basket, olahraga

Savon Goodman Antar Divisi Putih Juara IBL All Star

Foto: dok. IBL

Solo – Divisi Putih berhasil memenangi Indonesian Basketball League (IBL) All Star 2019 di Sritex Arena, Minggu (13/1). Savon Goodman berkontribusi signifikan untuk kemenangan tim atas Divisi Putih 112-109.

Divisi Putih, yang menurunkan starting five Andakara Prastawa Dhyaksa, Kore White, Kaleb Ramot Gemilang, dan Savon. Lima pemain cadangan di Divisi Putih diisi Kelly Purwanto, Mei Joni, Kaleb Ramot Gemilang, Savon Goodman, dan Martavious Irving. Mereka ditangani oleh pelatih Stapac Jakarta Giedrius Zibenas.

Sementara itu, di kubu Divisi Merah diperkuat oleh braham Wenas, Jamarr Johnson, Arki Dikania Wisnu, Dior Lowhorn, dan Galank Gunawan. Yanuar Priasmoro, Gary Jacobs Jr, Reza Guntara, Hardianus, dan Anthony Simpson. Tim ini dipegang oleh kepala pelatih Wahyu Wahyu Jati.

Pemain dari kedua tim tampil menghibur sejak tip off. Aksi-aksi menawan dan kocak menjadi sajian dalam laga IBL All Star.

Savon Goodman Antar Divisi Putih Juara IBL All StarFoto: dok. IBL

Sebanyak 2.500 penonton yang memadati Sritex Arena, dihibur oleh aksi ciamik Gibbs. Pemain asing Satya Wacana Salatiga itu membuat 12 poin yang seluruhnya dibuat dari three points. Pada kuarter pertama itu, Savon membuat delapan poin.

Di akhir pertandingan, Divisi Putih menang atas Divisi Merah 109-112. Di akhir pertadingan, Savon membuat 37 poin dan didapuk sebagai pemain terbaik (MVP) IBL All Star. Sementara itu, dari Divisi Merah, Jacobs menjadi pencetak poin terbanyak. Pemain asing Hangtuah itu membuat 37 poin.

“Senang sekali bisa menghibur penonton malam ini. Teman-teman banyak membantu. Saya sangat gembira di musim pertama bisa bergabung dengan IBL All Star dan dapat dua penghargaan,” kata Savon.

ANdakara Prastawa menjadi pemenang three point. Andakara Prastawa menjadi pemenang three point. Foto: dok. IBL

Ya, selain menjadi MVP IBL All Star 2018, Savon meraih predikat slam dunk terbaik. Kontes itu dilakukan sebelum pertandingan IBL All Star digeber.

Sementara itu, predikat terbaik pada kontes Skill Challenge dimenangkan oleh tim yang diperkuat oleh Hardianus, Abraham Wenas, Abraham Damar Grahita, dan Kaleb Ramot Gemilang.

Untuk kategori Three Point dimenangkan Prastawa. Dia mengalahkan peserta yang memiliki akurasi three point tajam saat berlaga di liga; Madarious Gibbs, Andakara Prastawa, Maratvious Irving, David Atkinson, Mei Joni, dan Neno.

sumber

Tak Berkategori

Hasil Tottenham vs MU: Setan Merah Bungkam Tuan Rumah

Hasil Tottenham vs MU: Setan Merah Bungkam Tuan Rumah

Jakarta – Manchester United melanjutkan bulan madunya bersama Ole Gunnar Solskjaer. Melawat ke Tottenham Hotspur, ‘Setan Merah’ menang 1-0 berkat gol Marcus Rashford.

Bertandang ke Wembley, Minggu (13/1/2019) malam WIB, laga berjalan ketat. Tottenham lebih dominan dalam penguasaan bola, tapi MU begitu berbahaya dari serangan balik.

