cerpen, sastra, Tak Berkategori

Kyai Sepuh

Kyai Sepuh ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg

KYAI Sepuh bukan dukun, bukan tukang ramal, bukan pula tukang tenung. Kyai Sepuh hanyalah seorang pemain teater. Tepatnya bekas pemain teater yang mengalihkan kemampuannya berseni peran dari panggung ke dalam kehidupan sehari-hari.

Dari caranya bersikap, memainkan mimik muka maupun bahasa tubuhnya, dia berhasil memberi kesan bahwa dirinya betul-betul seorang manusia bijak. Terbukti dengan begitu banyak orang yang percaya kepadanya, tanpa kesadaran bahwa yang dipercayainya adalah suatu peran yang dimainkan.

Demikianlah berlangsung dari hari ke hari. Dan setelah bertahun-tahun, Kyai Sepuh akhirnya berhasil mengelabui dirinya sendiri. Betapa dia memang sebenarnyalah sungguh bijaksana, pandai, cerdas, dan berpengetahuan. Dia sungguh-sungguh mengira, dengan kepekaan yang dirasa-rasakannya saja, dapatlah dia menunjukkan kebenaran yang dicari semua orang. Apalagi sambutan orang-orang di sekitarnya pun serba membenarkannya.

Baca juga: Setan Banteng – Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Koran Tempo, 22-23 Desember 2018)

Hanya saja Kyai Sepuh sudah mulai sakit-sakitan dan pelupa. Namun tiada seorang pun yang percaya. Kyai Sepuh sendiri memang tidak pernah memeriksakan sakitnya ke dokter. Karena ia berpikir jika dirinya berobat ke dokter dan darahnya diperiksa oleh laboratorium kesehatan, orang-orang tidak akan percaya lagi kepadanya.

“Masa orang pinter ke dokter,” itulah tanggapan yang dihindarinya.

Begitulah, semakin banyak saja orang yang datang minta petunjuk. Begitu banyak sehingga sudah tidak mungkin lagi dilayani satu per satu. Kerumunan di rumahnya begitu besar yang jika diurutkan dalam antrean akan menjadi terlalu panjang, yang dalam waktu 24 jam pun tidak akan berkurang karena orang-orang yang terus mengalir berdatangan.

Maka Kyai Sepuh memutuskan, penyelesaian masalah tidak akan dilakukan bagi setiap orang satu per satu, tapi secara borongan. Satu petunjuk untuk semua orang dengan penafsiran masing-masing.

***

Hari itu Kyai Sepuh bersila di tempatnya yang biasa. Sebuah kotak persegi panjang yang dalam dunia teater disebut “level”. Cukup sebuah level yang dialasi tikar pandan murahan, maka dia pun sudah lebih tinggi dari orang-orang yang berkumpul di ruangan itu. Kedudukan lebih tinggi itu baginya perlu, karena akan memberi kesan lebih tinggi dari segalanya, di ruangan itu maupun dunia di luarnya.

Dalam dunia teater, panggung adalah pusat dunia, dan ruangan itu adalah panggungnya. Kelompok teater yang didirikannya sudah lama bubar dan orang-orang sudah melupakannya. Khalayak kini mengenalnya sebagai orang pinter yang bisa menjawab semua pertanyaan tentang segala hal dengan baik dan benar, tepat dan jitu, asal mampu menafsirkan petunjuknya

Segala sesuatu yang terbukti menunjukkan kepintaran Kyai Sepuh. Segala sesuatu yang tidak terbukti menunjukkan kebodohan penafsirnya. Begitulah hukum yang berlaku di dunia Kyai Sepuh.

Dari masa lalunya hanya tersisa level itu. Dia hanya butuh satu. Lebih dari cukup untuk meninggikan dirinya dari siapa pun yang masuk ke rumahnya, panggungnya di dunia nyata—dan hari itu dia sedang berada di sana, bersila, memejamkan mata dengan kepala tertunduk dan tubuh membungkuk, tidak terlalu jelas apakah sedang tafakur atau mengantuk.

Dia sendiri kurang mengerti mengapa semakin tua dan semakin memutih jenggotnya dia begitu mudah terkantuk-kantuk. Namun lebih penting baginya bahwa semakin tua dirinya semakin dihormati, meski juga tidak terlalu jelas baginya apakah dia dihormati karena memang dianggap bijak ataukah sekadar karena tua.

Angin pagi masuk lewat jendela yang satu dan keluar lagi lewat jendela yang lain, membuat udara semakin sejuk, meski dinding kayu itu mulai memantulkan cahaya keemasan matahari. Mereka telah menunggu sejak pagi buta ketika Kyai Sepuh belum bangun. Setelah mandi dan sarapan Kyai Sepuh muncul, mengulurkan tangan untuk diletakkan di dahi tamu-tamunya, lantas duduk bersila di tikar itu.

Sampai lama sekali orang-orang menunggu. Di luar semakin banyak orang berdatangan dan tidak bisa masuk ke dalam sebelum orang-orang yang di dalam keluar. Beredar kabar Kyai Sepuh belum mengatakan apa pun sejak tadi.

“Kyai tidak selalu mengatakan sesuatu,” kata seseorang.

“Barangkali Kyai memang tidak akan mengatakan apa pun,” kata yang lain.

“Kyai memang tidak perlu mengatakan apa pun,” kata yang lain lagi.

“Kyai akan memberikan tanda-tanda.”

Seperti mendapat jalan keluar, semua orang menunggu. Jika tidak mengatakan sesuatu, Kyai Sepuh semestinya memberikan penanda, sebagaimana telah ditafsirkan selama ini oleh para pencari petunjuk. Sedangkan jika mengatakan sesuatu, kata-kata Kyai Sepuh tidak akan menunjuk langsung, jadi seperti penanda-penanda juga.

Akibatnya, selain merujuk Kyai Sepuh, para pencari petunjuk harus memanfaatkan jasa para juru tafsir di sekitarnya. Tidak terlalu jelas bagaimana mereka bisa muncul dan menjadi bagian dari keberadaan Kyai Sepuh, yang jelas kadang-kadang ongkos balas jasa bagi juru tafsir ini jauh lebih besar daripada balas jasa sukarela kepada Kyai Sepuh. Berapa? Jika Kyai Sepuh tidak pernah mengucapkan apa pun soal balas jasa, para juru tafsir ini selalu mengatakan, “Tahu sendiri.” Supaya tidak melakukan kekeliruan, orang-orang yang membutuhkan petunjuk Kyai Sepuh ini pun akan memberikan imbalan lebih dari pantas, yang kadang-kadang diterima dengan menggerutu.

“Kalian ini katanya membutuhkan pertolongan, dan petunjuk Kyai akan menyelesaikan masalah kalian, kenapa begitu malas memberikan imbalan? Jangan mau enaknya sendiri dong …”

Kyai Sepuh mendadak terbatuk-batuk. Ada yang mengira beliau sakit, tetapi para juru tafsir pendapatnya berbeda.

“Siap! Siap!”

“Rekam! Rekam!”

Ratusan orang mengeluarkan telepon genggamnya. Terekamlah bagaimana Kyai Sepuh terbatuk-batuk tanpa ada yang menolongnya. Sampai Kyai Sepuh sendiri terpaksa berpantomim menirukan orang minum, barulah seseorang datang membawakan air mineral.

Setelah minum, Kyai Sepuh tampak lebih tenang meski dadanya masih naik turun. Namun orang-orang sudah mendekati para juru tafsir yang segera membahas penanda berwujud batuk tersebut.

