi ya bijak lah dikit.

Soalnya ide-ide progresif tetap membutuhkan ide-ide konservatif. Keduanya nggak bisa berdiri sendiri-sendiri. Baiknya sih kedua kutub ini (kaum progresif dan konservatif) saling mengerti satu sama lain. Bukannya sama-sama mau menang sendiri.

Kalau kata Bang Haji Rhoma Irama, “masa muda, masa yang berapi-api. Yang maunya menang sendiri, walau salah nggak peduli…”

Lha kalau anak mudanya saja suka merasa menang sendiri begitu—dengan meledek senior-senior mereka—lalu bedanya PSI dengan partai-partai politik yang udah senior apa? Masa yang beda cuma gimiknya doang? Pakai piala sampai plakat segala lagi. Caranya aja yang anak muda, esensinya sih ya orang tua.

Ayolah, PSI, jangan politisir kata “anak muda”. Apalagi menciptakan citra bahwa anak muda belakangan ini juga lebih doyan sama negative campaign.

Elektabilitas bertambah, seyogianya didapat dengan kebijakan-kebijakan berkualitas, bukan cuma berhenti menghancurkan lawan politik sekuat-kuatnya. Jika, misalnya, berbicara secara politik sebagai pendukung petahana, ya sudah ngaku aja. Nggak usah bawa-bawa atas nama kesejahteraan umum dong.

Kalau memang betul-betul mengatasnamakan jiwa anak muda yang anti hoaks, intoleransi, dan korupsi, mestinya kubu petahana juga dikritik. Sebab justru merekalah yang memegang tampuk kekuasaan. PSI sebagai partai baru seharusnya memberi tawaran, apa saja yang kurang dari pemerintahan sekarang lalu kasih tawaran ke pemilih.

Ya meski kita juga tahu, hal itu agak nggak mungkin. Kan satu koalisi ya kan?

Berbicara boleh berapi-api, tapi gimik juga seharusnya lebih sopan, biar bisa “ngajarin” para politisi senior juga, bahwa anak muda itu nggak perlu selalu urakan, tapi bisa elegan juga.

Bro and Sist juga harus tahu, bahwa patokan jiwa muda itu bukan cuma perkara umur atau ide saja, tapi juga bagaimana cara menjelaskan ide tersebut. Jika yang dilakukan penyampainnya dengan negative campaign, masyarakat bakal lebih ingat kekurangan lawan ketimbang kekuatan PSI sendiri.

Oke deh, PSI mungkin nggak peduli karena menyasar orang-orang yang sepemikiran, tapi iya kalau orang risih sama cara ledekan politik ala PSI lalu malah milih PDI atau Golkar gimana?

Ya satu koalisi sih, tapi kan Pemilu urusannya bukan cuma Pilpres doang, tapi juga Pileg. Banyak-banyakan kader partai yang bisa masuk ke Senayan.

Ya bakal percuma dong kalau Jokowi akhirnya jadi Presiden, tapi kader PSI yang masuk parlemen cuma beberapa orang? Wah, berat diongkir dong, Sist.

sumber

cerpen, sastra

Menuju Abashiri

Hasil gambar untuk shiga naoya

Shiga Naoya

Di Utsunomiya, aku berkata kepada seorang teman, “Aku akan mampir ke tempatmu dalam perjalananku kembali dari Nikko.” Dia membalas, “Ajak aku sekalian — aku akan menemanimu ke Nikko.”

Saat itu, meski di bulan Agustus, cuaca terasa sangat panas. Aku memilih naik kereta yang berangkat pukul 4:20 sore dan berencana untuk turun di stasiun tidak jauh dari tempat tinggal temanku. Kereta itu bertujuan ke Aomori. Begitu aku tiba di Stasiun Ueno, segerombolan orang terlihat mengerumuni pintu gerbang tempat penjualan tiket. Aku pun segera bergabung dengan mereka.

Ketika bel berdentang, pintu gerbang itu langsung dibuka dari dalam. Suara alat pembolong tiket mulai mengisi ruangan, berdecak tanpa henti. Orang-orang meringis seraya menarik koper-koper mereka yang terhimpit di antara pagar; dan sejumlah orang terdorong keluar dari gerombolan antrian panik berusaha untuk menyeruak masuk kembali ke dalam gerombolan yang sama; namun tidak sedikit yang menghalang-halangi mereka — ini bukan hal yang aneh di tengah keramaian stasiun kereta.

Seorang polisi yang berdiri di belakang si penjual tiket mengamati masing-masing pembeli dengan tatapan kesal. Dan mereka yang berhasil membeli tiket bergegas ke arah peron dengan langkah kecil nan cepat. Seraya mengabaikan panggilan para portir yang berbunyi: “Banyak kursi kosong di gerbong depan, banyak kursi kosong di gerbong depan”, para penumpang justru mengerumuni gerbong-gerbong terdekat. Dengan tujuan menduduki gerbong terdepan kereta, aku buru-buru melewati kerumunan penumpang yang saling berdesakkan.

Seperti yang kuduga, gerbong-gerbong di bagian depan kereta nyaris kosong melompong. Aku menumpangi kompartemen terakhir di gerbong paling depan. Orang-orang yang gagal mendapatkan tempat duduk di gerbong-gerbong belakang segera menyusul ke gerbong yang sama. Namun, hanya ada tempat untuk sebagian dari mereka saja. Waktu berangkat hampir tiba. Baik di gerbong depan maupun belakang, terdengar suara pintu-pintu yang tergeser menutup, dibarengi oleh bunyi klik yang menandai bahwa pintu-pintu itu telah tertutup rapat. Seorang portir, yang baru saja hendak menutup pintu kompartemen yang kutumpangi, mengangkat tangannya di udara.

“Di sini, nyonya. Sebelah sini.” Ia menarik pintu itu hingga terbuka lagi dan menunggu. Seorang wanita berambut tipis dan berkulit pucat, yang usianya kira-kira sekitar dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun, dengan seorang bayi di punggung, dan sebelah tangan memegang seorang bocah laki-laki, masuk ke dalam kompartemenku. Kereta yang kami tumpangi mulai bergerak.

Wanita itu duduk di sisi yang agak jauh, di dekat jendela, di mana matahari sore sedang memancarkan cahaya temaram. Hanya itu satu-satunya kursi kosong yang tersisa.

“Ibu. Minggir.” Bocah laki-laki itu berusia tujuh tahun, dan ia mengerutkan dahi ketika ia berbicara kepada wanita tersebut.

“Di sini panas.” Wanita itu berkata dengan nada lemah, seraya menurunkan bayinya dari balik punggung.