Dari serangan balik pula MU mencetak gol melalui kaki Rashford di menit ke-44. Gol ini pada prosesnya jadi satu-satunya pembeda antara kedua tim di waktu penuh.

Selain Rashford yang mencetak gol dan Paul Pogba yang mencatatkan assist, penampilan David de Gea di bawah mistar gawang MU juga patut diberi kredit. De Gea mencatatkan 11 penyelamatan sepanjang laga, berbanding tujuh milik Hugo Lloris.

Tottenham punya 21 tembakan, 11 digagalkan De Gea. Sementara MU punya 13 percobaan, delapan mengarah ke gawang.

Dengan kemenangan ini, MU terus mendekati empat besar. Masih berada di posisi enam, kini skuat besutan Solskjaer mengoleksi 41 poin dan berjarak enam poin dari Chelsea di posisi empat. Sementara Tottenham belum tergusur dari tempat ketiga dengan 48 poin.

Jalannya Pertandingan

Tottenham berupaya langsung mengontrol pertandingan. Sementara MU menerapkan pressing tinggi ke pertahanan tuan rumah.

Tottenham mencatatkan peluang bagus di menit ke-9. Son Heung-min menerima umpan dari Christian Eriksen di kiri, lalu meloloskan Harry Winks dengan umpan terobosan.

Namun Winks gagal mengarahkan tembakan ke gawang, alih-alih memberikan umpan yang tak bisa disambar siapapun.

MU merespons dua menit kemudian. Jesse Lingard mendapatkan bola liar dan mencoba melepaskan tembakan. Belum menemui sasaran karena melambung.

Tak lama kemudian, MU kembali mengancam lewat kecepatan Marcus Rashford. Kali ini tembakannya terlalu lemah dan mudah ditangani Hugo Lloris.

Giliran Martial Giliran Anthony Martial menebar bahaya untuk tuan rumah di menit ke-18. Menerima umpan Pogba di kiri, Martial menusuk ke tengah dan mencoba menembak di bawah tekanan pemain lawan. Bola dihalau Lloris dengan kaki.

MU kembali merepotkan tuan rumah di menit ke-26. Martial mencoba melengkungkan bola ke pojok kanan, tapi masih melebar.

Tottenham coba menekan MU. Dua tembakan masing-masing dari Son dan Dele Alli masih terblok di menit ke-29.

Harry Kane mencetak gol di menit ke-31, tapi dianulir. Umpan silang dari kanan disambut Alli di tiang jauh, lalu bola disontek Kane di depan gawang. Tapi dia melakukannya dalam posisi offside.

Percobaan jarak jauh dari Winks lima menit berselang. Sama sekali tak mengganggu David de Gea karena melambung jauh di atas gawang.

MU memetik keunggulan di menit ke-44 lewat serangan cepat. Umpan lambung Pogba diterima Rashford di kanan, lalu diselesaikan dengan sepakan mendatar ke pojok kiri bawah gawang. MU menutup babak pertama memimpin 1-0 atas Tottenham.

Tottenham meningkatkan intensitas di babak kedua. Kane langsung memaksa De Gea melakukan penyelamatan di menit ke-49 dengan tembakan mendatar.

Dua menit kemudian, giliran Alli mengancam. Umpan silang Kieran Trippier ditanduk Alli, namun bisa dihalau De Gea.

MU balas mengancam di menit ke-54. Bebas di sisi kanan, Ashley Young melepaskan umpan silang yang disundul Pogba di tengah kotak penalti. Masih mudah ditangkap Lloris.

Pogba nyaris menggandakan keunggulan MU di menit ke-56. Tembakannya mulanya terhalang, tapi bola pantul bisa dicocornya. Lloris dengan sigap menepis bola ke atas gawang.

Peluang dari Tottenham tiga menit berselang. Sepak pojok Eriksen disambar Kane di depan gawang, tapi De Gea bisa menahan laju bola.