“Coba, berapa kali Kyai batuk?” kata seorang juru tafsir.

Rekaman pun diulang untuk menghitungnya.

“Empat puluh kali.”

“Tiga puluh sembilan.”

“Saya hitung kok empat puluh satu?”

“Huss! Kok lain-lain? Mesti yang bener! Lain hitungan lain lagi maknanya!” Seorang juru tafsir memberi komando.

Baca juga: Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa – Cerpen Edi A.H. Iyubenu (Jawa Pos, 11 November 2018)

Untuk mencapai kesamaan hitungan di antara ratusan orang ternyata tidak gampang. Lama kemudian baru disepakati, Kyai Sepuh batuk 45 kali.

“Huh, jauh banget. Coba langsung ditancap saja maknanya tadi, kan salah semua?”

Nah, jadi apakah maknanya batuk Kyai yang 45 kali?

Seorang juru tafsir berkata, “Karena artinya untuk setiap orang dan setiap persoalan lain-lain, setiap orang mendapat bisikan yang harus dirahasiakan. Jangan pernah membuka rahasia ini karena tuahnya akan langsung hilang.”

Setiap juru tafsir menyampaikan hal yang kurang lebih sama kepada orang-orang yang mengerumuninya. Namun ternyata Kyai Sepuh batuk-batuk lagi, dan meskipun begitu rupa parah batuknya, sampai Kyai jatuh tengkurap dan tercekik-cekik, orang-orang lebih cenderung menganggapnya sebagai rentetan penanda belaka.

“Rekam! Rekam! Rekam!”

“Jangan lolos satu gerakan pun!”

Memang benar seseorang memberikan botol air mineral sambil mengurut-urut punggungnya, tetapi batuknya tidak pernah berhenti lagi, sampai mata Kyai mendelik dan lidahnya terjulur, ketika batuknya menyatu tanpa jarak lagi sebagai ketercekikan yang panjang.

Suara aneh terdengar dari tenggorokannya, seperti hembusan napas yang keras, sepintas lalu bagaikan dengkur orang tidur.

Lantas Kyai Sepuh tidak bergerak lagi.

“Dapet semua?” Seorang juru tafsir bertanya.

“Alhamdullillah … dapet!”

Bertahun-tahun kemudian orang masih datang ke makam Kyai Sepuh untuk mencari petunjuk dan mendapatkan penanda-penanda. Segenap penanda yang berasal dari peristiwa kematiannya disebut-sebut telah mengatasi sebagian besar masalah, jika bukan seluruhnya, berkat pemecahan maknanya oleh para juru tafsir. Kehidupan dan kematian –adakah makna yang bisa lebih besar dari itu?

Sampai sekarang orang masih berdatangan mendaki bukit, menuju makam Kyai Sepuh yang terletak di bawah pohon dan sengaja dipisahkan dari makam-makam lainnya. Orang-orang bermalam di sekitarnya, membakar kemenyan atau hio, lantas menyerahkan diri kepada alam.

Menurut pengakuan orang-orang yang merasa mendapat petunjuk, penanda-penanda dari Kyai Sepuh mereka dapatkan dari bintang-bintang di langit, angin yang berdesir, atau gugur daun yang diterbangkan angin itu. Adakah kiranya yang bisa lebih kaya dari alam semesta sebagai sumber penafsiran segala makna?

Seorang juru kunci telah hadir di makam itu. Beliau dapat membantu pemecahan makna segala penanda, dan sungguh telah mendapatkan banyak uang.

Ada juga yang bercerita bahwa Kyai Sepuh muncul dalam mimpinya dan betapa ia menjadi sangat bahagia.

Betapapun telah disebutkan tadi, Kyai Sepuh bukanlah dukun, bukan tukang ramal, bukan pula tukang tenung. Kyai Sepuh hanyalah seorang pemain teater sahaja—tentang ini sudah tidak banyak orang yang mengetahuinya. (*)

sumber

esai, sastra, Tak Berkategori

SEBAGAI PARTAI ANAK MUDA, HARUSNYA PSI JANGAN KESERINGAN NEGATIVE CAMPAIGN

Membiarkan negative campaign ala PSI berkeliaran, kayak Piala Kebohongan PSI untuk kubu Prabowo—sungguh, itu bukan tugas anak muda, Kisanak.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bikin gebrakan lagi. Setelah bikin agenda kontroversial penghapusan Perda Syariah, kebijakan anti-poligami, dan penganugerahan Piala Kebohongan pada Prabowo, Sandi, dan Andi Arief tempo lalu.

Beberapa waktu lalu Ketua Umum PSI, Grace Natalie mengatakan punya agenda baru untuk kalangan anak muda, yaitu memasukkan profesi Youtuber, Influencer, dan Gamer dalam kolom profesi KTP.

Pidato itu disampaikan Grace dalam Festival 11 di Kota Bandung. Tak hanya bicara soal profesi baru—sebelum itu—Grace juga melayangkan kembali negative campaign tentang hoaks-hoaks Prabowo-Sandi, Capres-Cawapres urut 02, lalu dukungan terhadap Ahok. Tentu dengan kobaran semangat ala anak muda.

“Bro and sist,” ujar Grace, “PSI akan mendorong profesi-profesi baru seperti Youtuber, Influencer, Gamer, dan lain-lain, supaya profesi-profesi baru ini bisa dicantumkam dalam kolom pekerjaan di KTP.”

Saya tidak heran dengan kebijakan “anak muda” ini.  PSI mah memang begitu. Bukan saja karena Grace Natalie lebih cantik dan lebih populer ketimbang Surya Paloh dan Hary Tanoe, PSI memang menarik karena umpannya yang selalu menyasar kaum muda. Dan anak muda memang diprediksi jadi pemilih mayoritas dalam Pemilu nanti.

Unicorn baru dalam perpolitikan Indonesia versi Pak Jokowi ini, memang pakai standar ideal anak muda dalam usulan kebijakannya. Seperti dibangunnya citra PSI sebagai partai yang bakal konsisten memerangi korupsi. Dan karena partai baru, hal itu jadi jualan utama PSI dalam percaturan politik Tanah Air.

Sebagai partai baru dengan ide-ide segar, istilah milenial kemudian diidentikkan dengan PSI. Sebab ketika kata itu muncul, dalam pikiran kita berseliweran bayangan sosok Tsamara Amany, kader muda-cantik-cerdas. Apalagi ketika Tsamara bicara antipoligami, waduh, ramailah publik.

Sementara banyak anak muda progresif (kebanyakan gadis-gadis) seakan mendapat perwakilan suara, lalu jingkrak-jingkrak menyuarakan “stop poligami”.

Nah, sebagai sebagai unicorn dalam partai politik universe, PSI membawa proyek-proyek kekinian. Apa-apa harus anak muda, perspektif kebijakannya pun anak muda. Poinnya dari anak muda untuk kemajuan bangsa.

Hal yang seperti memberi sekat bahwa formula politik sekarang sudah kelewat usang karena keseringan pakai model-model kebijakan zaman old. Progresif dan menentang—seolah-olah—semua pola pikir konservatif.

Masalahnya jadi njelimet ketika anak muda itu merambah pada sesuatu yang kurang elok: negative campaign.

Memang, sih, tidak seperti black campaign, negative campaign masih sah-sah saja. Boleh. Juga tak bermasalah secara hukum. Tapi, kan, katanya anak muda. Masa anak muda lebih suka mencecar kekurangan lawan ketimbang menaikkan grade diri. Memangnya untuk menaikkan grade ala anak muda harus sambil menunjukkan kekurangan lawan dulu sih?