“Aku suka udara panas.”

“Bila kau duduk dekat sinar matahari, nanti pakaian dalam yang kau kenakan akan terasa gatal.”

“Terus kenapa?” Bocah itu menatap ibunya dengan mata mendelik, seraya menunjukkan ekspresi menantang.

“Taki.” Sang ibu mendekatkan wajahnya dengan wajah bocah tersebut. “Perjalanan kita masih jauh. Kalau pakaian dalam yang kau kenakan terasa gatal, Ibu tidak tahu harus bagaimana. Ibu akan sangat sedih. Kau adalah anak yang baik. Tolong dengarkan nasihat Ibu. Nanti sebentar lagi pasti akan tersedia kursi yang tidak terkena sinar matahari. Begitu kursi itu tersedia, kau akan duduk di sana. Kau mengerti?”

“Kepalaku pening sekali,” tutur si bocah, memaksa agar keinginannya dikabulkan. Ibunya menunjukkan ekspresi sedih.

“Ibu tidak tahu harus bagaimana.”

Tiba-tiba aku angkat suara:

“Duduk di sini saja.” Aku menggeser posisi dudukku agar merapat ke jendela. “Di sini tidak terkena sinar matahari.”

Bocah itu melempar tatapan kurang bersahabat ke arahku. Dasar bocah pucat berkepala datar, umpatku dalam hati. Ia membuatku merinding. Hidung dan telinganya sama-sama tersumpal kapas.

“Oh, Anda baik sekali.” Seutas senyum tergurat di wajah sang ibu yang tadinya sedih, kemudian dengan sebelah tangan ia menyentuh punggung si bocah, seolah hendak mendorongnya ke dekatku. “Taki, ucapkan terima kasih. Duduklah di tempat yang disediakan Tuan ini.”

“Ayo.” Kugamit tangan bocah itu dan membimbingnya agar duduk di sampingku. Dengan ekspresi aneh, bocah tersebut sesekali memandangiku, namun setelah beberapa saat berlalu, pandangannya beralih ke pemandangan di luar jendela kereta.

“Coba, jangan alihkan pandanganmu dari sana. Takutnya nanti ada debu yang melayang ke matamu.”

Bahkan saat aku mengatakan itu, si bocah tidak menjawab. Waktu berlalu, dan kami tiba di Uruwa. Di sini, dua orang yang duduk di hadapanku turun dari kereta. Sang ibu menempati kursi mereka lengkap bersama tas kopernya. Aku menyebutnya “koper”, meski nyatanya yang dibawa wanita itu tak lebih dari sekadar tas kain yang biasa diselempangkan di pundak, sekaligus selembar selendang.

“Ayo, Taki, duduk di dekat Ibu. Terima kasih banyak, Tuan.” Wanita itu menundukkan kepalanya dengan sopan ke arahku. Bayi yang sedari tadi tertidur karena diayun oleh pergerakan kereta, kini terbangun dan mulai menangis.

“Sudah, sudah, jangan menangis.” Sang ibu kini mengayun bayinya di atas pangkuan, seraya berusaha menenangkannya. “Chi-chi-ka, chi-chi-ka.” Sayangnya, tangisan bayi itu malah semakin jadi. Ia terbaring telentang di atas pangkuan ibunya. “Oh, sudah, sudah, jangan menangis,” sang ibu mengulang perkataannya, lalu: “Ibu punya sesuatu yang lezat untukmu.”

Dengan satu tangan, wanita itu mengambil sebentuk permen buah dari dalam tas kain miliknya. Tapi itu tidak cukup untuk menenangkan sang bayi. Di sampingnya, si bocah, dengan wajah kesal, bertanya:

“Ibu. Bagaimana denganku?”

“Ambil saja satu untuk dirimu sendiri.” Seraya membuka balutan kimono yang ia kenakan, wanita itu mulai menyusui bayinya. Diambilnya selembar sapu tangan sutra yang sudah sedikit bernoda dari balik obi yang mengikat pinggangnya, lalu ia gunakan sapu tangan tersebut untuk menutupi buah dadanya.

Si bocah memasukkan sebelah tangan ke dalam tas kain milik ibunya dan mulai merogoh-rogoh isinya.

“Hey. Ini bukan permen yang aku mau.” Bocah itu menggeleng.

“Masa? Permen apa yang kau mau?”

“Permen kristal.”

“Ibu tidak membawa permen kristal.”

“Payah! Payah sekali kalau Ibu tidak membawa permen kristal,” gerutu si bocah dengan napas memburu.

“Masih ada permen lain di dalam tas Ibu. Ambil saja. Jangan nakal. Permen lainnya juga enak, kok.”

Bocah itu mengangguk malas. Kini giliran sang ibu untuk merogoh kembali ke dalam tas kain. Wanita itu mengeluarkan empat butir permen dan menempatkannya di telapak tangan bocah tersebut.

“Mau lagi.” Sang ibu pun menambahkan dua butir permen.

Kenyang minum susu, bayi di atas pangkuan wanita itu mulai bermain-main dengan sisir berbentuk kulit kerang dan berwarna hitam yang terjatuh dari helaian rambut sang ibu. Namun, tak lama kemudian, bayi tersebut berusaha memasukkan sisir tadi ke dalam mulutnya sendiri.

“Jangan begitu.” Sang ibu menahan tangan bayinya, dan bayi itu menoleh ke arah tangan yang tertahan dengan mulut terbuka lebar. Dua gigi berukuran mini dan berwarna putih susu terlihat jelas di bagian gusi bawah.

“Ya. Anak baik…” bujuk sang ibu dengan suara melantun, seraya memegangi sebutir permen buah yang terjatuh ke atas pangkuannya, tepat di hadapan wajah sang bayi. Bayi itu, yang sedari tadi sibuk mengulum suara “aa, aa,” pelan-pelan menatap butiran permen buah dengan mata jereng. Ia melepas sisir dari tangan mungilnya yang buntat, kemudian dengan tangan yang sama ia menggenggam butiran permen buah. Lalu, sambil memegang butiran permen, bayi itu berusaha menjejalkan tangannya sendiri ke dalam mulut. Tetesan air liur menggantung dari bibirnya.

Dengan posisi berbaring yang agak miring, wanita itu mengecek selangkangan sang bayi. Nampaknya agak basah.

“Aku harus mengganti popoknya,” kata sang ibu, seolah kepada dirinya sendiri. Lalu, kepada bocah lelaki di sampingnya:

“Taki. Biar Ibu duduk di tempatmu sebentar. Ibu harus mengganti popok adikmu.”

