esai, sastra, Tak Berkategori

SEBAGAI PARTAI ANAK MUDA, HARUSNYA PSI JANGAN KESERINGAN NEGATIVE CAMPAIGN

Membiarkan negative campaign ala PSI berkeliaran, kayak Piala Kebohongan PSI untuk kubu Prabowo—sungguh, itu bukan tugas anak muda, Kisanak.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bikin gebrakan lagi. Setelah bikin agenda kontroversial penghapusan Perda Syariah, kebijakan anti-poligami, dan penganugerahan Piala Kebohongan pada Prabowo, Sandi, dan Andi Arief tempo lalu.

Beberapa waktu lalu Ketua Umum PSI, Grace Natalie mengatakan punya agenda baru untuk kalangan anak muda, yaitu memasukkan profesi Youtuber, Influencer, dan Gamer dalam kolom profesi KTP.

Pidato itu disampaikan Grace dalam Festival 11 di Kota Bandung. Tak hanya bicara soal profesi baru—sebelum itu—Grace juga melayangkan kembali negative campaign tentang hoaks-hoaks Prabowo-Sandi, Capres-Cawapres urut 02, lalu dukungan terhadap Ahok. Tentu dengan kobaran semangat ala anak muda.

“Bro and sist,” ujar Grace, “PSI akan mendorong profesi-profesi baru seperti Youtuber, Influencer, Gamer, dan lain-lain, supaya profesi-profesi baru ini bisa dicantumkam dalam kolom pekerjaan di KTP.”

Saya tidak heran dengan kebijakan “anak muda” ini.  PSI mah memang begitu. Bukan saja karena Grace Natalie lebih cantik dan lebih populer ketimbang Surya Paloh dan Hary Tanoe, PSI memang menarik karena umpannya yang selalu menyasar kaum muda. Dan anak muda memang diprediksi jadi pemilih mayoritas dalam Pemilu nanti.

Unicorn baru dalam perpolitikan Indonesia versi Pak Jokowi ini, memang pakai standar ideal anak muda dalam usulan kebijakannya. Seperti dibangunnya citra PSI sebagai partai yang bakal konsisten memerangi korupsi. Dan karena partai baru, hal itu jadi jualan utama PSI dalam percaturan politik Tanah Air.

Sebagai partai baru dengan ide-ide segar, istilah milenial kemudian diidentikkan dengan PSI. Sebab ketika kata itu muncul, dalam pikiran kita berseliweran bayangan sosok Tsamara Amany, kader muda-cantik-cerdas. Apalagi ketika Tsamara bicara antipoligami, waduh, ramailah publik.

Sementara banyak anak muda progresif (kebanyakan gadis-gadis) seakan mendapat perwakilan suara, lalu jingkrak-jingkrak menyuarakan “stop poligami”.

Nah, sebagai sebagai unicorn dalam partai politik universe, PSI membawa proyek-proyek kekinian. Apa-apa harus anak muda, perspektif kebijakannya pun anak muda. Poinnya dari anak muda untuk kemajuan bangsa.

Hal yang seperti memberi sekat bahwa formula politik sekarang sudah kelewat usang karena keseringan pakai model-model kebijakan zaman old. Progresif dan menentang—seolah-olah—semua pola pikir konservatif.

Masalahnya jadi njelimet ketika anak muda itu merambah pada sesuatu yang kurang elok: negative campaign.

Memang, sih, tidak seperti black campaign, negative campaign masih sah-sah saja. Boleh. Juga tak bermasalah secara hukum. Tapi, kan, katanya anak muda. Masa anak muda lebih suka mencecar kekurangan lawan ketimbang menaikkan grade diri. Memangnya untuk menaikkan grade ala anak muda harus sambil menunjukkan kekurangan lawan dulu sih?

Hal yang malah bikin saya curiga, apa jangan-jangan negative campaign PSI yang agresif itu merupakan wujud ketidakmampuan menaikkan grade lagi ya?

Dengan agenda program yang berkualitas, misalnya. Toh, kita semua tahu, agenda-agenda PSI, meskipun banyak, semua periferal bahkan cenderung remeh temeh. Belum menyasar ke hal-hal yang substantif. Kolom pekerjaan di KTP akan diisi Gamer atau Youtuber misalnya. Ya itu keren juga sih, tapi kan itu belum penting-penting amat untuk diperjuangkan.