Hal yang malah bikin saya curiga, apa jangan-jangan negative campaign PSI yang agresif itu merupakan wujud ketidakmampuan menaikkan grade lagi ya?

Dengan agenda program yang berkualitas, misalnya. Toh, kita semua tahu, agenda-agenda PSI, meskipun banyak, semua periferal bahkan cenderung remeh temeh. Belum menyasar ke hal-hal yang substantif. Kolom pekerjaan di KTP akan diisi Gamer atau Youtuber misalnya. Ya itu keren juga sih, tapi kan itu belum penting-penting amat untuk diperjuangkan.

Masalahnya, ketidakmampuan mencari tawaran kebijakan yang lebih penting kemudian ditutupi PSI dengan menjatuhkan lawan politiknya. Ya itu mah intrik politik yang sudah lumrah. Bahkan hal itu cenderung cara konservatif yang sudah dilakukan politisi dari zaman old. Cuma gimik-gimiknya aja yang beda.

Kalau pakai cara-cara old juga untuk menaikkan eletabilitas, ya nggak perlu anak muda lah untuk melakukan itu. Politisi lawasan juga sama canggihnya, Bro and Sist.

Meski begitu, bukan berarti saya mau membela Prabowo-Sandi. Toh saya juga bukan timses mereka. Saya hanya fokus pada jargon PSI sebagai partainya anak muda, dan apa yang harusnya dilakukan oleh anak muda itu sendiri.

Saya juga nggak mengritik PSI atas nama ia sebagai partai pendukung Jokowi-Ma’ruf. Tetapi membiarkan negative campaign berkeliaran—sungguh, itu bukan tugas anak muda.

Betul memang, semangat anak muda itu wajib—terutama untuk menjaring suara pemilih. Reformasi ’98 saja juga dilakukan generasi anak muda loh—pada zamannya tentu. Tetapi agenda saat itu benar-benar progresif, seperti kebebasan mengritik dan kebebasan berpendapat.

Namun kalau sudah sampai berencana menghapus identitas agama dalam KTP sampai kebijakan anti-poligami, ya jangan salah kalau kemudian PSI mendapat serangan dari sana-sini. Jiwa muda sih boleh-boleh saja, tapi ya bijak lah dikit.

Soalnya ide-ide progresif tetap membutuhkan ide-ide konservatif. Keduanya nggak bisa berdiri sendiri-sendiri. Baiknya sih kedua kutub ini (kaum progresif dan konservatif) saling mengerti satu sama lain. Bukannya sama-sama mau menang sendiri.

Kalau kata Bang Haji Rhoma Irama, “masa muda, masa yang berapi-api. Yang maunya menang sendiri, walau salah nggak peduli…”

Lha kalau anak mudanya saja suka merasa menang sendiri begitu—dengan meledek senior-senior mereka—lalu bedanya PSI dengan partai-partai politik yang udah senior apa? Masa yang beda cuma gimiknya doang? Pakai piala sampai plakat segala lagi. Caranya aja yang anak muda, esensinya sih ya orang tua.

Ayolah, PSI, jangan politisir kata “anak muda”. Apalagi menciptakan citra bahwa anak muda belakangan ini juga lebih doyan sama negative campaign.

Elektabilitas bertambah, seyogianya didapat dengan kebijakan-kebijakan berkualitas, bukan cuma berhenti menghancurkan lawan politik sekuat-kuatnya. Jika, misalnya, berbicara secara politik sebagai pendukung petahana, ya sudah ngaku aja. Nggak usah bawa-bawa atas nama kesejahteraan umum dong.

Kalau memang betul-betul mengatasnamakan jiwa anak muda yang anti hoaks, intoleransi, dan korupsi, mestinya kubu petahana juga dikritik. Sebab justru merekalah yang memegang tampuk kekuasaan. PSI sebagai partai baru seharusnya memberi tawaran, apa saja yang kurang dari pemerintahan sekarang lalu kasih tawaran ke pemilih.

Ya meski kita juga tahu, hal itu agak nggak mungkin. Kan satu koalisi ya kan?

Berbicara boleh berapi-api, tapi gimik juga seharusnya lebih sopan, biar bisa “ngajarin” para politisi senior juga, bahwa anak muda itu nggak perlu selalu urakan, tapi bisa elegan juga.

Bro and Sist juga harus tahu, bahwa patokan jiwa muda itu bukan cuma perkara umur atau ide saja, tapi juga bagaimana cara menjelaskan ide tersebut. Jika yang dilakukan penyampainnya dengan negative campaign, masyarakat bakal lebih ingat kekurangan lawan ketimbang kekuatan PSI sendiri.

Oke deh, PSI mungkin nggak peduli karena menyasar orang-orang yang sepemikiran, tapi iya kalau orang risih sama cara ledekan politik ala PSI lalu malah milih PDI atau Golkar gimana?

Ya satu koalisi sih, tapi kan Pemilu urusannya bukan cuma Pilpres doang, tapi juga Pileg. Banyak-banyakan kader partai yang bisa masuk ke Senayan.

Ya bakal percuma dong kalau Jokowi akhirnya jadi Presiden, tapi kader PSI yang masuk parlemen cuma beberapa orang? Wah, berat diongkir dong, Sist.

sumber

olahraga, sepakbola, Tak Berkategori

Empat Besar Makin Sulit untuk Arsenal

Empat Besar Makin Sulit untuk Arsenal

London – Arsenal sedang menurun performanya dalam sebulan terakhir ini. Sebagai konsekuensinya, posisi The Gunners perlahan menjauh dari empat besar.

Arsenal sebenarnya sempat tak terkalahkan di seluruh kompetisi selama kurang lebih 3,5 bulan sejak dikalahkan Manchester City dan Chelsea di awal musim. Namun, usai dikalahkan Southampton dengan skor 2-3 pada pertengahan Desember, performa tim London Utara itu melorot drastis.

Dalam lima partai terakhirnya di Premier League, Arsenal cuma menang dua kali atas Burnley dan Fulham serta diimbangi Brighton. Sisanya dua kekalahan didapat dari Liverpool dan terakhir West Ham United weekend kemarin dengan skor 0-1.

Arsenal yang tadinya bersaing ketat dengan Chelsea menuju empat besar kini malah tertahan di urutan kelima dengan 41 poin. Selisin poin mereka dengan Chelsea mencapai enam angka dan juga kalah selisih gol +7.

Tak cuma ditinggal Chelsea, Arsenal kini malah disamai oleh Manchester United yang saat memecat Jose Mourinho masih tertinggal delapan poin. Di bawah Ole Gunnar Solskjaer, MU merangkai lima kemenangan beruntun di liga untuk mencapai nilai 41.

Persaingan makin ketat dan Arsenal justru mulai kehabisan gas di saat memasuki masa krusial Januari hingga April. Apalagi performa MU kini makin membaik sementara Chelsea terlihat stabil.

“Tentu saja empat besar lebih sulit untuk kami saat ini. Saya rasa yang terpenting untuk kami adalah mengembalikan kepercayaan diri para pemain dan lebih kompetitif. Kami butuh tampil konsisten sepanjang 38 laga,” ujar Emery seperti dikutip FourFourTwo.

“Memang untuk saat ini tidak cukup. Itu hasil yang buruk. Jika kami bisa mengalahkan Chelsea hari Sabtu nanti, maka jaraknya menjadi tiga poin,” sambungnya.