“Oh, tidak! Aku tidak suka kalau begitu caranya, Ibu.” Dengan bibir cemberut, bocah itu bangkit dari duduknya.

“Duduk sini saja.” Sekali lagi, aku memberikan ruang yang sebelumnya diduduki bocah tersebut.

“Anda baik sekali, Tuan. Bocah ini memang suka nakal. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau dia sedang berulah seperti ini.” Wanita itu melempar seutas senyum lemah, seolah dia lelah menangani bocah itu seorang diri.

“Mungkin itu disebabkan oleh hidung dan telinganya.”

“Permisi.” Seraya membalikkan tubuh, wanita itu mengambil sebentuk popok kering dan beberapa lembar kertas minyak untuk membungkus popok yang kotor.

“Memang iya,” ujar wanita itu.

“Sejak kapan dia bermasalah dengan hidung dan telinganya?”

“Sejak lahir. Kata dokter, hal itu disebabkan oleh kebiasaan minum-minum ayahnya; tapi saya penasaran apa kelakuannya disebabkan oleh sesuatu yang tidak beres di kepalanya.”

Sang bayi, dengan kepala yang tersandar di atas kursi, menatap ke langit-langit kompartemen tanpa melihat apa-apa. Sambil melambai-lambaikan kedua tangan, ia bersuara. “Aa, aaa.” Wanita itu bergegas mengganti popok bayinya dan menyimpan popok yang kotor, lantas ia menggendong bayi tersebut dalam pelukannya.

“Terima kasih banyak… Taki, kemarilah.”

“Tidak apa. Kau bisa tetap duduk di sini,” kataku. Namun bocah itu segera bangkit berdiri tanpa mengucapkan apa-apa. Begitu ia mengambil tempat di hadapanku, bocah itu menyandarkan kepala ke jendela kereta dan menatap keluar.

“Oh, tidak sopan sekali.” Wanita itu meminta maaf kepadaku, dengan nada sedikit mengasihaniku.

Setelah beberapa saat berlalu, aku bertanya: “Di mana kalian akan turun?”

“Hokkaido. Ke sebuah tempat yang bernama Abashiri. Saya dikabari bahwa tempatnya sangat jauh dan sulit dijangkau.”

“Di distrik apa?”

“Kitami.”

“Itu memang jauh sekali. Setidaknya lima hari lagi baru sampai di sana.”

“Kata orang bahkan kalau kami mengambil jalan pintas, perjalanan itu akan memakan waktu seminggu.”

Kereta yang kami tumpangi kini melenggang keluar dari Mamada. Dari kedalaman hutan yang mengelilingi rel kereta, kicauan jangkrik terdengar sungguh keras. Matahari telah terbenam. Para penumpang yang duduk menghadap ke sisi barat kereta segera menaikkan tirai penghalang sinar matahari. Udara sejuk berembus masuk. Helai rambut si bayi yang halus dan pendek bergetar ditiup angin. Ia terlelap di dalam pelukan ibunya. Dua atau tiga ekor lalat beterbangan di dekat mulut si bayi yang agak terbuka. Wanita itu, yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, sesekali menghalau lalat-lalat tersebut dengan kibasan sapu tangan. Tidak lama setelah itu, ia membereskan barang-barangnya, dan membaringkan si bayi yang terlelap.

Kemudian wanita itu mengambil dua atau tiga lembar kartu pos, beserta sebatang pensil, dari dalam tas kainnya. Ia mulai menulis. Hanya saja, ia tidak bisa menulis banyak.

“Ibu.” Bocah yang kini lelah memandangi pemandangan di luar kereta kembali angkat suara. Ia terlihat mengantuk.

“Apa lagi?”

“Apa masih jauh?”

“Ya, masih jauh sekali. Jika kau mengantuk, bersandarlah pada Ibu dan tidurlah.”

“Aku tidak mengantuk.”

“Kalau begitu bacalah buku bergambarmu.”

Bocah itu mengangguk pelan. Dari dalam tas kainnya, sang ibu mengeluarkan empat atau lima buku dan majalah. Dengan patuh, bocah tersebut mulai membolak-balik halaman-halaman buku dan majalah itu. Aku bersandar di tempat dudukku dan sambil menatap sepasang ibu dan anak tersebut, yang satu memandangi halaman buku, dan yang lain sibuk menulis di atas lembaran kartu pos, aku tersadar bahwa keduanya memiliki bentuk mata yang sama.

Hal seperti ini mengejutkanku—misalnya saat berada di dalam angkutan umum, aku memandangi seorang anak yang duduk bersama kedua orangtuanya—bagaimana dalam wajah seorang anak kecil, ciri-ciri dua orang yang begitu berbeda satu dengan lainnya, dari sisi si wanita, maupun si lelaki, bisa hadir begitu harmonis, menyatu. Pertama, aku akan mengamati bahwa si anak dan ibunya sungguh mirip antara satu dengan yang lain. Lantas, mengamati si anak dan ayahnya, mereka juga sungguh mirip antara satu dengan yang lain. Kemudian, saat aku mengamati si ibu dan ayah, aku menemui betapa aneh bahwa keduanya sama sekali tidak memiliki kemiripan antara satu dengan yang lain.

Mengingat hal tersebut, aku jadi membayangkan diriku sebagai ayah dari bocah di hadapanku itu. Dan aku juga membayangkan seperti apa kehidupannya sekarang.

Dari pengamatanku terhadap bocah itu, dan daya imajinasiku yang simpang-siur, aku dengan mudah dapat membayangkan wajah dan penampilan suami wanita tersebut. Di sekolah tempatku menuntut ilmu dulu, ada seorang pemuda berdarah bangsawan, Magaki, yang tidak terlalu jauh di atasku tingkat pendidikannya, namun terpisah dariku sekitar lima, enam tahun. Aku teringat akan pemuda itu. Ia juga seorang peminum berat. Ketika dia sedang mabuk, bicaranya selalu tinggi. Pemuda itu bertubuh besar, berwajah pucat dan berhidung mancung, namun ia tidak penah belajar. Setelah gagal lulus ujian sebanyak dua atau tiga kali, ia berhenti sekolah atas kemauannya sendiri. Tidak lama setelah perang antara Rusia dan Jepang berakhir, aku melihat namanya tertera di koran sebagai presiden sebuah perusahaan yang bernama Perusahaan Saham Gabungan Joshy Hemp. Tapi setelah itu, aku tak tahu lagi bagaimana kabarnya.