MU membuang kans bagus di menit ke-62. Sodoran Martial disambut tembakan keras Pogba di depan kotak penalti. Lloris menjatuhkan diri untuk menepis bola.

Gantian Tottenham lagi mendapatkan kans mencetak gol. Lamela menyerobot bola dari Pogba dan mengoper ke Kane. Kane lalu meneruskannya ke Alli yang tinggal menghadapi De Gea. Hanya saja sepakannya terbaca oleh kiper MU itu dan terhalau.

De Gea kembali menunjukkan kelasnya di menit ke-70. Sepak pojok Eriksen dari kanan disambar Toby Alderweireld di tiang dekat. De Gea menepisnya dengan refleks yang cemerlang.

Empat menit berselang, Alli menguji De Gea. De Gea lagi-lagi mampu mencegah bola masuk ke gawangnya.

De Gea benar-benar dibuat sibuk oleh Tottenham. Kane mendapatkan peluang usai menerima umpan Fernando Llorente di menit ke-86. Bola mendatar dihalau De Gea dengan kaki.

Tiga menit berikutnya, Llorente menerima bola di depan gawang. Sontekannya masih mengarah ke kiper. Tottenham berusaha mengepung MU di sisa waktu, tapi tak berhasil mendapatkan gol.

Susunan pemain:

Tottenham: Hugo Lloris; Kieran Trippier, Toby Alderweireld, Jan Vertonghen, Ben Davies; Moussa Sissoko (Erik Lamela 43′), Harry Winks (Fernando Llorente 81′), Christian Eriksen; Dele Alli; Harry Kane, Son Heung-min

MU: David De Gea; Ashley Young, Victor Lindelof, Phil Jones, Luke Shaw; Ander Herrera, Nemanja Matic; Jesse Lingard (Diogo Dalot 83′), Paul Pogba (Scott McTominay 93′), Anthony Martial (Romelu Lukaku 73′); Marcus Rashford
(raw/nds)

berita, kriminal

Perusakan Polsek Ciracas Dinilai Lecehkan Penegakan Hukum

Perusakan Polsek Ciracas Dinilai Lecehkan Penegakan Hukum

Jakarta, CNN Indonesia — Sejumlah aktivis yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menilai perusakan kantor Kepolisian Sektor Ciracas, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu sebagai bentuk pelecehan terhadap penegakan hukum. Koalisi juga menilai ada ketidakadilan dalam proses penegakan hukum atas peristiwa tersebut.

Koalisi menduga kuat perusakan itu memang erat kaitannya dengan kasus pengeroyokan terhadap kapten TNI di lahan parkir di salah satu minimarket. Direktur LBH Jakarta, Arif Maulana mengatakan, penegakan hukum harusnya tak hanya berhenti pada pelaku perusakan Polsek, tapi juga oknum-oknum yang melakukan perusakan terhadap rumah keluarga tersangka pengeroyokan anggota TNI tersebut.

“Ini sebuah kondisi penegakan hukum dilecehkan, dugaannya itu berkaitan dengan kasus pidana yang kemudian belum diproses dalam dua hari,” ujar Arif Maulana, mewakili koalisi dalam konferensi pers di Amnesty Internasional, Jakarta Pusat, Senin (17/12).

Koalisi tersebut terdiri dari Amnesty Internasional Indonesia, Imparsial, KontraS, ICW, Elsam, Setara Institute, ILR, HRWG, PBHI, Perludem, LBH Jakarta, YLBHI dan Institut Demokrasi. Koalisi meyakini perusakan kantor polisi itu diduga erat kaitannya dengan pengeroyokan kapten TNI AL dan pasukan TNI AD oleh sejumlah juru parkir.

“Jadi kalau kasus ini tidak diungkap, tidak diselesaikan, sebetulnya kasus ini adalah pelecehan terhadap penegakan hukum di Indonesia,” ucapnya.