“Ini kesempatan besar untuk kami bisa sedekat mungkin dengan mereka. Hasil ini (kekalahan dari West Ham United) membuat makin sulit,” demikian Emery.

sumber

basket, olahraga, Tak Berkategori

Hasil NBA: Cavs Menang di Kandang Lakers

LA Lakers ditumbangkan Cleveland Cavaliers (Kelvin Kuo-USA TODAY Sports)

Los Angeles – Cleveland Cavaliers mencuri kemenangan di kandang Los Angeles Lakers. Hasil ini memutus rangkaian sembilan kekalahan beruntun Cavs.

Pada gim NBA 2018/2019 yang dihelat di Staple Center, Senin (14/1/2019), Lakers yang masih tampil tanpa LeBron James kesulitan mengimbangi Cavs sedari kuarter pertama. Padahal, Cavs adalah tim dengan rekor terburuk musim ini dan jadi satu-satunya tim yang belum capai dua digit kemenangan.

Cavs unggul 32-24 pada kuarter pertama namun Lakers berhasil menahan perolehan poin tim tamu cuma 19 di kuarter kedua. Tapi, Lakers tetap tertinggal 46-51.

Masuk di kuarter ketiga, Cavs menggila dengan torehan 24 poin berbanding 19 poin milik Lakers. Lakers coba bangkit di kuarter keempat untuk mengejar ketertinggalannya, tapi buruknya akurasi tembakan tiga angka menyulitkan mereka. Lakers hanya memasukkan dua dari 12 percobaan three point di kuarter ketiga.

Di kuarter keempat, Cavs tak tertahankan untuk menang dengan 101-95. Bagi Cavs, ini adalah kemenangan pertama setelah selalu kalah di sembilan gim sebelumnya dan juga jadi kemenangan kesembilan musim ini.

Cavs masih jadi tim dengan rekor terburuk musim ini yakni 9-35. Tampil sebagai top performer adalah Alec Burks dengan torehan double-double, 17 poin, 13 rebound, dan empat assist. Dia ditopang Cedi Osman (20 poin) dan Rodney Hood (18 poin).

Dari kubu Lakers ada Kyle Kuzma dengan 29 poin, sembilan rebound, dan empat assist. Dia ditopang Brandon Ingram dengan 22 poin. Performa Lakers tanpa James yang absen di sembilan gim terakhir karena cedera pangkal paha masih angin-anginan. Mereka kini tertahan di posisi kedelapan Wilayah Barat dengan rekor 23-21.

Sementara Toronto Raptors masih mempertahankan statusnya sebagai tim terbaik musim ini dengan rekor 33-12 usai mengukir kemenangan kelima beruntun. Raptors menang 140-138 atas Washington Wizards.

Hasil gim lainnya

Philadelphia 108 NEW YORK 105
Toronto 140 WASHINGTON 138 (OT)
Milwaukee 133 ATLANTA 114
ORLANDO 116 Houston 109
DENVER 116 Portland 113

sumber

berita, politik, Tak Berkategori

BPN Prabowo Imbau Pendukung Minta Maaf Catut Lagu ‘Jogja Istimewa’

BPN Prabowo Imbau Pendukung Minta Maaf Catut Lagu Jogja Istimewa

Jakarta – Rapper Marzuki Mohamad alias Kill The DJprotes lirik lagu ‘Jogja Istimewa’ dipakai untuk dukungan kepada capres Prabowo Subianto. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga mengimbau pendukungnya meminta maaf pada Kill The DJ.

“Saya sarankan kepada teman-teman emak-emak di Jogja tinggal minta maaf dan tidak lagi mempergunakan lagu itu karena pemilik lagu asli sudah protes dan menyatakan mendukung pasangan 01 (Jokowi-Ma’ruf Amin, red). Ya sudah, cari lagu baru,” ujar Juru Bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade kepada wartawan, Selasa (15/1/2019).

Lirik lagu Jogja Istimewa diubah oleh para pendukung Prabowo menjadi:

Jogja Jogja Jogja Istimewa
Prabowo Sandi Pilihan Kita
Jogja Jogja Jogja Istimewa
Adil dan Makmur Tujuan Kita

Dalam video yang beredar, tampak ibu-ibu menyanyikan lagu dukungan untuk Prabowo. Sedangkan penggalan lirik asli lagu tersebut adalah:

Jogja Jogja Tetap Istimewa
Istimewa Negrinya, Istimewa Orangnya
Jogja Jogja Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia

Terkait fenomena di atas, Andre mengatakan karena semangatnya pendukung Prabowo. BPN meminta kepada pendukungnya untuk mencari lagu lain.

“Mungkin terlalu bersemangat, tetapi tidak melihat kondisi dulu, tidak melihat aturan dulu. Seperti di Solo, jadi yang kena protes kami (BPN Prabowo-Sandiaga). Itulah dinamikanya, begitu semangat relawan,” kata Andre.

sumber

berita, kriminal, Tak Berkategori

Pengadilan China Hukum Mati Pria Kanada Usai Putri Pendiri Huawei Ditahan

Pengadilan China Hukum Mati Pria Kanada Usai Putri Pendiri Huawei Ditahan

Beijing –

Vonis hukuman mati terhadap seorang pria Kanada atas tuduhan menyelundupkan narkotika ditengarai akan memperburuk hubungan diplomatik antara Cina dan Kanada.

Robert Lloyd Schellenberg semula divonis hukuman penjara selama 15 tahun pada 2018, namun melalui proses banding pengadilan memutuskan vonis tersebut terlalu ringan.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, mengecam vonis terhadap Schellenberg.

“Menjadi perhatian besar bagi kami sebagai pemerintah, demikian juga halnya dengan teman dan sekutu internasional kami, bahwa Cina memilih untuk menerapkan hukuman mati yang dalam kasus ini menimpa seorang warga Kanada,” sebut Trudeau.

Putusan ini dikeluarkan beberapa pekan setelah Kanada menahan Meng Wanzhou, putri pendiri perusahaan Huawei, atas permintaan Amerika Serikat.

Sejak Weng ditahan, Cina telah menahan dua warga Kanada lainnya atas tuduhan membahayakan keamanan nasional.

Huawei

Reuters

MengWanzhou adalah putri pendiriHuawei.Bagaimana kasusSchellenberg?

Schellenberg, yang diyakini berusia 36 tahun, ditahan pada 2014 atas tuduhan berencana menyelundupkan hampir 227 kilogram methamphetamine dari Cina ke Australia.

Dia divonis hukuman penjara selama 15 tahun pada November 2018. Namun, melalui proses banding, Pengadilan Tinggi di Kota Dalian, menjatuhinya hukuman mati, pada Senin (14/1).

Pengadilan juga memutuskan semua aset keuangannya harus disita.

“Saya bukan penyelundup narkotika. Saya datang ke Cina sebagai turis,” kata Schellenberg sesaat sebelum pembacaan vonis, seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Kini dia punya 10 hari untuk banding.

“Yang bisa saya katakan saat ini adalah ketakutan terbesar kami menjadi nyata,” tulis bibi Schellenberg, Lauri Nelson-Jones, kepada BBC melalui email.

“Seluruh perhatian kami tertuju pada Robert saat ini. Tidak bisa dibayangkan apa yang dia rasakan dan pikirkan. Ini adalah situasi yang mengerikan, malang, dan menyedihkan. Kami menatikan berita mengenai banding dengan cemas,” tambah Lauri.