Karena mendadak teringat akan Magaki, aku penasaran apakah suami wanita di hadapanku itu serupa dengan pemuda yang ada dalam ingatanku. Namun Magaki adalah seorang pembual. Dia bukan orang yang sulit mencari teman. Bahkan bisa dibilang bahwa dia adalah orang yang ramah dengan selera humor yang lumayan. Meski, tentunya, sifat semacam itu tidak sepenuhnya bisa diandalkan. Bahkan orang yang paling ramah sekalipun, setelah melalui serangkaian kegagalan, bisa berubah jadi orang yang sulit diajak hidup bersama. Dia bisa jadi pemurung. Dan dia bisa jadi lelaki yang cenderung melampiaskan kekesalannya terhadap seorang istri yang lemah, dan rumah tangga yang berantakan.

Apa tidak mungkin ayah bocah itu berperilaku sama?

Wanita itu mengenakan kimono musim panas, yang meskipun sudah terlihat tua, namun terbuat dari bahan sutra tipis dengan tali obi berwarna biru-keabuan. Dari kimono yang ia kenakan, aku bisa membayangkan bentuk tubuh wanita itu yang pastinya sangat menggoda saat muda dulu, saat dia baru menikah. Aku juga bisa membayangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya setelah itu.

Kereta yang kami tumpangi terus melaju cepat, melewati Oyama, melewati Koganei, melewati Ishibashi. Di luar jendela, pemandangan yang terbentang mulai terlihat gelap.

Ketika wanita itu selesai menulis di atas dua lembar kartu pos, si bocah berkata:

“Ibu. Aku harus ke belakang.” Di gerbong ini tak ada toilet.

“Apa kau tak bisa menahannya sebentar lagi?” tanya sang ibu, bingung. Bocah itu mengernyitkan dahinya, lalu menangguk.

Sambil meletakkan sebelah lengan di pundak bocah itu, wanita tersebut menatap berkeliling, namun tidak tahu harus melakukan apa.

“Sebentar lagi, ya?” kata wanita itu untuk menenangkan si bocah. Tetapi bocah itu berkata bahwa dia tidak tahan lagi. Tubuhnya gemetar.

Sesaat kemudian, kereta yang kami tumpangi tiba di Sunomiya. Wanita itu berbicara dengan masinis kereta, tapi sang masinis berkata bahwa tak ada cukup waktu perhentian di stasiun ini untuk pergi ke toilet. Maka mereka harus menunggu sampai tiba di stasiun berikutnya. Stasiun yang dimaksud adalah Utsunomiya, di mana kereta yang kami tumpangi akan berhenti selama delapan menit.

Sampai kereta itu tiba di Utsunomiya, wanita itu pasti kebingungan setengah mati. Sang bayi, yang sedari tadi tertidur, tiba-tiba kembali terbangun. Wanita itu buru-buru menyodorkan payudaranya, seraya mengulang kalimat yang sama:

“Sebentar lagi, sebentar lagi.” Aku tersadar bahwa apabila wanita ini tidak mati di tangan suaminya, dia akan mati di tangan bocah itu.

Dengan deru hampa, kereta yang kami tumpangi memasuki stasiun tepat di samping peron. Sebelum kereta itu berhenti, bocah di hadapanku melipat tubunya ke depan sambil memegangi perut. “Ayo, ayo cepat!”

“Kita turun sekarang,” ujar sang ibu, seraya meletakkan bayinya di atas kursi duduk dan mendekatkan wajahnya di dekat wajah sang bayi. “Jangan nakal, dan tunggu kami kembali dengan sabar.” Dengan itu, wanita tersebut menoleh ke arahku. “Saya minta maaf karena telah merepotkan Anda, boleh saya titip bayi ini sebentar?”

“Tentu saja,” jawabku.

Kereta itu akhirnya berhenti total. Aku buru-buru membukakan pintu. Bocah tersebut melompat keluar, ke atas peron.

“Jangan nakal, ya.” Namun sang bayi, begitu ibunya baru saja hendak beranjak pergi, merentangkan tangan ke arah punggung wanita itu dan berteriak sekencang-kencangnya seolah ia baru saja disulut api.

“Ya ampun.” Sang ibu terlihat ragu sesaat, lantas ia meraih tali obi yang mungil dan terbuat dari sutra Hakata dari dalam tas kain. Dililitnya tali obi di bawah lengan si bayi, kemudian diangkatnya bayi itu agar bersandar di balik punggungnya. Lalu wanita itu mengambil selembar sapu tangan katun dan meletakkannya di tengkuk lehernya sendiri. Dengan gesit wanita itu mengikat tali obi yang melilit tubuh bayinya, lalu ia menyelempangkan bayi tersebut di sisi tubuhnya sebelum beranjak turun dari kereta, ke atas peron. Aku ikut turun di belakangnya, dan berkata:

“Ini perhentian saya.”

“Oh…begitu?” Meski ia tampak terkejut, namun wanita itu segera menundukkan kepalanya secara formal.

“Terima kasih atas segala bantuan Anda.”

Kami berjalan beriringan melewati kerumunan penumpang di atas peron.

“Maaf, bolehkah saya menitipkan kartu pos ini kepada Anda?” Seraya bertanya, wanita itu merogoh ke dalam bagian depan kimono yang ia kenakan, berusaha mengambil lembaran-lembaran kartu pos yang disimpanya di sana. Hanya saja, tali obi yang terselempang di dadanya menyulitkan gerak tangannya. Akhirnya dia berhenti.

“Ibu. Ada apa?” Bocah itu membalikkan tubuhnya dan berbicara kepada wanita tersebut dengan nada kesal.

“Tunggu sebentar.” Dengan dagu tertunduk, wanita itu berusaha untuk melonggarkan bagian depan kimono yang ia kenakan. Telinganya berangsur memerah gara-gara tekanan tangannya di depan dada. Lalu, aku melihat betapa sapu tangannya, yang renyuk karena gesekan tali obi, telah turun ke pundaknya. Tanpa berkata-kata, aku melarikan sebelah tangan ke pundak wanita itu untuk meratakan sapu tangan tersebut. Wanita itu terkejut dan mengangkat wajahnya.

“Sapu tangan Anda kusut, jadi saya …” Kurasakan pipiku memanas.

“Maaf. Silakan,” kata wanita itu. Aku meratakan sapu tangannya, namun wanita itu hanya berdiri dalam diam.

Ketika aku menarik tanganku dari pundaknya, lidahku terasa kelu. Dan wanita itu kembali angkat suara: “Saya sungguh minta maaf.”

Di sana, di atas peron, tanpa menanyakan nama satu sama lain, kami berpisah.