Masalahnya, ketidakmampuan mencari tawaran kebijakan yang lebih penting kemudian ditutupi PSI dengan menjatuhkan lawan politiknya. Ya itu mah intrik politik yang sudah lumrah. Bahkan hal itu cenderung cara konservatif yang sudah dilakukan politisi dari zaman old. Cuma gimik-gimiknya aja yang beda.

Kalau pakai cara-cara old juga untuk menaikkan eletabilitas, ya nggak perlu anak muda lah untuk melakukan itu. Politisi lawasan juga sama canggihnya, Bro and Sist.

Meski begitu, bukan berarti saya mau membela Prabowo-Sandi. Toh saya juga bukan timses mereka. Saya hanya fokus pada jargon PSI sebagai partainya anak muda, dan apa yang harusnya dilakukan oleh anak muda itu sendiri.

Saya juga nggak mengritik PSI atas nama ia sebagai partai pendukung Jokowi-Ma’ruf. Tetapi membiarkan negative campaign berkeliaran—sungguh, itu bukan tugas anak muda.

Betul memang, semangat anak muda itu wajib—terutama untuk menjaring suara pemilih. Reformasi ’98 saja juga dilakukan generasi anak muda loh—pada zamannya tentu. Tetapi agenda saat itu benar-benar progresif, seperti kebebasan mengritik dan kebebasan berpendapat.

Namun kalau sudah sampai berencana menghapus identitas agama dalam KTP sampai kebijakan anti-poligami, ya jangan salah kalau kemudian PSI mendapat serangan dari sana-sini. Jiwa muda sih boleh-boleh saja, tapi ya bijak lah dikit.

Soalnya ide-ide progresif tetap membutuhkan ide-ide konservatif. Keduanya nggak bisa berdiri sendiri-sendiri. Baiknya sih kedua kutub ini (kaum progresif dan konservatif) saling mengerti satu sama lain. Bukannya sama-sama mau menang sendiri.

Kalau kata Bang Haji Rhoma Irama, “masa muda, masa yang berapi-api. Yang maunya menang sendiri, walau salah nggak peduli…”

Lha kalau anak mudanya saja suka merasa menang sendiri begitu—dengan meledek senior-senior mereka—lalu bedanya PSI dengan partai-partai politik yang udah senior apa? Masa yang beda cuma gimiknya doang? Pakai piala sampai plakat segala lagi. Caranya aja yang anak muda, esensinya sih ya orang tua.

Ayolah, PSI, jangan politisir kata “anak muda”. Apalagi menciptakan citra bahwa anak muda belakangan ini juga lebih doyan sama negative campaign.

Elektabilitas bertambah, seyogianya didapat dengan kebijakan-kebijakan berkualitas, bukan cuma berhenti menghancurkan lawan politik sekuat-kuatnya. Jika, misalnya, berbicara secara politik sebagai pendukung petahana, ya sudah ngaku aja. Nggak usah bawa-bawa atas nama kesejahteraan umum dong.

Kalau memang betul-betul mengatasnamakan jiwa anak muda yang anti hoaks, intoleransi, dan korupsi, mestinya kubu petahana juga dikritik. Sebab justru merekalah yang memegang tampuk kekuasaan. PSI sebagai partai baru seharusnya memberi tawaran, apa saja yang kurang dari pemerintahan sekarang lalu kasih tawaran ke pemilih.

Ya meski kita juga tahu, hal itu agak nggak mungkin. Kan satu koalisi ya kan?

Berbicara boleh berapi-api, tapi gimik juga seharusnya lebih sopan, biar bisa “ngajarin” para politisi senior juga, bahwa anak muda itu nggak perlu selalu urakan, tapi bisa elegan juga.

Bro and Sist juga harus tahu, bahwa patokan jiwa muda itu bukan cuma perkara umur atau ide saja, tapi juga bagaimana cara menjelaskan ide tersebut. Jika yang dilakukan penyampainnya dengan negative campaign, masyarakat bakal lebih ingat kekurangan lawan ketimbang kekuatan PSI sendiri.

Oke deh, PSI mungkin nggak peduli karena menyasar orang-orang yang sepemikiran, tapi iya kalau orang risih sama cara ledekan politik ala PSI lalu malah milih PDI atau Golkar gimana?