Cina membantah menggunakan perkara Schellenberg sebagai bahan negosiasi terkait kasus Huawei.

Namun, entah apa alasannya, Cina mendadak bekerja cepat mendorong kasus Schellenberg menjadi perhatian dunia dengan mengundang sejumlah wartawan asing ke pengadilanlangkah yang tidak lazim sebagaimana dilaporkan wartawan BBC di Beijing, John Sudworth.

Lalu, meski pemerintah Kanada berargumen bahwa Schellenberg tidak bersalah, persidangan bandingnya hanya berlangsung sehari dan vonis hukuman mati dikeluarkan satu jam setelah kesimpulan, sebut Sudworth.

Bagaimana denganMengWanzhou?

Meng ditahan di Vancouver pada 1 Desember, namun pengadilan membebaskan putri pendiri perusahaan Huawei itu dari tahanan dengan uang jaminan.

Hakim di pengadilan Vancouver menetapkan Meng dapat keluar dari penjara dengan membayar 10 juta dollar Kanada atau setara dengan Rp109,4 miliar.

Meski demikian, Meng kini harus mendekam di salah satu rumahnya di Vancouver, dalam pengawasan penuh selama 24 jam sehari. Dia pun wajib memakai gelang elektronik pada kakinya agar aparat dapat terus memantau keberadaannya.

Meng, yang menjabat direktur keuangan di perusahaan telekomunikasi terbesar Cina, juga harus menghadapi proses ekstradisi ke Amerika Serikat.

AS menuduh Meng menggunakan anak perusahaan Huawei bernama Skycom untuk menghindari sanksi terhadap Iran antara 2009 dan 2014.

Kejaksaan AS menyebut Meng secara publik mencantumkan Skycom sebagai perusahaan terpisah dari Huawei dan mengelabui bank-bank mengenai hubungan kedua perusahaan.

Meng membantah tuduhan tersebut dan akan melawannya melalui koridor hukum.

Kasus Weng mengemuka di tengah sengketa dagang antara AS dan Cina.

sumber

film, hiburan, Tak Berkategori

Aquaman menurut para kritikus

Aquaman mulai tayang di bioskop-bioskop di Indonesia sejak Rabu (12/12/2018). Film garapan sutradara James Wan ini merupakan bagian keenam dari DC Extended Universe (DCEU) yang diawali dari Man of Steel (2013).

Dari lima film DCEU sebelum Aquaman, hanya Wonder Woman (2017) yang dianggap bagus secara universal oleh para kritikus.

Merujuk pada situs pengepul ulasan Rotten Tomatoes, film perempuan superhero itu mendapat rating 93 persen. Sisa film DCEU lainnya dianggap “busuk” dengan nilai lebih rendah dari 60 persen. Bagaimana dengan Aquaman?

Untuk saat ini, tampaknya DC dan Warner Bros bisa bernapas lega. Aquaman mendapat rating 75 persen dengan nilai rata-rata 6,3 dari 10 poin. Dari 64 ulasan yang masuk sejak Kamis (13/12) dini hari WIB, hanya 16 yang menganggapnya jelek.

“Aquaman menyelam dengan arus menghibur, menghadirkan tontonan pahlawan super bernuansa CGI (computer generated image/pencitraan komputer) yang memberikan aksi energik dan menyenangkan,” tulis Rotten dalam konsensus kritiknya.

Aquaman (diperankan oleh Jason Momoa) sebenarnya sudah muncul sekilas dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (2016). Ia bahkan sudah beraksi menyelamatkan dunia bersama Batman, Superman, Wonder Woman, dan Flash dalam Justice League (2018).

Namun, film Aquaman adalah kisah asal mula si manusia laut bernama asli Arthur Curry itu.

Aquaman bermula saat Ratu Atlanna (Nicole Kidman) terdampar di mercusuar yang dijaga Tom Curry (Temuera Morrison). Tom menyelamatkan perempuan itu, yang rupanya ratu kerajaan bawah laut Atlantis. Keduanya jatuh cinta dan lahirlah Arthur.

Setengah manusia darat, setengah laut; Arthur tak mau meneruskan tahta Atlantis setelah tahu sang ibu dikorbankan bangsanya sendiri karena punya anak haram dengan manusia darat.

Sampai suatu hari saudara tiri Arthur, Raja Orm (Patrick Wilson), ingin menjadi Ocean Master dan menyerang manusia darat, demi supremasi Atlantis di Planet Bumi. Melihat ambisi Orm, Putri Mera (Amber Heard) dan Vulko (Willem Dafoe) si penasehat kerajaan berusaha membujuk Arthur untuk menghadapi takdirnya dan meneruskan tahta kerajaan bawah laut.

Aquaman tidak sempurna, tapi secara keseluruhan merupakan film petualangan yang menghibur dan salah satu film terkuat dalam waralaba DCEU yang tidak konsisten,” puji Hugh Armitage dari Digital Spy.

Salah satu faktor pendukungnya adalah Momoa. Aktor kekar berotot itu dianggap cocok memerankan Aquaman yang punya moral tinggi tapi kadang konyol dan sembrono.

Dalam dua film DCEU sebelumnya, ia hanya mengucapkan satu-dua kata dan biasanya hanya gurauan. Demikian juga ketika Momoa memerankan Khal Drogo dalam serial Game of Thrones.

“Akhirnya, Aquaman memberi Momoa kesempatan untuk menantang diri sendiri. Di balik gurauan konyolnya, rupanya ada pahlawan rapuh yang pantas untuk dipuja,” tulis Armitage.

Matt Singer dari Screencrush setuju. Ia menganggap kekonyolan yang ditampilkan Momoa tetap diperlukan sebab film ini berisi hal-hal fantastis dan imajinatif seperti orang yang mengendarai kuda laut dan mampu berkomunikasi dengan ikan.

“Bahkan, Momoa mampu menjaga film ini tetap menghibur, ketika film ini berpacu dengan cepat tanpa henti dan melelahkan,” tulis Singer tentang film berdurasi 143 menit ini.

Sutradara ames Wan juga dapat pujian. Ia berhasil menampilkan porsi aksi konyol tapi menghibur seperti dilakukannya dalam The Conjuring (2013) itu dalam Furious 7 (2015).

Namun, bagian CGI untuk film ini dipertanyakan oleh Mara Reinstein dari US WeeklyAquaman sudah direncanakan untuk dibuat sejak 2004 tapi saat itu teknologi tak mampu menampilkan dunia bawah air sebagaimana mestinya. “Tapi tetap saja efek CGI oleh sutradara James Wan terlihat palsu,” cerca Reinstein.

Sang kritikus juga mencela akting Heard dan Wilson yang dianggap tak cocok memerankan Orm. Para penulis naskah juga disebut kesulitan menampilkan kisah cinta Arthur-Mera. Namun, Reinstein tetap memuji Aquaman.

“Inilah film pertama DC Comics yang menampilkan pahlawan supernya bersenang-senang. Batman, Superman, Suicide Squad, bahkan Wonder Woman yang tercinta saja bertingkah seperti orang yang kesal karena bangkrut, saat menyelamatkan dunia dari kiamat,” tulis Reinstein.

sumber

Tak Berkategori

Hasil Tottenham vs MU: Setan Merah Bungkam Tuan Rumah

Hasil Tottenham vs MU: Setan Merah Bungkam Tuan Rumah

Jakarta – Manchester United melanjutkan bulan madunya bersama Ole Gunnar Solskjaer. Melawat ke Tottenham Hotspur, ‘Setan Merah’ menang 1-0 berkat gol Marcus Rashford.