Aku melangkah ke pintu masuk stasiun seraya menjinjing dua lembar kartu pos. Ada sebentuk kotak surat yang terpasang pada dinding stasiun. Aku merasakan keinginan untuk membaca tulisan yang tertera pada sepasang kartu pos itu. Aku juga merasa bahwa tak ada salahnya bagiku untuk melakukan hal tersebut.

Aku terdiam, ragu-ragu; tapi ketika aku tiba di depan kotak surat itu, aku menjatuhkan kedua kartu pos ke dalamnya dengan sisi yang bertuliskan alamat penerima menghadap ke atas. Begitu aku menjatuhkan kartu-kartu pos itu ke dalam kotak surat, aku ingin mengambilnya lagi. Aku sempat mengintip alamat yang tertera di atas kartu pos. Keduanya ditujukan ke Tokyo. Yang satu mencantumkan nama seorang wanita, yang lain mencantumkan nama seorang laki-laki. FL

sumber

esai, sastra

Patriotisme Setengah Hati

Hasil gambar untuk Chitra Divakaruni

Chitra Divakaruni

(diterjemahkan oleh Jessica Huwae)

Aku bukan tipe orang yang suka menempelkan stiker. Bemper mobilku pada dasarnya polos, tidak ada pernak-pernik imut menggantung di kaca spion; dan kaus-kaus yang kukenakan juga selalu berwarna polos tanpa logo ataupun kutipan-kutipan humor di atasnya.

Aku menganggap aneh tetanggaku yang menggantung papan tanda dengan dekorasi tupai (tupai?!) di rumahnya, menyatakan “Keluarga Waterfords Tinggal di Sini.” Kuakui, sekali, karena desakan keluarga, aku pernah menempel spanduk di kaca belakang mobil untuk menyatakan bahwa anakku mendapatkan gelar kehormatan di Sekolah Dasar West View. Tapi aku memasangnya asal saja, di bagian luar, dengan selotip berkualitas jelek — dan tentu saja aku lega ketika angin meniupnya hingga lepas.

Aku punya anggapan kuno bahwa kehidupan pribadi seharusnya tetap berada di ranah yang personal. Bahwa nilai-nilai dan keyakinan diri seharusnya dijalani, bukan dipamerkan.

Akan tetapi setelah serangan teroris 11 September, aku mendapati diriku memasang bendera kebangsaan Amerika di depan rumahku, sama seperti yang dilakukan tetangga-tetanggaku lainnya — keluarga Waterfords, Chan dan Siddiqi.

Aku melakukan hal itu untuk pertama kali, dan sama sekali tak menyangka akan begitu tersentuh olehnya. Memegang bendera merah, putih dan biru berbentuk persegi panjang itu di tanganku membuatku menyadari bagaimana Amerika — negara yang kudatangi sebagai gadis imigran berusia 19 tahun dari India — begitu berarti bagiku. Bagaimana selama bertahun-tahun nilai-nilai yang dipegang negara ini — kebebasan, kesetaraan, keadilan, toleransi, upaya mengejar kebahagiaan untuk semua — telah meresap ke dalam diriku dan membentuk jati diriku. Bagaimana aku dipersiapkan untuk berjuang, dengan caraku yang sunyi, untuk menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Aku bayangkan ada begitu banyak warga imigran yang tersebar di seluruh penjuru negeri tengah melakukan hal serupa, memasang bendera kebangsaan Amerika Serikat tinggi-tinggi guna menunjukkan kecintaan kami terhadap negara ini, juga kedukaan kami terhadap mereka yang nyawanya habis diberangus teror. Secara tak langsung, para korban itu adalah saudara kami juga — dan oleh sebab itu aku terhenyak sesaat oleh rasa kebersamaan yang begitu kuat dan langka.

Namun, di balik rasa patriotik yang intens dan tulus itu, terdapat juga perasaan gamang. Aku melihat betapa sejak kejadian 11 September ada perlawanan terhadap mereka yang tampil dengan ciri-ciri seorang Muslim atau berparas ke-Timur-Tengahan. Warga asal dan keturunan Asia Selatan sepertiku juga telah jadi sasaran kebencian dan diskriminasi SARA. Tak sedikit kaum Sikh yang dipukuli atau bahkan ditembak mati hanya gara-gara mengenakan turban atau tampil dengan wajah berjanggut; sementara para wanita berkerudung acapkali dituding sebagai istri-istri para teroris; dan para pengusaha dalam setelan jas dan dasi sering diminta turun dari pesawat karena warna kulit mereka membuat kru pesawat was-was.

Belum lama ini, di luar sebuah toko kelontong tak jauh dari tempat tinggalku, seorang pria meneriaku dan anak-anakku, menggunakan kata-kata ofensif yang tak akan aku ulangi: “Dasar Ay-rab, pulang sana ke negaramu!”

Komunitas kami telah mengambil langkah-langkah pencegahan. Para pemimpin komunitas menyarankan kami untuk tidak mengenakan pakaian etnis, tidak keluar pada malam hari, dan tidak bepergian seorang diri.

Secarik email juga diedarkan, menginstruksikan kami bahwa respons terbaik saat kami merasa diserang adalah dengan mengangkat dua jari di udara seraya membentuk simbol damai, lalu berseru, “Tuhan memberkati Amerika!”

Email yang sama juga menyarankan kami untuk memasang bendera kenegaraan (lebih besar dan mahal lebih baik) di rumah, di tempat usaha dan di mobil keluarga: “untuk menunujukkan pada orang Amerika bahwa kalian berada di pihak mereka.”

Orang Amerika? Tidak salah? Aku adalah orang Amerika! Aku pikir kami berada di sisi yang sama.

Bendera yang kupasang (berukuran kecil dan tidak mahal) bukanlah merupakan respons dari surat eletronik tersebut. Tapi tetap saja, begitu aku memasang bendera, aku dihajar oleh kenyataan bahwa tak peduli selama apapun aku — atau anak-anakku yang lahir di California — tinggal di negara ini, setiap ada konflik besar dengan bangsa lain, maka kami akan selalu kena batunya.

Kasus yang sama juga terjadi ketika krisis tawanan Iran meluap di media. Lagi, saat terjadi perang di Teluk Persia. Beberapa sahabatku, warga Amerika keturunan Jepang, dengan pahit mengingat periode saat sanak-saudara mereka ditahan di kamp konsentrasi; sementara sahabatku yang merupakan warga Amerika keturunan Cina juga mengingat perdebatan soal pesawat pengintai yang terjadi baru-baru ini. Dan terlepas dari kapan hal itu terjadi, kami — orang Amerika yang tidak terlihat seperti orang Amerika — harus menanggung beban untuk membuktikan patriotisme kami. Atau akan ada konsekuensinya.