Ya satu koalisi sih, tapi kan Pemilu urusannya bukan cuma Pilpres doang, tapi juga Pileg. Banyak-banyakan kader partai yang bisa masuk ke Senayan.

Ya bakal percuma dong kalau Jokowi akhirnya jadi Presiden, tapi kader PSI yang masuk parlemen cuma beberapa orang? Wah, berat diongkir dong, Sist.

sumber

esai, sastra

Patriotisme Setengah Hati

Hasil gambar untuk Chitra Divakaruni

Chitra Divakaruni

(diterjemahkan oleh Jessica Huwae)

Aku bukan tipe orang yang suka menempelkan stiker. Bemper mobilku pada dasarnya polos, tidak ada pernak-pernik imut menggantung di kaca spion; dan kaus-kaus yang kukenakan juga selalu berwarna polos tanpa logo ataupun kutipan-kutipan humor di atasnya.

Aku menganggap aneh tetanggaku yang menggantung papan tanda dengan dekorasi tupai (tupai?!) di rumahnya, menyatakan “Keluarga Waterfords Tinggal di Sini.” Kuakui, sekali, karena desakan keluarga, aku pernah menempel spanduk di kaca belakang mobil untuk menyatakan bahwa anakku mendapatkan gelar kehormatan di Sekolah Dasar West View. Tapi aku memasangnya asal saja, di bagian luar, dengan selotip berkualitas jelek — dan tentu saja aku lega ketika angin meniupnya hingga lepas.

Aku punya anggapan kuno bahwa kehidupan pribadi seharusnya tetap berada di ranah yang personal. Bahwa nilai-nilai dan keyakinan diri seharusnya dijalani, bukan dipamerkan.

Akan tetapi setelah serangan teroris 11 September, aku mendapati diriku memasang bendera kebangsaan Amerika di depan rumahku, sama seperti yang dilakukan tetangga-tetanggaku lainnya — keluarga Waterfords, Chan dan Siddiqi.

Aku melakukan hal itu untuk pertama kali, dan sama sekali tak menyangka akan begitu tersentuh olehnya. Memegang bendera merah, putih dan biru berbentuk persegi panjang itu di tanganku membuatku menyadari bagaimana Amerika — negara yang kudatangi sebagai gadis imigran berusia 19 tahun dari India — begitu berarti bagiku. Bagaimana selama bertahun-tahun nilai-nilai yang dipegang negara ini — kebebasan, kesetaraan, keadilan, toleransi, upaya mengejar kebahagiaan untuk semua — telah meresap ke dalam diriku dan membentuk jati diriku. Bagaimana aku dipersiapkan untuk berjuang, dengan caraku yang sunyi, untuk menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Aku bayangkan ada begitu banyak warga imigran yang tersebar di seluruh penjuru negeri tengah melakukan hal serupa, memasang bendera kebangsaan Amerika Serikat tinggi-tinggi guna menunjukkan kecintaan kami terhadap negara ini, juga kedukaan kami terhadap mereka yang nyawanya habis diberangus teror. Secara tak langsung, para korban itu adalah saudara kami juga — dan oleh sebab itu aku terhenyak sesaat oleh rasa kebersamaan yang begitu kuat dan langka.

Namun, di balik rasa patriotik yang intens dan tulus itu, terdapat juga perasaan gamang. Aku melihat betapa sejak kejadian 11 September ada perlawanan terhadap mereka yang tampil dengan ciri-ciri seorang Muslim atau berparas ke-Timur-Tengahan. Warga asal dan keturunan Asia Selatan sepertiku juga telah jadi sasaran kebencian dan diskriminasi SARA. Tak sedikit kaum Sikh yang dipukuli atau bahkan ditembak mati hanya gara-gara mengenakan turban atau tampil dengan wajah berjanggut; sementara para wanita berkerudung acapkali dituding sebagai istri-istri para teroris; dan para pengusaha dalam setelan jas dan dasi sering diminta turun dari pesawat karena warna kulit mereka membuat kru pesawat was-was.

Belum lama ini, di luar sebuah toko kelontong tak jauh dari tempat tinggalku, seorang pria meneriaku dan anak-anakku, menggunakan kata-kata ofensif yang tak akan aku ulangi: “Dasar Ay-rab, pulang sana ke negaramu!”