Bertandang ke Wembley, Minggu (13/1/2019) malam WIB, laga berjalan ketat. Tottenham lebih dominan dalam penguasaan bola, tapi MU begitu berbahaya dari serangan balik.

Dari serangan balik pula MU mencetak gol melalui kaki Rashford di menit ke-44. Gol ini pada prosesnya jadi satu-satunya pembeda antara kedua tim di waktu penuh.

Selain Rashford yang mencetak gol dan Paul Pogba yang mencatatkan assist, penampilan David de Gea di bawah mistar gawang MU juga patut diberi kredit. De Gea mencatatkan 11 penyelamatan sepanjang laga, berbanding tujuh milik Hugo Lloris.

Tottenham punya 21 tembakan, 11 digagalkan De Gea. Sementara MU punya 13 percobaan, delapan mengarah ke gawang.

Dengan kemenangan ini, MU terus mendekati empat besar. Masih berada di posisi enam, kini skuat besutan Solskjaer mengoleksi 41 poin dan berjarak enam poin dari Chelsea di posisi empat. Sementara Tottenham belum tergusur dari tempat ketiga dengan 48 poin.

Jalannya Pertandingan

Tottenham berupaya langsung mengontrol pertandingan. Sementara MU menerapkan pressing tinggi ke pertahanan tuan rumah.

Tottenham mencatatkan peluang bagus di menit ke-9. Son Heung-min menerima umpan dari Christian Eriksen di kiri, lalu meloloskan Harry Winks dengan umpan terobosan.

Namun Winks gagal mengarahkan tembakan ke gawang, alih-alih memberikan umpan yang tak bisa disambar siapapun.

MU merespons dua menit kemudian. Jesse Lingard mendapatkan bola liar dan mencoba melepaskan tembakan. Belum menemui sasaran karena melambung.

Tak lama kemudian, MU kembali mengancam lewat kecepatan Marcus Rashford. Kali ini tembakannya terlalu lemah dan mudah ditangani Hugo Lloris.

Giliran Martial Giliran Anthony Martial menebar bahaya untuk tuan rumah di menit ke-18. Menerima umpan Pogba di kiri, Martial menusuk ke tengah dan mencoba menembak di bawah tekanan pemain lawan. Bola dihalau Lloris dengan kaki.

MU kembali merepotkan tuan rumah di menit ke-26. Martial mencoba melengkungkan bola ke pojok kanan, tapi masih melebar.

Tottenham coba menekan MU. Dua tembakan masing-masing dari Son dan Dele Alli masih terblok di menit ke-29.

Harry Kane mencetak gol di menit ke-31, tapi dianulir. Umpan silang dari kanan disambut Alli di tiang jauh, lalu bola disontek Kane di depan gawang. Tapi dia melakukannya dalam posisi offside.

Percobaan jarak jauh dari Winks lima menit berselang. Sama sekali tak mengganggu David de Gea karena melambung jauh di atas gawang.

MU memetik keunggulan di menit ke-44 lewat serangan cepat. Umpan lambung Pogba diterima Rashford di kanan, lalu diselesaikan dengan sepakan mendatar ke pojok kiri bawah gawang. MU menutup babak pertama memimpin 1-0 atas Tottenham.

Tottenham meningkatkan intensitas di babak kedua. Kane langsung memaksa De Gea melakukan penyelamatan di menit ke-49 dengan tembakan mendatar.

Dua menit kemudian, giliran Alli mengancam. Umpan silang Kieran Trippier ditanduk Alli, namun bisa dihalau De Gea.

MU balas mengancam di menit ke-54. Bebas di sisi kanan, Ashley Young melepaskan umpan silang yang disundul Pogba di tengah kotak penalti. Masih mudah ditangkap Lloris.

Pogba nyaris menggandakan keunggulan MU di menit ke-56. Tembakannya mulanya terhalang, tapi bola pantul bisa dicocornya. Lloris dengan sigap menepis bola ke atas gawang.

Peluang dari Tottenham tiga menit berselang. Sepak pojok Eriksen disambar Kane di depan gawang, tapi De Gea bisa menahan laju bola.

MU membuang kans bagus di menit ke-62. Sodoran Martial disambut tembakan keras Pogba di depan kotak penalti. Lloris menjatuhkan diri untuk menepis bola.

Gantian Tottenham lagi mendapatkan kans mencetak gol. Lamela menyerobot bola dari Pogba dan mengoper ke Kane. Kane lalu meneruskannya ke Alli yang tinggal menghadapi De Gea. Hanya saja sepakannya terbaca oleh kiper MU itu dan terhalau.

De Gea kembali menunjukkan kelasnya di menit ke-70. Sepak pojok Eriksen dari kanan disambar Toby Alderweireld di tiang dekat. De Gea menepisnya dengan refleks yang cemerlang.

Empat menit berselang, Alli menguji De Gea. De Gea lagi-lagi mampu mencegah bola masuk ke gawangnya.

De Gea benar-benar dibuat sibuk oleh Tottenham. Kane mendapatkan peluang usai menerima umpan Fernando Llorente di menit ke-86. Bola mendatar dihalau De Gea dengan kaki.

Tiga menit berikutnya, Llorente menerima bola di depan gawang. Sontekannya masih mengarah ke kiper. Tottenham berusaha mengepung MU di sisa waktu, tapi tak berhasil mendapatkan gol.

Susunan pemain:

Tottenham: Hugo Lloris; Kieran Trippier, Toby Alderweireld, Jan Vertonghen, Ben Davies; Moussa Sissoko (Erik Lamela 43′), Harry Winks (Fernando Llorente 81′), Christian Eriksen; Dele Alli; Harry Kane, Son Heung-min

MU: David De Gea; Ashley Young, Victor Lindelof, Phil Jones, Luke Shaw; Ander Herrera, Nemanja Matic; Jesse Lingard (Diogo Dalot 83′), Paul Pogba (Scott McTominay 93′), Anthony Martial (Romelu Lukaku 73′); Marcus Rashford
(raw/nds)

esai, sastra, Tak Berkategori

Kebebasan Menulis

Hasil gambar untuk orhan pamuk

Orhan Pamuk

(diterjemahkan oleh Maureen Freely)

Pada bulan Maret tahun 1985 Arthur Miller* dan Harold Pinter** sama-sama mengunjungi Istanbul. Di masa itu, mereka adalah dua nama terbesar di dunia teater, namun sayangnya, kunjungan mereka ke Istanbul tidak ada sangkut-pautnya dengan drama teater ataupun acara kesusastraan, melainkan keterbatasan yang tanpa ampun terhadap kebebasan berekspresi di Turki. Banyak sekali penulis yang dijebloskan ke penjara karena tulisan mereka waktu itu.

Peristiwa kudeta yang terjadi di Turki pada tahun 1980 menyebabkan ratusan ribu orang dijebloskan ke penjara; dan, seperti biasa, penulis jadi sasaran paling empuk. Setiap kali saya menilik artikel-artikel lawas dari berbagai surat kabar, serta kalender dari masa itu, saya seolah mengingatkan diri sendiri tentang apa yang terjadi saat itu—dan bayangan yang terlintas di kepala saya, lumrahnya, adalah suatu adegan yang menjadi ciri utama era tersebut: para lelaki duduk berjajar di ruang pengadilan, dikapit para gendarme (polisi), dengan kepala plontos dan dahi berkerut sementara kasus mereka terus diproses… Di antara kumpulan lelaki itu ada banyak sekali penulis, dan tujuan kunjungan Arthur dan Harold adalah untuk menemui mereka serta keluarga mereka, juga untuk menawarkan bantuan. Lebih dari itu, arti kunjungan mereka adalah untuk mengangkat kasus ketidakadilan yang dialami para penulis Turki agar semua orang di dunia tahu.