Saat aku menaikkan bendera, aku bertanya-tanya apakah tindakanku ini dimotivasi oleh ancaman “konsekuensi” tersebut. Aku bertanya-tanya apakah bendera yang kupasang sama saja seperti tanda yang dipasang orang-orang Yahudi di rumah mereka pada era Musa untuk meluputkan mereka dari Malaikat Kegelapan. Karena pada saat ini para pengikut Malaikat Kegelapan itu ada di antara kita. Aku lihat sendiri bagaimana mereka mengaum lantang sambil menyusuri jalan-jalan perumahan tempat tinggal kami yang rata-rata didiami oleh warga keturunan.

Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda yang menumpangi truk terbuka, bukan warga lingkungan kami, dengan wajah-wajah asing. Mereka menglakson dan berteriak lantang seraya membanting setir ke arah trotoar setiap mereka melihat orang-orang yang penampilannya tidak mereka sukai. Bagian belakang mobil mereka ditempeli stiker-stiker bertuliskan “Bokong Bin Laden Adalah Milik Kami”. Dan tersangkut di pucuk antena radio kendaraan mereka ada bendera Amerika Serikat yang berkibar gagah seolah mengiringi aksi mereka secara patriotik.

Apakah mereka penyebab para tetangga Afganistan-ku — wanita-wanita berjilbab yang dulu secara malu-malu sering melambai ke arahku saat kami mengantar anak-anak kami ke sekolah — sudah berminggu-minggu tidak terlihat di luar rumah? Penyebab salah satu dari suami-suami mereka menjemput dan menggiring semua anak-anak keturunan Afghanistan di sekitar lingkungan tempat tinggal kami ke dalam mobil van, lalu mengantar mereka ke sekolah tepat sebelum bel pelajaran berbunyi?

Ketika aku menaikkan bendera, aku mendapati sedikit pergerakan di jendela rumah yang berseberangan dengan rumahku. Seseorang sedang memerhatikanku dari sela tirainya. Mungkin itu Nadia, wanita yang tinggal di rumah itu. Aku penasaran apa yang dia pikirkan mengenai aksiku ini, apakah hal ini membuatnya khawatir? Apakah dalam pikirannya, bendera yang kupasang menghubungkanku dengan para pemilik bendera lainnya, orang-orang yang bertekun menjunjung hidup ala Amerika?

Aku turun dan menatap benderaku. Di luar semua keraguanku, bendera itu berkibar dengan indahnya. Dan aku bangga bahwa kita memiliki satu sama lain. Aku berpikir untuk membiarkannya tetap terpasang di sana sampai krisis ini selesai (semoga segera dan dengan cara sedamai mungkin). Aku akan membiarkannya terus terpasang sebagai pengingat bahwa ada berbagai jenis orang Amerika yang tinggal di negara ini — dan kita harus menyediakan tempat bagi siapa saja di bawah bendera kita. Bahwa warna kulit tidaklah menentukan patriotisme — atau kurangnya patriotisme. Dan terlebih, kita tidak akan pernah bisa dengan sungguh-sungguh mencintai negara kita, tanpa mencintai sesama warga negara kita — pria dan wanita. Semuanya. FL

sumber

esai, sastra, Tak Berkategori

Kebebasan Menulis

Hasil gambar untuk orhan pamuk

Orhan Pamuk

(diterjemahkan oleh Maureen Freely)

Pada bulan Maret tahun 1985 Arthur Miller* dan Harold Pinter** sama-sama mengunjungi Istanbul. Di masa itu, mereka adalah dua nama terbesar di dunia teater, namun sayangnya, kunjungan mereka ke Istanbul tidak ada sangkut-pautnya dengan drama teater ataupun acara kesusastraan, melainkan keterbatasan yang tanpa ampun terhadap kebebasan berekspresi di Turki. Banyak sekali penulis yang dijebloskan ke penjara karena tulisan mereka waktu itu.

Peristiwa kudeta yang terjadi di Turki pada tahun 1980 menyebabkan ratusan ribu orang dijebloskan ke penjara; dan, seperti biasa, penulis jadi sasaran paling empuk. Setiap kali saya menilik artikel-artikel lawas dari berbagai surat kabar, serta kalender dari masa itu, saya seolah mengingatkan diri sendiri tentang apa yang terjadi saat itu—dan bayangan yang terlintas di kepala saya, lumrahnya, adalah suatu adegan yang menjadi ciri utama era tersebut: para lelaki duduk berjajar di ruang pengadilan, dikapit para gendarme (polisi), dengan kepala plontos dan dahi berkerut sementara kasus mereka terus diproses… Di antara kumpulan lelaki itu ada banyak sekali penulis, dan tujuan kunjungan Arthur dan Harold adalah untuk menemui mereka serta keluarga mereka, juga untuk menawarkan bantuan. Lebih dari itu, arti kunjungan mereka adalah untuk mengangkat kasus ketidakadilan yang dialami para penulis Turki agar semua orang di dunia tahu.

Perjalanan kedua penulis tersohor tersebut diatur dan didanai oleh dua institusi besar yang mendukung kebebasan berekspresi di seluruh dunia: PEN dan Helsinki Watch Committee***. Saya berangkat ke bandara untuk menemui mereka, karena seorang teman saya dan saya telah ditunjuk untuk jadi pemandu mereka.

Penunjukkan saya sebagai pemandu para penulis tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan kiprah saya di dunia politik saat itu, melainkan karena saya adalah seorang novelis yang mahir berbahasa Inggris; dan saya dengan senang hati menerima penugasan tersebut. Pertama, saya bisa membantu teman-teman sesama penulis yang sedang berkesusahan; kedua, saya bisa menghabiskan waktu selama beberapa hari bersama dua penulis hebat.

Akhirnya, kami berempat pergi mengunjungi beberapa rumah penerbitan yang berskala kecil dan masih berjuang untuk bertahan; ruang-ruang redaksi surat kabar yang berantakan; serta kantor-kantor majalah lokal yang berdebu, gelap dan nampaknya berada di ambang kebangkrutan. Kami juga berkunjung dari satu rumah penduduk ke rumah penduduk lainnya; selain itu, kami pun menghampiri beberapa restoran—semua ini guna menemui para penulis yang tengah ditargetkan pemerintah Turki beserta keluarga mereka.