Komunitas kami telah mengambil langkah-langkah pencegahan. Para pemimpin komunitas menyarankan kami untuk tidak mengenakan pakaian etnis, tidak keluar pada malam hari, dan tidak bepergian seorang diri.

Secarik email juga diedarkan, menginstruksikan kami bahwa respons terbaik saat kami merasa diserang adalah dengan mengangkat dua jari di udara seraya membentuk simbol damai, lalu berseru, “Tuhan memberkati Amerika!”

Email yang sama juga menyarankan kami untuk memasang bendera kenegaraan (lebih besar dan mahal lebih baik) di rumah, di tempat usaha dan di mobil keluarga: “untuk menunujukkan pada orang Amerika bahwa kalian berada di pihak mereka.”

Orang Amerika? Tidak salah? Aku adalah orang Amerika! Aku pikir kami berada di sisi yang sama.

Bendera yang kupasang (berukuran kecil dan tidak mahal) bukanlah merupakan respons dari surat eletronik tersebut. Tapi tetap saja, begitu aku memasang bendera, aku dihajar oleh kenyataan bahwa tak peduli selama apapun aku — atau anak-anakku yang lahir di California — tinggal di negara ini, setiap ada konflik besar dengan bangsa lain, maka kami akan selalu kena batunya.

Kasus yang sama juga terjadi ketika krisis tawanan Iran meluap di media. Lagi, saat terjadi perang di Teluk Persia. Beberapa sahabatku, warga Amerika keturunan Jepang, dengan pahit mengingat periode saat sanak-saudara mereka ditahan di kamp konsentrasi; sementara sahabatku yang merupakan warga Amerika keturunan Cina juga mengingat perdebatan soal pesawat pengintai yang terjadi baru-baru ini. Dan terlepas dari kapan hal itu terjadi, kami — orang Amerika yang tidak terlihat seperti orang Amerika — harus menanggung beban untuk membuktikan patriotisme kami. Atau akan ada konsekuensinya.

Saat aku menaikkan bendera, aku bertanya-tanya apakah tindakanku ini dimotivasi oleh ancaman “konsekuensi” tersebut. Aku bertanya-tanya apakah bendera yang kupasang sama saja seperti tanda yang dipasang orang-orang Yahudi di rumah mereka pada era Musa untuk meluputkan mereka dari Malaikat Kegelapan. Karena pada saat ini para pengikut Malaikat Kegelapan itu ada di antara kita. Aku lihat sendiri bagaimana mereka mengaum lantang sambil menyusuri jalan-jalan perumahan tempat tinggal kami yang rata-rata didiami oleh warga keturunan.

Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda yang menumpangi truk terbuka, bukan warga lingkungan kami, dengan wajah-wajah asing. Mereka menglakson dan berteriak lantang seraya membanting setir ke arah trotoar setiap mereka melihat orang-orang yang penampilannya tidak mereka sukai. Bagian belakang mobil mereka ditempeli stiker-stiker bertuliskan “Bokong Bin Laden Adalah Milik Kami”. Dan tersangkut di pucuk antena radio kendaraan mereka ada bendera Amerika Serikat yang berkibar gagah seolah mengiringi aksi mereka secara patriotik.

Apakah mereka penyebab para tetangga Afganistan-ku — wanita-wanita berjilbab yang dulu secara malu-malu sering melambai ke arahku saat kami mengantar anak-anak kami ke sekolah — sudah berminggu-minggu tidak terlihat di luar rumah? Penyebab salah satu dari suami-suami mereka menjemput dan menggiring semua anak-anak keturunan Afghanistan di sekitar lingkungan tempat tinggal kami ke dalam mobil van, lalu mengantar mereka ke sekolah tepat sebelum bel pelajaran berbunyi?

Ketika aku menaikkan bendera, aku mendapati sedikit pergerakan di jendela rumah yang berseberangan dengan rumahku. Seseorang sedang memerhatikanku dari sela tirainya. Mungkin itu Nadia, wanita yang tinggal di rumah itu. Aku penasaran apa yang dia pikirkan mengenai aksiku ini, apakah hal ini membuatnya khawatir? Apakah dalam pikirannya, bendera yang kupasang menghubungkanku dengan para pemilik bendera lainnya, orang-orang yang bertekun menjunjung hidup ala Amerika?