Perjalanan kedua penulis tersohor tersebut diatur dan didanai oleh dua institusi besar yang mendukung kebebasan berekspresi di seluruh dunia: PEN dan Helsinki Watch Committee***. Saya berangkat ke bandara untuk menemui mereka, karena seorang teman saya dan saya telah ditunjuk untuk jadi pemandu mereka.

Penunjukkan saya sebagai pemandu para penulis tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan kiprah saya di dunia politik saat itu, melainkan karena saya adalah seorang novelis yang mahir berbahasa Inggris; dan saya dengan senang hati menerima penugasan tersebut. Pertama, saya bisa membantu teman-teman sesama penulis yang sedang berkesusahan; kedua, saya bisa menghabiskan waktu selama beberapa hari bersama dua penulis hebat.

Akhirnya, kami berempat pergi mengunjungi beberapa rumah penerbitan yang berskala kecil dan masih berjuang untuk bertahan; ruang-ruang redaksi surat kabar yang berantakan; serta kantor-kantor majalah lokal yang berdebu, gelap dan nampaknya berada di ambang kebangkrutan. Kami juga berkunjung dari satu rumah penduduk ke rumah penduduk lainnya; selain itu, kami pun menghampiri beberapa restoran—semua ini guna menemui para penulis yang tengah ditargetkan pemerintah Turki beserta keluarga mereka.

Sebelumnya, sudah cukup bagi saya untuk berdiri di pinggiran lingkar politik, menolak untuk masuk kecuali dipaksa; tapi sekarang, setelah saya mendengar sendiri kisah-kisah pilu tentang penindasan, kekejaman dan kejahatan yang dilakukan aparat negara terhadap para penulis Turki, saya merasa tertarik ke dalam lingkaran yang sama karena rasa bersalah yang tak terbendung. Selain rasa bersalah, saya juga merasakan efek solidaritas, meski pada saat bersamaan, saya merasakan hasrat yang sama besarnya untuk melindungi diri saya sendiri dari semua ini. Keinginan utama saya hanyalah untuk menulis novel-novel indah seumur hidup saya.

Kami mengajak Arthur dan Harold naik taksi dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, melewati lalu-lintas kota Istanbul, dan saya ingat bagaimana kami membahas perihal para pedagang asongan di tengah kota. Kami juga membahas soal kereta kuda, poster bioskop, dan para wanita Turki yang tak bercadar serta tak berjilbab dan selalu membuat para wisatawan dari negara-negara Barat tercengang takjub. Namun ada satu adegan yang sangat jelas dalam ingatan saya: di ujung sebuah koridor panjang di hotel Istanbul Hilton, teman saya dan saya tengah berbisik seru, sementara di ujung lain koridor yang sama, Arthur dan Harold tengah berbisik juga di antara bayang-bayang gelap, dengan keseruan yang sama. Adegan ini terus terukir dalam pikiran saya—mungkin karena ia mewakili jarak yang sangat jauh antara sejarah negara kami yang begitu kompleks, dan sejarah negara mereka yang tak kalah rumit. Tetapi keberadaan kami di koridor yang sama menunjukkan bahwa bentuk solidaritas antar penulis adalah hal yang mungkin dan cukup efektif untuk menumbuhkan secercah harapan bagi para penulis yang tengah menunggu eksekusi.

Saya merasakan beban kebanggaan dan rasa malu yang sama di setiap pertemuan—tiap-tiap ruangan yang kami masuki selalu sarat akan pria-pria bermasalah dan asap rokok yang tak ada habisnya. Saya mengetahui hal ini karena sesekali masalah itu dibuka di depan umum; namun selebihnya saya bisa melihat kegelisahan yang hebat dari gerak-gerik dan ekspresi mereka. Para penulis, pemikir, dan jurnalis yang kami temui di masa itu sebagian besar mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai orang-orang beraliran kiri; maka bisa dikatakan bahwa masalah mereka terkait langsung dengan kebebasan yang diagung-agungkan oleh paham demokrasi liberal dari Barat. Dua puluh tahun kemudian, saat saya menemui separuh dari orang-orang yang saya temui saat itu—atau sekitar itu, saya tidak ingat jumlah pastinya—mereka justru berbalik arah dan membela paham nasionalisme yang berseberangan dengan Pembaratan dan demokrasi. Tentunya, hal ini membuat saya sedih.

Pengalaman saya sebagai pemandu, dan seperti pengalaman lain dalam hidup, mengajarkan saya sesuatu yang sudah kita ketahui dengan baik, tetapi ingin saya tekankan dalam esai ini. Apapun negaramu, kebebasan berpikir dan berekspresi adalah hak asasi manusia. Kebebasan ini, yang diinginkan oleh masyarakat modern sama seperti mereka merindukan roti dan air, tidak seharusnya dibatasi oleh sentimen nasionalis, moralisme, atau—lebih parahnya—kepentingan bisnis dan militer. Bila ada banyak negara di luar wilayah Barat terpaksa menanggung malu karena tingkat kemiskinan yang terus meningkat, itu tidak disebabkan oleh kebebasan bereskpresi, melainkan karena mereka tidak punya kebebasan berekspresi. Sementara mereka yang beremigrasi dari negara-negara miskin tersebut ke negara-negara Barat, atau Utara, demi meninggalkan kesulitan ekonomi dan bentuk penindasan keji—seperti yang kita ketahui, terkadang mereka justru mendapati diri mereka lebih ditindas oleh paham rasisme di negara-negara kaya. Ya, kita juga harus waswas terhadap orang-orang yang merendahkan para imigran dan kaum minoritas dengan alasan agama, akar budaya, atau dengan alasan kejahatan yang telah dilakukan pemerintah negara asal para imigran terhadap orang-orang dari negara-negara kaya tersebut.

Akan tetapi, menghormati kemanusiaan dan paham keagamaan kaum minoritas bukan berarti kita harus membatasi kebebasan berpikir orang yang berseberangan dengan kita, meski pikiran mereka tergolong rasis ataupun tak lazim.

Benar, kita memang harus menghargai hak-hak asasi kaum minoritas, tapi itu bukan artinya kita bisa seenaknya membungkam orang-orang yang tidak setuju dengan cara pikir kita. Sebagai penulis, kita seharusnya tidak meragukan ini. Tak peduli seberapa provokatif pesan yang disampaikan siapapun, kita tidak boleh membungkam orang seenaknya.

Sebagian dari kita memang lebih paham tentang norma-norma Barat, sementara sebagian lain lebih condong terhadap norma-norma Timur; dan masih ada sebagian kecil penulis, seperti saya, yang lebih senang membuka diri dan berada di garis tengah kedua paham tersebut. Namun keterkaitan kita dan hasrat kita untuk mengerti mereka yang berbeda dari kita tidak seharusnya jadi alasan bagi kita untuk membatasi rasa hormat kita terhadap hak-hak asasi manusia.

Saya selalu kesulitan mengekspresikan pandangan saya terhadap dunia politik dengan jelas, kuat dan penuh empati—saya selalu merasa pretensius, seolah apa-apa yang saya ucapkan tidak ada artinya, atau tidak benar. Ini disebabkan oleh kesadaran bahwa saya tidak mungkin mengerucutkan pemikiran saya tentang hidup ke dalam satu corong suara, atau satu sudut pandang—karena toh saya ini seorang novelis, jenis penulis yang selalu dituntut untuk bisa mewujudkan pemikiran tiap-tiap tokohnya, terutama tokoh-tokoh antagonis.