Menurut Arif, pihaknya menuntut supaya terjadi kesetaraan dalam penegakan hukum. Kesetaraan itu baru akan muncul jika polisi melakukan penyelidikan dan menangkap pelaku yang melakukan perusakan terhadap rumah salah satu keluarga pelaku.

“Keberanian kepolisian untuk menuntaskan kasus ini. Itu adalah bukti bahwa hukum itu diterapkan setara jangan sampai hukumnya hanya tajam untuk masyarakat yang dituduh mengeroyok aparat negara TNI tetapi bagaimana dengan rumah warga yang dirusak dan juga simbol penegakan hukum, simbol negara hukum Indonesia itu tidak diusut tuntas,” tuturnya.

Selain itu, Arif mengatakan tindakan main hakim sendiri seharusnya menjadi catatan penting untuk kepolisian. Hal tersebut mengingat tindakan main hakim sendiri kerapkali terjadi sehingga diartikan sebagai ketidakpuasan masyarakat terhadap penanganan proses hukum.

“Ini jadi catatan dan peringatan kepada aparat penegakan hukum kita untuk kemudian melakukan proses penegakan sesuai dengan ketentuan hukum berlaku. Jangan sampai hanya tajam untuk masyarakat sipil, masyarakat kecil tapi sulit untuk ditegakkan ke aparat penegak hukum dan mereka yang berkuasa,” ujarnya.

Psikologi Polri
Direktur Amnesty Internasional Usman Hamid menduga secara psikologi Polri tidak mampu untuk menangkap atau memproses hukum TNI yang terlibat dalam pelanggaran hukum. Salah satunya berkaitan dengan psikologi Polri yang melihat TNI sebagai kakak tertua dalam lembaga keamanan negara.

“Kita tahu kepolisian memiliki kendala struktural dan sering kali kendala psikologi untuk memanggil anggota TNI, itu rasanya bagaimana ya, karena dianggap dulu mereka adalah kakak tertua dalam praktik 30 tahun lebih di masa orba,” ujarnya.

Usman juga mempertanyakan kenapa polisi tidak mengusut pelaku pembakaran Polsek Ciracas. Padahal petunjuk untuk mengetahui dan menindak pelaku perusakan dapat dengan mudah diperoleh.

Selain itu, dia juga mempertanyakan tujuan dari tim investigasi yang dibentuk TNI. Menurut dia, jika TNI tidak terlibat dalam perusakan Polsek itu maka tim investigasi tidak perlu dibentuk. “Ini bukan kebencian pada TNI, bukan. Ini semata TNI juga yang enggak boleh membiarkan anggotanya melakukan pelanggaran hukum apalagi membiarkan dan membenarkannya,” tutur dia. (gst/ain)

sumber

cerpen, sastra

Menuju Abashiri

Hasil gambar untuk shiga naoya

Shiga Naoya

Di Utsunomiya, aku berkata kepada seorang teman, “Aku akan mampir ke tempatmu dalam perjalananku kembali dari Nikko.” Dia membalas, “Ajak aku sekalian — aku akan menemanimu ke Nikko.”

Saat itu, meski di bulan Agustus, cuaca terasa sangat panas. Aku memilih naik kereta yang berangkat pukul 4:20 sore dan berencana untuk turun di stasiun tidak jauh dari tempat tinggal temanku. Kereta itu bertujuan ke Aomori. Begitu aku tiba di Stasiun Ueno, segerombolan orang terlihat mengerumuni pintu gerbang tempat penjualan tiket. Aku pun segera bergabung dengan mereka.

Ketika bel berdentang, pintu gerbang itu langsung dibuka dari dalam. Suara alat pembolong tiket mulai mengisi ruangan, berdecak tanpa henti. Orang-orang meringis seraya menarik koper-koper mereka yang terhimpit di antara pagar; dan sejumlah orang terdorong keluar dari gerombolan antrian panik berusaha untuk menyeruak masuk kembali ke dalam gerombolan yang sama; namun tidak sedikit yang menghalang-halangi mereka — ini bukan hal yang aneh di tengah keramaian stasiun kereta.