Aku turun dan menatap benderaku. Di luar semua keraguanku, bendera itu berkibar dengan indahnya. Dan aku bangga bahwa kita memiliki satu sama lain. Aku berpikir untuk membiarkannya tetap terpasang di sana sampai krisis ini selesai (semoga segera dan dengan cara sedamai mungkin). Aku akan membiarkannya terus terpasang sebagai pengingat bahwa ada berbagai jenis orang Amerika yang tinggal di negara ini — dan kita harus menyediakan tempat bagi siapa saja di bawah bendera kita. Bahwa warna kulit tidaklah menentukan patriotisme — atau kurangnya patriotisme. Dan terlebih, kita tidak akan pernah bisa dengan sungguh-sungguh mencintai negara kita, tanpa mencintai sesama warga negara kita — pria dan wanita. Semuanya. FL

sumber

esai, sastra, Tak Berkategori

Kebebasan Menulis

Hasil gambar untuk orhan pamuk

Orhan Pamuk

(diterjemahkan oleh Maureen Freely)

Pada bulan Maret tahun 1985 Arthur Miller* dan Harold Pinter** sama-sama mengunjungi Istanbul. Di masa itu, mereka adalah dua nama terbesar di dunia teater, namun sayangnya, kunjungan mereka ke Istanbul tidak ada sangkut-pautnya dengan drama teater ataupun acara kesusastraan, melainkan keterbatasan yang tanpa ampun terhadap kebebasan berekspresi di Turki. Banyak sekali penulis yang dijebloskan ke penjara karena tulisan mereka waktu itu.

Peristiwa kudeta yang terjadi di Turki pada tahun 1980 menyebabkan ratusan ribu orang dijebloskan ke penjara; dan, seperti biasa, penulis jadi sasaran paling empuk. Setiap kali saya menilik artikel-artikel lawas dari berbagai surat kabar, serta kalender dari masa itu, saya seolah mengingatkan diri sendiri tentang apa yang terjadi saat itu—dan bayangan yang terlintas di kepala saya, lumrahnya, adalah suatu adegan yang menjadi ciri utama era tersebut: para lelaki duduk berjajar di ruang pengadilan, dikapit para gendarme (polisi), dengan kepala plontos dan dahi berkerut sementara kasus mereka terus diproses… Di antara kumpulan lelaki itu ada banyak sekali penulis, dan tujuan kunjungan Arthur dan Harold adalah untuk menemui mereka serta keluarga mereka, juga untuk menawarkan bantuan. Lebih dari itu, arti kunjungan mereka adalah untuk mengangkat kasus ketidakadilan yang dialami para penulis Turki agar semua orang di dunia tahu.

Perjalanan kedua penulis tersohor tersebut diatur dan didanai oleh dua institusi besar yang mendukung kebebasan berekspresi di seluruh dunia: PEN dan Helsinki Watch Committee***. Saya berangkat ke bandara untuk menemui mereka, karena seorang teman saya dan saya telah ditunjuk untuk jadi pemandu mereka.

Penunjukkan saya sebagai pemandu para penulis tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan kiprah saya di dunia politik saat itu, melainkan karena saya adalah seorang novelis yang mahir berbahasa Inggris; dan saya dengan senang hati menerima penugasan tersebut. Pertama, saya bisa membantu teman-teman sesama penulis yang sedang berkesusahan; kedua, saya bisa menghabiskan waktu selama beberapa hari bersama dua penulis hebat.

Akhirnya, kami berempat pergi mengunjungi beberapa rumah penerbitan yang berskala kecil dan masih berjuang untuk bertahan; ruang-ruang redaksi surat kabar yang berantakan; serta kantor-kantor majalah lokal yang berdebu, gelap dan nampaknya berada di ambang kebangkrutan. Kami juga berkunjung dari satu rumah penduduk ke rumah penduduk lainnya; selain itu, kami pun menghampiri beberapa restoran—semua ini guna menemui para penulis yang tengah ditargetkan pemerintah Turki beserta keluarga mereka.

Sebelumnya, sudah cukup bagi saya untuk berdiri di pinggiran lingkar politik, menolak untuk masuk kecuali dipaksa; tapi sekarang, setelah saya mendengar sendiri kisah-kisah pilu tentang penindasan, kekejaman dan kejahatan yang dilakukan aparat negara terhadap para penulis Turki, saya merasa tertarik ke dalam lingkaran yang sama karena rasa bersalah yang tak terbendung. Selain rasa bersalah, saya juga merasakan efek solidaritas, meski pada saat bersamaan, saya merasakan hasrat yang sama besarnya untuk melindungi diri saya sendiri dari semua ini. Keinginan utama saya hanyalah untuk menulis novel-novel indah seumur hidup saya.