Sebelumnya, sudah cukup bagi saya untuk berdiri di pinggiran lingkar politik, menolak untuk masuk kecuali dipaksa; tapi sekarang, setelah saya mendengar sendiri kisah-kisah pilu tentang penindasan, kekejaman dan kejahatan yang dilakukan aparat negara terhadap para penulis Turki, saya merasa tertarik ke dalam lingkaran yang sama karena rasa bersalah yang tak terbendung. Selain rasa bersalah, saya juga merasakan efek solidaritas, meski pada saat bersamaan, saya merasakan hasrat yang sama besarnya untuk melindungi diri saya sendiri dari semua ini. Keinginan utama saya hanyalah untuk menulis novel-novel indah seumur hidup saya.

Kami mengajak Arthur dan Harold naik taksi dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, melewati lalu-lintas kota Istanbul, dan saya ingat bagaimana kami membahas perihal para pedagang asongan di tengah kota. Kami juga membahas soal kereta kuda, poster bioskop, dan para wanita Turki yang tak bercadar serta tak berjilbab dan selalu membuat para wisatawan dari negara-negara Barat tercengang takjub. Namun ada satu adegan yang sangat jelas dalam ingatan saya: di ujung sebuah koridor panjang di hotel Istanbul Hilton, teman saya dan saya tengah berbisik seru, sementara di ujung lain koridor yang sama, Arthur dan Harold tengah berbisik juga di antara bayang-bayang gelap, dengan keseruan yang sama. Adegan ini terus terukir dalam pikiran saya—mungkin karena ia mewakili jarak yang sangat jauh antara sejarah negara kami yang begitu kompleks, dan sejarah negara mereka yang tak kalah rumit. Tetapi keberadaan kami di koridor yang sama menunjukkan bahwa bentuk solidaritas antar penulis adalah hal yang mungkin dan cukup efektif untuk menumbuhkan secercah harapan bagi para penulis yang tengah menunggu eksekusi.

Saya merasakan beban kebanggaan dan rasa malu yang sama di setiap pertemuan—tiap-tiap ruangan yang kami masuki selalu sarat akan pria-pria bermasalah dan asap rokok yang tak ada habisnya. Saya mengetahui hal ini karena sesekali masalah itu dibuka di depan umum; namun selebihnya saya bisa melihat kegelisahan yang hebat dari gerak-gerik dan ekspresi mereka. Para penulis, pemikir, dan jurnalis yang kami temui di masa itu sebagian besar mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai orang-orang beraliran kiri; maka bisa dikatakan bahwa masalah mereka terkait langsung dengan kebebasan yang diagung-agungkan oleh paham demokrasi liberal dari Barat. Dua puluh tahun kemudian, saat saya menemui separuh dari orang-orang yang saya temui saat itu—atau sekitar itu, saya tidak ingat jumlah pastinya—mereka justru berbalik arah dan membela paham nasionalisme yang berseberangan dengan Pembaratan dan demokrasi. Tentunya, hal ini membuat saya sedih.

Pengalaman saya sebagai pemandu, dan seperti pengalaman lain dalam hidup, mengajarkan saya sesuatu yang sudah kita ketahui dengan baik, tetapi ingin saya tekankan dalam esai ini. Apapun negaramu, kebebasan berpikir dan berekspresi adalah hak asasi manusia. Kebebasan ini, yang diinginkan oleh masyarakat modern sama seperti mereka merindukan roti dan air, tidak seharusnya dibatasi oleh sentimen nasionalis, moralisme, atau—lebih parahnya—kepentingan bisnis dan militer. Bila ada banyak negara di luar wilayah Barat terpaksa menanggung malu karena tingkat kemiskinan yang terus meningkat, itu tidak disebabkan oleh kebebasan bereskpresi, melainkan karena mereka tidak punya kebebasan berekspresi. Sementara mereka yang beremigrasi dari negara-negara miskin tersebut ke negara-negara Barat, atau Utara, demi meninggalkan kesulitan ekonomi dan bentuk penindasan keji—seperti yang kita ketahui, terkadang mereka justru mendapati diri mereka lebih ditindas oleh paham rasisme di negara-negara kaya. Ya, kita juga harus waswas terhadap orang-orang yang merendahkan para imigran dan kaum minoritas dengan alasan agama, akar budaya, atau dengan alasan kejahatan yang telah dilakukan pemerintah negara asal para imigran terhadap orang-orang dari negara-negara kaya tersebut.

Akan tetapi, menghormati kemanusiaan dan paham keagamaan kaum minoritas bukan berarti kita harus membatasi kebebasan berpikir orang yang berseberangan dengan kita, meski pikiran mereka tergolong rasis ataupun tak lazim.

Benar, kita memang harus menghargai hak-hak asasi kaum minoritas, tapi itu bukan artinya kita bisa seenaknya membungkam orang-orang yang tidak setuju dengan cara pikir kita. Sebagai penulis, kita seharusnya tidak meragukan ini. Tak peduli seberapa provokatif pesan yang disampaikan siapapun, kita tidak boleh membungkam orang seenaknya.

Sebagian dari kita memang lebih paham tentang norma-norma Barat, sementara sebagian lain lebih condong terhadap norma-norma Timur; dan masih ada sebagian kecil penulis, seperti saya, yang lebih senang membuka diri dan berada di garis tengah kedua paham tersebut. Namun keterkaitan kita dan hasrat kita untuk mengerti mereka yang berbeda dari kita tidak seharusnya jadi alasan bagi kita untuk membatasi rasa hormat kita terhadap hak-hak asasi manusia.

Saya selalu kesulitan mengekspresikan pandangan saya terhadap dunia politik dengan jelas, kuat dan penuh empati—saya selalu merasa pretensius, seolah apa-apa yang saya ucapkan tidak ada artinya, atau tidak benar. Ini disebabkan oleh kesadaran bahwa saya tidak mungkin mengerucutkan pemikiran saya tentang hidup ke dalam satu corong suara, atau satu sudut pandang—karena toh saya ini seorang novelis, jenis penulis yang selalu dituntut untuk bisa mewujudkan pemikiran tiap-tiap tokohnya, terutama tokoh-tokoh antagonis.

Hidup dalam dunia fiksi, di mana, dalam waktu singkat, seorang korban tirani dan penindasan bisa tiba-tiba berubah jadi seorang tiran dan diktator, saya juga sadar bahwa kepercayaan absolut terhadap proses dan manusia adalah hal yang tidak gampang. Saya juga percaya bahwa sebagian besar dari kita senang memikirkan hal-hal yang kontradiktif secara bersamaan, meski tidak dengan tujuan buruk.