Seorang polisi yang berdiri di belakang si penjual tiket mengamati masing-masing pembeli dengan tatapan kesal. Dan mereka yang berhasil membeli tiket bergegas ke arah peron dengan langkah kecil nan cepat. Seraya mengabaikan panggilan para portir yang berbunyi: “Banyak kursi kosong di gerbong depan, banyak kursi kosong di gerbong depan”, para penumpang justru mengerumuni gerbong-gerbong terdekat. Dengan tujuan menduduki gerbong terdepan kereta, aku buru-buru melewati kerumunan penumpang yang saling berdesakkan.

Seperti yang kuduga, gerbong-gerbong di bagian depan kereta nyaris kosong melompong. Aku menumpangi kompartemen terakhir di gerbong paling depan. Orang-orang yang gagal mendapatkan tempat duduk di gerbong-gerbong belakang segera menyusul ke gerbong yang sama. Namun, hanya ada tempat untuk sebagian dari mereka saja. Waktu berangkat hampir tiba. Baik di gerbong depan maupun belakang, terdengar suara pintu-pintu yang tergeser menutup, dibarengi oleh bunyi klik yang menandai bahwa pintu-pintu itu telah tertutup rapat. Seorang portir, yang baru saja hendak menutup pintu kompartemen yang kutumpangi, mengangkat tangannya di udara.

“Di sini, nyonya. Sebelah sini.” Ia menarik pintu itu hingga terbuka lagi dan menunggu. Seorang wanita berambut tipis dan berkulit pucat, yang usianya kira-kira sekitar dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun, dengan seorang bayi di punggung, dan sebelah tangan memegang seorang bocah laki-laki, masuk ke dalam kompartemenku. Kereta yang kami tumpangi mulai bergerak.

Wanita itu duduk di sisi yang agak jauh, di dekat jendela, di mana matahari sore sedang memancarkan cahaya temaram. Hanya itu satu-satunya kursi kosong yang tersisa.

“Ibu. Minggir.” Bocah laki-laki itu berusia tujuh tahun, dan ia mengerutkan dahi ketika ia berbicara kepada wanita tersebut.

“Di sini panas.” Wanita itu berkata dengan nada lemah, seraya menurunkan bayinya dari balik punggung.

“Aku suka udara panas.”

“Bila kau duduk dekat sinar matahari, nanti pakaian dalam yang kau kenakan akan terasa gatal.”

“Terus kenapa?” Bocah itu menatap ibunya dengan mata mendelik, seraya menunjukkan ekspresi menantang.

“Taki.” Sang ibu mendekatkan wajahnya dengan wajah bocah tersebut. “Perjalanan kita masih jauh. Kalau pakaian dalam yang kau kenakan terasa gatal, Ibu tidak tahu harus bagaimana. Ibu akan sangat sedih. Kau adalah anak yang baik. Tolong dengarkan nasihat Ibu. Nanti sebentar lagi pasti akan tersedia kursi yang tidak terkena sinar matahari. Begitu kursi itu tersedia, kau akan duduk di sana. Kau mengerti?”

“Kepalaku pening sekali,” tutur si bocah, memaksa agar keinginannya dikabulkan. Ibunya menunjukkan ekspresi sedih.

“Ibu tidak tahu harus bagaimana.”

Tiba-tiba aku angkat suara:

“Duduk di sini saja.” Aku menggeser posisi dudukku agar merapat ke jendela. “Di sini tidak terkena sinar matahari.”

Bocah itu melempar tatapan kurang bersahabat ke arahku. Dasar bocah pucat berkepala datar, umpatku dalam hati. Ia membuatku merinding. Hidung dan telinganya sama-sama tersumpal kapas.