Kami mengajak Arthur dan Harold naik taksi dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, melewati lalu-lintas kota Istanbul, dan saya ingat bagaimana kami membahas perihal para pedagang asongan di tengah kota. Kami juga membahas soal kereta kuda, poster bioskop, dan para wanita Turki yang tak bercadar serta tak berjilbab dan selalu membuat para wisatawan dari negara-negara Barat tercengang takjub. Namun ada satu adegan yang sangat jelas dalam ingatan saya: di ujung sebuah koridor panjang di hotel Istanbul Hilton, teman saya dan saya tengah berbisik seru, sementara di ujung lain koridor yang sama, Arthur dan Harold tengah berbisik juga di antara bayang-bayang gelap, dengan keseruan yang sama. Adegan ini terus terukir dalam pikiran saya—mungkin karena ia mewakili jarak yang sangat jauh antara sejarah negara kami yang begitu kompleks, dan sejarah negara mereka yang tak kalah rumit. Tetapi keberadaan kami di koridor yang sama menunjukkan bahwa bentuk solidaritas antar penulis adalah hal yang mungkin dan cukup efektif untuk menumbuhkan secercah harapan bagi para penulis yang tengah menunggu eksekusi.

Saya merasakan beban kebanggaan dan rasa malu yang sama di setiap pertemuan—tiap-tiap ruangan yang kami masuki selalu sarat akan pria-pria bermasalah dan asap rokok yang tak ada habisnya. Saya mengetahui hal ini karena sesekali masalah itu dibuka di depan umum; namun selebihnya saya bisa melihat kegelisahan yang hebat dari gerak-gerik dan ekspresi mereka. Para penulis, pemikir, dan jurnalis yang kami temui di masa itu sebagian besar mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai orang-orang beraliran kiri; maka bisa dikatakan bahwa masalah mereka terkait langsung dengan kebebasan yang diagung-agungkan oleh paham demokrasi liberal dari Barat. Dua puluh tahun kemudian, saat saya menemui separuh dari orang-orang yang saya temui saat itu—atau sekitar itu, saya tidak ingat jumlah pastinya—mereka justru berbalik arah dan membela paham nasionalisme yang berseberangan dengan Pembaratan dan demokrasi. Tentunya, hal ini membuat saya sedih.

Pengalaman saya sebagai pemandu, dan seperti pengalaman lain dalam hidup, mengajarkan saya sesuatu yang sudah kita ketahui dengan baik, tetapi ingin saya tekankan dalam esai ini. Apapun negaramu, kebebasan berpikir dan berekspresi adalah hak asasi manusia. Kebebasan ini, yang diinginkan oleh masyarakat modern sama seperti mereka merindukan roti dan air, tidak seharusnya dibatasi oleh sentimen nasionalis, moralisme, atau—lebih parahnya—kepentingan bisnis dan militer. Bila ada banyak negara di luar wilayah Barat terpaksa menanggung malu karena tingkat kemiskinan yang terus meningkat, itu tidak disebabkan oleh kebebasan bereskpresi, melainkan karena mereka tidak punya kebebasan berekspresi. Sementara mereka yang beremigrasi dari negara-negara miskin tersebut ke negara-negara Barat, atau Utara, demi meninggalkan kesulitan ekonomi dan bentuk penindasan keji—seperti yang kita ketahui, terkadang mereka justru mendapati diri mereka lebih ditindas oleh paham rasisme di negara-negara kaya. Ya, kita juga harus waswas terhadap orang-orang yang merendahkan para imigran dan kaum minoritas dengan alasan agama, akar budaya, atau dengan alasan kejahatan yang telah dilakukan pemerintah negara asal para imigran terhadap orang-orang dari negara-negara kaya tersebut.

Akan tetapi, menghormati kemanusiaan dan paham keagamaan kaum minoritas bukan berarti kita harus membatasi kebebasan berpikir orang yang berseberangan dengan kita, meski pikiran mereka tergolong rasis ataupun tak lazim.