Hidup dalam dunia fiksi, di mana, dalam waktu singkat, seorang korban tirani dan penindasan bisa tiba-tiba berubah jadi seorang tiran dan diktator, saya juga sadar bahwa kepercayaan absolut terhadap proses dan manusia adalah hal yang tidak gampang. Saya juga percaya bahwa sebagian besar dari kita senang memikirkan hal-hal yang kontradiktif secara bersamaan, meski tidak dengan tujuan buruk.

Kesenangan saya untuk menulis novel pada dasarnya datang dari keingintahuan saya terhadap kondisi masyarakat modern yang cenderung senang mengontradiksi buah pikiran mereka sendiri. Justru karena cara pikir kita yang modern ini terlalu mudah bergeser maka kita butuh sekali kebebasan berekspresi: supaya kita paham tentang diri kita sendiri, paham tentang pemikiran kita yang terkadang kontradiktif dan mencurigakan, serta paham tentang rasa bangga dan rasa malu yang kerap hadir melebur jadi satu, yang tadi saya sebut.

Izinkan saya untuk menyampaikan cerita lain yang mungkin bisa menjelaskan konsep rasa bangga dan rasa malu yang saya rasakan dua puluh tahun lalu di saat saya sedang mengajak Arthur dan Harold berkeliling Istanbul. Sepuluh tahun setelah kunjungan mereka, serangkaian kebetulan yang digerakkan oleh itikad baik, amarah, rasa bersalah, dan dendam pribadi menggiring saya untuk menyampaikan serentetan pernyataan kepada publik tentang kebebasan berekspresi yang tak ada hubungannya dengan novel-novel saya. Dalam waktu singkat, peran saya di kancah politik jadi membesar tak terkendali, jauh lebih besar dari yang saya bayangkan sebelumnya. Di saat yang sama, penulis asal India yang menyusun laporan tentang kebebasan berekspresi di Turki untuk keperluan data PBB—seorang pria yang sudah cukup berumur—datang ke Istanbul mencari saya. Anehnya, kami juga berjumpa di Hotel Hilton. Belum lagi kami sempat duduk di meja makan, pria asal India itu melontarkan pertanyaan yang masih terngiang di telinga saya hingga saat ini: “Mr. Pamuk, hal apa saja yang terjadi di negaramu yang ingin kau sampaikan dalam buku-bukumu, namun terpaksa kau undurkan, karena takut dipersekusi?”

Pertanyaan itu disusul oleh kebungkaman yang cukup lama. Tak siap dengan jawaban, saya sibuk berpikir dan berpikir dan berpikir. Akhirnya, saya masuk ke dalam proses tanya-jawab dengan diri sendiri ala-ala Dostoevski. Sudah jelas bahwa apa yang ditanyakan oleh pria dari PBB adalah: “Mengingat segala tabu, larangan hukum dan aturan yang opresif di Turki, apa yang masih belum terucapkan?” Tapi karena dia bertanya kepada seorang penulis muda yang duduk di hadapannya dan—entah kenapa, mungkin karena tidak enak—meminta penulis muda itu untuk menjawab sesuai dengan kapasitasnya sebagai seorang novelis; saya yang belum banyak pengalaman menjawab pertanyaan macam ini pun akhirnya menerima pertanyaannya mentah-mentah. Turki yang saya kenal sepuluh tahun lalu memang sangat ketat terhadap apa-apa yang tidak boleh dibahas di khalayak umum, dan larangan ini dilindungi oleh hukum negara yang sangat opresif. Namun selagi saya menyebut satu-satu bentuk larangan yang dipaksakan kepada para penulis, pemikir dan jurnalis di masa itu, saya sadar bahwa tak ada satu pun yang ingin saya angkat “dalam bentuk novel”. Tapi saya juga sadar bahwa bila saya mengucapkan, “Tak ada yang ingin saya sampaikan dalam bentuk novel yang tak bisa saya bicarakan secara terbuka,” saya pasti memberikan kesan yang salah. Karena saya sudah sering mengangkat isu-isu berbahaya ini di luar novel-novel saya. Lebih dari itu, bukankah saya sudah sering mengangkat dan berfantasi tentang isu-isu ini dalam novel-novel saya justru karena itu dilarang? Selagi saya memikirkan semua itu, saya jadi malu terhadap kebungkaman saya dan mengonfirmasi dalam hati saya bahwa kebebasan berekspresi berakar pada kebanggaan dan karenanya, pada intinya, merupakan bagian besar dari cara kita mengekspresikan harga diri kita.

Saya kenal baik dengan banyak penulis yang sengaja mengangkat topik-topik terlarang justru karena mereka dilarang. Saya juga tak jauh beda dengan mereka. Sebab bila ada seorang penulis yang kebebasannya dikekang dan suaranya dibungkam, di mana pun dia berada, maka itu artinya tak ada penulis yang benar-benar bebas. Inilah semangat yang menguatkan tingkat solidaritas yang dirasakan oleh institusi besar seperti PEN, yang dirasakan semua penulis di dunia.

Sesekali ada saja teman yang akan menasihati saya seperti ini: “Seharusnya jangan menulis seperti itu, tulis saja seperti ini, supaya tidak menyinggung perasaan orang, supaya jauh dari masalah.” Tapi yang tidak mereka mengerti adalah bahwa bila saya mengubah kata-kata dan membungkusnya dengan cara berbeda, yang lebih bisa diterima oleh semua orang dalam kultur penindasan, dan melakukannya dengan baik, maka saya tidak ada bedanya dengan seorang kriminal yang terbiasa menyelundupkan barang-barang berharga tanpa sepengetahuan petugas bea dan cukai—dan hal itu tak hanya akan mengundang malu, tapi juga merendahkan.

Tema festival PEN tahun ini adalah akal budi dan kepercayaan. Saya mengangkat cerita-cerita tadi dalam esai ini untuk mengilustrasikan satu kebenaran—bahwa kenikmatan untuk mengutarakan apa saja yang ingin kita sampaikan sangat erat kaitannya dengan harga diri manusia. Maka mari kita bertanya pada diri sendiri seberapa “masuk akalnya” bagi kita untuk merendahkan budaya dan agama orang lain, atau lebih tepatnya, menghancurkan negara-negara orang, atas nama demokrasi dan kebebasan berpikir. Bagian dunia tempat tinggal saya tidak lantas berubah jadi lebih demokratis setelah semua pembunuhan itu terjadi. Dalam perang melawan Irak, serta segala macam bentuk penindasan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap lebih dari seratus ribu orang—tidak satu pun dari pengorbanan itu yang membawa kedamaian, ataupun demokrasi. Justru sebaliknya, semua peristiwa tersebut telah memicu semangat nasionalis dan amarah anti-Barat. Segala hal yang bersangkutan dengan kaum minoritas dan mereka-mereka yang berupaya menegakkan demokrasi serta memperjuangkan paham sekuler di Timur Tengah jadi jauh lebih sulit. Perang keji dan tak beradab ini adalah malu yang harus ditanggung oleh pihak Amerika dan negara-negara Barat sekutunya. Organisasi seperti PEN dan penulis seperti Harold Pinter dan Arthur Miller adalah sumber kebanggaan. FL

sumber