“Oh, Anda baik sekali.” Seutas senyum tergurat di wajah sang ibu yang tadinya sedih, kemudian dengan sebelah tangan ia menyentuh punggung si bocah, seolah hendak mendorongnya ke dekatku. “Taki, ucapkan terima kasih. Duduklah di tempat yang disediakan Tuan ini.”

“Ayo.” Kugamit tangan bocah itu dan membimbingnya agar duduk di sampingku. Dengan ekspresi aneh, bocah tersebut sesekali memandangiku, namun setelah beberapa saat berlalu, pandangannya beralih ke pemandangan di luar jendela kereta.

“Coba, jangan alihkan pandanganmu dari sana. Takutnya nanti ada debu yang melayang ke matamu.”

Bahkan saat aku mengatakan itu, si bocah tidak menjawab. Waktu berlalu, dan kami tiba di Uruwa. Di sini, dua orang yang duduk di hadapanku turun dari kereta. Sang ibu menempati kursi mereka lengkap bersama tas kopernya. Aku menyebutnya “koper”, meski nyatanya yang dibawa wanita itu tak lebih dari sekadar tas kain yang biasa diselempangkan di pundak, sekaligus selembar selendang.

“Ayo, Taki, duduk di dekat Ibu. Terima kasih banyak, Tuan.” Wanita itu menundukkan kepalanya dengan sopan ke arahku. Bayi yang sedari tadi tertidur karena diayun oleh pergerakan kereta, kini terbangun dan mulai menangis.

“Sudah, sudah, jangan menangis.” Sang ibu kini mengayun bayinya di atas pangkuan, seraya berusaha menenangkannya. “Chi-chi-ka, chi-chi-ka.” Sayangnya, tangisan bayi itu malah semakin jadi. Ia terbaring telentang di atas pangkuan ibunya. “Oh, sudah, sudah, jangan menangis,” sang ibu mengulang perkataannya, lalu: “Ibu punya sesuatu yang lezat untukmu.”

Dengan satu tangan, wanita itu mengambil sebentuk permen buah dari dalam tas kain miliknya. Tapi itu tidak cukup untuk menenangkan sang bayi. Di sampingnya, si bocah, dengan wajah kesal, bertanya:

“Ibu. Bagaimana denganku?”

“Ambil saja satu untuk dirimu sendiri.” Seraya membuka balutan kimono yang ia kenakan, wanita itu mulai menyusui bayinya. Diambilnya selembar sapu tangan sutra yang sudah sedikit bernoda dari balik obi yang mengikat pinggangnya, lalu ia gunakan sapu tangan tersebut untuk menutupi buah dadanya.

Si bocah memasukkan sebelah tangan ke dalam tas kain milik ibunya dan mulai merogoh-rogoh isinya.

“Hey. Ini bukan permen yang aku mau.” Bocah itu menggeleng.

“Masa? Permen apa yang kau mau?”

“Permen kristal.”

“Ibu tidak membawa permen kristal.”

“Payah! Payah sekali kalau Ibu tidak membawa permen kristal,” gerutu si bocah dengan napas memburu.

“Masih ada permen lain di dalam tas Ibu. Ambil saja. Jangan nakal. Permen lainnya juga enak, kok.”

Bocah itu mengangguk malas. Kini giliran sang ibu untuk merogoh kembali ke dalam tas kain. Wanita itu mengeluarkan empat butir permen dan menempatkannya di telapak tangan bocah tersebut.

“Mau lagi.” Sang ibu pun menambahkan dua butir permen.

Kenyang minum susu, bayi di atas pangkuan wanita itu mulai bermain-main dengan sisir berbentuk kulit kerang dan berwarna hitam yang terjatuh dari helaian rambut sang ibu. Namun, tak lama kemudian, bayi tersebut berusaha memasukkan sisir tadi ke dalam mulutnya sendiri.