Kesenangan saya untuk menulis novel pada dasarnya datang dari keingintahuan saya terhadap kondisi masyarakat modern yang cenderung senang mengontradiksi buah pikiran mereka sendiri. Justru karena cara pikir kita yang modern ini terlalu mudah bergeser maka kita butuh sekali kebebasan berekspresi: supaya kita paham tentang diri kita sendiri, paham tentang pemikiran kita yang terkadang kontradiktif dan mencurigakan, serta paham tentang rasa bangga dan rasa malu yang kerap hadir melebur jadi satu, yang tadi saya sebut.

Izinkan saya untuk menyampaikan cerita lain yang mungkin bisa menjelaskan konsep rasa bangga dan rasa malu yang saya rasakan dua puluh tahun lalu di saat saya sedang mengajak Arthur dan Harold berkeliling Istanbul. Sepuluh tahun setelah kunjungan mereka, serangkaian kebetulan yang digerakkan oleh itikad baik, amarah, rasa bersalah, dan dendam pribadi menggiring saya untuk menyampaikan serentetan pernyataan kepada publik tentang kebebasan berekspresi yang tak ada hubungannya dengan novel-novel saya. Dalam waktu singkat, peran saya di kancah politik jadi membesar tak terkendali, jauh lebih besar dari yang saya bayangkan sebelumnya. Di saat yang sama, penulis asal India yang menyusun laporan tentang kebebasan berekspresi di Turki untuk keperluan data PBB—seorang pria yang sudah cukup berumur—datang ke Istanbul mencari saya. Anehnya, kami juga berjumpa di Hotel Hilton. Belum lagi kami sempat duduk di meja makan, pria asal India itu melontarkan pertanyaan yang masih terngiang di telinga saya hingga saat ini: “Mr. Pamuk, hal apa saja yang terjadi di negaramu yang ingin kau sampaikan dalam buku-bukumu, namun terpaksa kau undurkan, karena takut dipersekusi?”

Pertanyaan itu disusul oleh kebungkaman yang cukup lama. Tak siap dengan jawaban, saya sibuk berpikir dan berpikir dan berpikir. Akhirnya, saya masuk ke dalam proses tanya-jawab dengan diri sendiri ala-ala Dostoevski. Sudah jelas bahwa apa yang ditanyakan oleh pria dari PBB adalah: “Mengingat segala tabu, larangan hukum dan aturan yang opresif di Turki, apa yang masih belum terucapkan?” Tapi karena dia bertanya kepada seorang penulis muda yang duduk di hadapannya dan—entah kenapa, mungkin karena tidak enak—meminta penulis muda itu untuk menjawab sesuai dengan kapasitasnya sebagai seorang novelis; saya yang belum banyak pengalaman menjawab pertanyaan macam ini pun akhirnya menerima pertanyaannya mentah-mentah. Turki yang saya kenal sepuluh tahun lalu memang sangat ketat terhadap apa-apa yang tidak boleh dibahas di khalayak umum, dan larangan ini dilindungi oleh hukum negara yang sangat opresif. Namun selagi saya menyebut satu-satu bentuk larangan yang dipaksakan kepada para penulis, pemikir dan jurnalis di masa itu, saya sadar bahwa tak ada satu pun yang ingin saya angkat “dalam bentuk novel”. Tapi saya juga sadar bahwa bila saya mengucapkan, “Tak ada yang ingin saya sampaikan dalam bentuk novel yang tak bisa saya bicarakan secara terbuka,” saya pasti memberikan kesan yang salah. Karena saya sudah sering mengangkat isu-isu berbahaya ini di luar novel-novel saya. Lebih dari itu, bukankah saya sudah sering mengangkat dan berfantasi tentang isu-isu ini dalam novel-novel saya justru karena itu dilarang? Selagi saya memikirkan semua itu, saya jadi malu terhadap kebungkaman saya dan mengonfirmasi dalam hati saya bahwa kebebasan berekspresi berakar pada kebanggaan dan karenanya, pada intinya, merupakan bagian besar dari cara kita mengekspresikan harga diri kita.

Saya kenal baik dengan banyak penulis yang sengaja mengangkat topik-topik terlarang justru karena mereka dilarang. Saya juga tak jauh beda dengan mereka. Sebab bila ada seorang penulis yang kebebasannya dikekang dan suaranya dibungkam, di mana pun dia berada, maka itu artinya tak ada penulis yang benar-benar bebas. Inilah semangat yang menguatkan tingkat solidaritas yang dirasakan oleh institusi besar seperti PEN, yang dirasakan semua penulis di dunia.

Sesekali ada saja teman yang akan menasihati saya seperti ini: “Seharusnya jangan menulis seperti itu, tulis saja seperti ini, supaya tidak menyinggung perasaan orang, supaya jauh dari masalah.” Tapi yang tidak mereka mengerti adalah bahwa bila saya mengubah kata-kata dan membungkusnya dengan cara berbeda, yang lebih bisa diterima oleh semua orang dalam kultur penindasan, dan melakukannya dengan baik, maka saya tidak ada bedanya dengan seorang kriminal yang terbiasa menyelundupkan barang-barang berharga tanpa sepengetahuan petugas bea dan cukai—dan hal itu tak hanya akan mengundang malu, tapi juga merendahkan.

Tema festival PEN tahun ini adalah akal budi dan kepercayaan. Saya mengangkat cerita-cerita tadi dalam esai ini untuk mengilustrasikan satu kebenaran—bahwa kenikmatan untuk mengutarakan apa saja yang ingin kita sampaikan sangat erat kaitannya dengan harga diri manusia. Maka mari kita bertanya pada diri sendiri seberapa “masuk akalnya” bagi kita untuk merendahkan budaya dan agama orang lain, atau lebih tepatnya, menghancurkan negara-negara orang, atas nama demokrasi dan kebebasan berpikir. Bagian dunia tempat tinggal saya tidak lantas berubah jadi lebih demokratis setelah semua pembunuhan itu terjadi. Dalam perang melawan Irak, serta segala macam bentuk penindasan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap lebih dari seratus ribu orang—tidak satu pun dari pengorbanan itu yang membawa kedamaian, ataupun demokrasi. Justru sebaliknya, semua peristiwa tersebut telah memicu semangat nasionalis dan amarah anti-Barat. Segala hal yang bersangkutan dengan kaum minoritas dan mereka-mereka yang berupaya menegakkan demokrasi serta memperjuangkan paham sekuler di Timur Tengah jadi jauh lebih sulit. Perang keji dan tak beradab ini adalah malu yang harus ditanggung oleh pihak Amerika dan negara-negara Barat sekutunya. Organisasi seperti PEN dan penulis seperti Harold Pinter dan Arthur Miller adalah sumber kebanggaan. FL

sumber