Benar, kita memang harus menghargai hak-hak asasi kaum minoritas, tapi itu bukan artinya kita bisa seenaknya membungkam orang-orang yang tidak setuju dengan cara pikir kita. Sebagai penulis, kita seharusnya tidak meragukan ini. Tak peduli seberapa provokatif pesan yang disampaikan siapapun, kita tidak boleh membungkam orang seenaknya.

Sebagian dari kita memang lebih paham tentang norma-norma Barat, sementara sebagian lain lebih condong terhadap norma-norma Timur; dan masih ada sebagian kecil penulis, seperti saya, yang lebih senang membuka diri dan berada di garis tengah kedua paham tersebut. Namun keterkaitan kita dan hasrat kita untuk mengerti mereka yang berbeda dari kita tidak seharusnya jadi alasan bagi kita untuk membatasi rasa hormat kita terhadap hak-hak asasi manusia.

Saya selalu kesulitan mengekspresikan pandangan saya terhadap dunia politik dengan jelas, kuat dan penuh empati—saya selalu merasa pretensius, seolah apa-apa yang saya ucapkan tidak ada artinya, atau tidak benar. Ini disebabkan oleh kesadaran bahwa saya tidak mungkin mengerucutkan pemikiran saya tentang hidup ke dalam satu corong suara, atau satu sudut pandang—karena toh saya ini seorang novelis, jenis penulis yang selalu dituntut untuk bisa mewujudkan pemikiran tiap-tiap tokohnya, terutama tokoh-tokoh antagonis.

Hidup dalam dunia fiksi, di mana, dalam waktu singkat, seorang korban tirani dan penindasan bisa tiba-tiba berubah jadi seorang tiran dan diktator, saya juga sadar bahwa kepercayaan absolut terhadap proses dan manusia adalah hal yang tidak gampang. Saya juga percaya bahwa sebagian besar dari kita senang memikirkan hal-hal yang kontradiktif secara bersamaan, meski tidak dengan tujuan buruk.

Kesenangan saya untuk menulis novel pada dasarnya datang dari keingintahuan saya terhadap kondisi masyarakat modern yang cenderung senang mengontradiksi buah pikiran mereka sendiri. Justru karena cara pikir kita yang modern ini terlalu mudah bergeser maka kita butuh sekali kebebasan berekspresi: supaya kita paham tentang diri kita sendiri, paham tentang pemikiran kita yang terkadang kontradiktif dan mencurigakan, serta paham tentang rasa bangga dan rasa malu yang kerap hadir melebur jadi satu, yang tadi saya sebut.

Izinkan saya untuk menyampaikan cerita lain yang mungkin bisa menjelaskan konsep rasa bangga dan rasa malu yang saya rasakan dua puluh tahun lalu di saat saya sedang mengajak Arthur dan Harold berkeliling Istanbul. Sepuluh tahun setelah kunjungan mereka, serangkaian kebetulan yang digerakkan oleh itikad baik, amarah, rasa bersalah, dan dendam pribadi menggiring saya untuk menyampaikan serentetan pernyataan kepada publik tentang kebebasan berekspresi yang tak ada hubungannya dengan novel-novel saya. Dalam waktu singkat, peran saya di kancah politik jadi membesar tak terkendali, jauh lebih besar dari yang saya bayangkan sebelumnya. Di saat yang sama, penulis asal India yang menyusun laporan tentang kebebasan berekspresi di Turki untuk keperluan data PBB—seorang pria yang sudah cukup berumur—datang ke Istanbul mencari saya. Anehnya, kami juga berjumpa di Hotel Hilton. Belum lagi kami sempat duduk di meja makan, pria asal India itu melontarkan pertanyaan yang masih terngiang di telinga saya hingga saat ini: “Mr. Pamuk, hal apa saja yang terjadi di negaramu yang ingin kau sampaikan dalam buku-bukumu, namun terpaksa kau undurkan, karena takut dipersekusi?”

Pertanyaan itu disusul oleh kebungkaman yang cukup lama. Tak siap dengan jawaban, saya sibuk berpikir dan berpikir dan berpikir. Akhirnya, saya masuk ke dalam proses tanya-jawab dengan diri sendiri ala-ala Dostoevski. Sudah jelas bahwa apa yang ditanyakan oleh pria dari PBB adalah: “Mengingat segala tabu, larangan hukum dan aturan yang opresif di Turki, apa yang masih belum terucapkan?” Tapi karena dia bertanya kepada seorang penulis muda yang duduk di hadapannya dan—entah kenapa, mungkin karena tidak enak—meminta penulis muda itu untuk menjawab sesuai dengan kapasitasnya sebagai seorang novelis; saya yang belum banyak pengalaman menjawab pertanyaan macam ini pun akhirnya menerima pertanyaannya mentah-mentah. Turki yang saya kenal sepuluh tahun lalu memang sangat ketat terhadap apa-apa yang tidak boleh dibahas di khalayak umum, dan larangan ini dilindungi oleh hukum negara yang sangat opresif. Namun selagi saya menyebut satu-satu bentuk larangan yang dipaksakan kepada para penulis, pemikir dan jurnalis di masa itu, saya sadar bahwa tak ada satu pun yang ingin saya angkat “dalam bentuk novel”. Tapi saya juga sadar bahwa bila saya mengucapkan, “Tak ada yang ingin saya sampaikan dalam bentuk novel yang tak bisa saya bicarakan secara terbuka,” saya pasti memberikan kesan yang salah. Karena saya sudah sering mengangkat isu-isu berbahaya ini di luar novel-novel saya. Lebih dari itu, bukankah saya sudah sering mengangkat dan berfantasi tentang isu-isu ini dalam novel-novel saya justru karena itu dilarang? Selagi saya memikirkan semua itu, saya jadi malu terhadap kebungkaman saya dan mengonfirmasi dalam hati saya bahwa kebebasan berekspresi berakar pada kebanggaan dan karenanya, pada intinya, merupakan bagian besar dari cara kita mengekspresikan harga diri kita.

Saya kenal baik dengan banyak penulis yang sengaja mengangkat topik-topik terlarang justru karena mereka dilarang. Saya juga tak jauh beda dengan mereka. Sebab bila ada seorang penulis yang kebebasannya dikekang dan suaranya dibungkam, di mana pun dia berada, maka itu artinya tak ada penulis yang benar-benar bebas. Inilah semangat yang menguatkan tingkat solidaritas yang dirasakan oleh institusi besar seperti PEN, yang dirasakan semua penulis di dunia.

Sesekali ada saja teman yang akan menasihati saya seperti ini: “Seharusnya jangan menulis seperti itu, tulis saja seperti ini, supaya tidak menyinggung perasaan orang, supaya jauh dari masalah.” Tapi yang tidak mereka mengerti adalah bahwa bila saya mengubah kata-kata dan membungkusnya dengan cara berbeda, yang lebih bisa diterima oleh semua orang dalam kultur penindasan, dan melakukannya dengan baik, maka saya tidak ada bedanya dengan seorang kriminal yang terbiasa menyelundupkan barang-barang berharga tanpa sepengetahuan petugas bea dan cukai—dan hal itu tak hanya akan mengundang malu, tapi juga merendahkan.

Tema festival PEN tahun ini adalah akal budi dan kepercayaan. Saya mengangkat cerita-cerita tadi dalam esai ini untuk mengilustrasikan satu kebenaran—bahwa kenikmatan untuk mengutarakan apa saja yang ingin kita sampaikan sangat erat kaitannya dengan harga diri manusia. Maka mari kita bertanya pada diri sendiri seberapa “masuk akalnya” bagi kita untuk merendahkan budaya dan agama orang lain, atau lebih tepatnya, menghancurkan negara-negara orang, atas nama demokrasi dan kebebasan berpikir. Bagian dunia tempat tinggal saya tidak lantas berubah jadi lebih demokratis setelah semua pembunuhan itu terjadi. Dalam perang melawan Irak, serta segala macam bentuk penindasan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap lebih dari seratus ribu orang—tidak satu pun dari pengorbanan itu yang membawa kedamaian, ataupun demokrasi. Justru sebaliknya, semua peristiwa tersebut telah memicu semangat nasionalis dan amarah anti-Barat. Segala hal yang bersangkutan dengan kaum minoritas dan mereka-mereka yang berupaya menegakkan demokrasi serta memperjuangkan paham sekuler di Timur Tengah jadi jauh lebih sulit. Perang keji dan tak beradab ini adalah malu yang harus ditanggung oleh pihak Amerika dan negara-negara Barat sekutunya. Organisasi seperti PEN dan penulis seperti Harold Pinter dan Arthur Miller adalah sumber kebanggaan. FL

sumber