“Jangan begitu.” Sang ibu menahan tangan bayinya, dan bayi itu menoleh ke arah tangan yang tertahan dengan mulut terbuka lebar. Dua gigi berukuran mini dan berwarna putih susu terlihat jelas di bagian gusi bawah.

“Ya. Anak baik…” bujuk sang ibu dengan suara melantun, seraya memegangi sebutir permen buah yang terjatuh ke atas pangkuannya, tepat di hadapan wajah sang bayi. Bayi itu, yang sedari tadi sibuk mengulum suara “aa, aa,” pelan-pelan menatap butiran permen buah dengan mata jereng. Ia melepas sisir dari tangan mungilnya yang buntat, kemudian dengan tangan yang sama ia menggenggam butiran permen buah. Lalu, sambil memegang butiran permen, bayi itu berusaha menjejalkan tangannya sendiri ke dalam mulut. Tetesan air liur menggantung dari bibirnya.

Dengan posisi berbaring yang agak miring, wanita itu mengecek selangkangan sang bayi. Nampaknya agak basah.

“Aku harus mengganti popoknya,” kata sang ibu, seolah kepada dirinya sendiri. Lalu, kepada bocah lelaki di sampingnya:

“Taki. Biar Ibu duduk di tempatmu sebentar. Ibu harus mengganti popok adikmu.”

“Oh, tidak! Aku tidak suka kalau begitu caranya, Ibu.” Dengan bibir cemberut, bocah itu bangkit dari duduknya.

“Duduk sini saja.” Sekali lagi, aku memberikan ruang yang sebelumnya diduduki bocah tersebut.

“Anda baik sekali, Tuan. Bocah ini memang suka nakal. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau dia sedang berulah seperti ini.” Wanita itu melempar seutas senyum lemah, seolah dia lelah menangani bocah itu seorang diri.

“Mungkin itu disebabkan oleh hidung dan telinganya.”

“Permisi.” Seraya membalikkan tubuh, wanita itu mengambil sebentuk popok kering dan beberapa lembar kertas minyak untuk membungkus popok yang kotor.

“Memang iya,” ujar wanita itu.

“Sejak kapan dia bermasalah dengan hidung dan telinganya?”

“Sejak lahir. Kata dokter, hal itu disebabkan oleh kebiasaan minum-minum ayahnya; tapi saya penasaran apa kelakuannya disebabkan oleh sesuatu yang tidak beres di kepalanya.”

Sang bayi, dengan kepala yang tersandar di atas kursi, menatap ke langit-langit kompartemen tanpa melihat apa-apa. Sambil melambai-lambaikan kedua tangan, ia bersuara. “Aa, aaa.” Wanita itu bergegas mengganti popok bayinya dan menyimpan popok yang kotor, lantas ia menggendong bayi tersebut dalam pelukannya.

“Terima kasih banyak… Taki, kemarilah.”

“Tidak apa. Kau bisa tetap duduk di sini,” kataku. Namun bocah itu segera bangkit berdiri tanpa mengucapkan apa-apa. Begitu ia mengambil tempat di hadapanku, bocah itu menyandarkan kepala ke jendela kereta dan menatap keluar.

“Oh, tidak sopan sekali.” Wanita itu meminta maaf kepadaku, dengan nada sedikit mengasihaniku.

Setelah beberapa saat berlalu, aku bertanya: “Di mana kalian akan turun?”

“Hokkaido. Ke sebuah tempat yang bernama Abashiri. Saya dikabari bahwa tempatnya sangat jauh dan sulit dijangkau.”

“Di distrik apa?”

“Kitami.”

“Itu memang jauh sekali. Setidaknya lima hari lagi baru sampai di sana.”

“Kata orang bahkan kalau kami mengambil jalan pintas, perjalanan itu akan memakan waktu seminggu.”

Kereta yang kami tumpangi kini melenggang keluar dari Mamada. Dari kedalaman hutan yang mengelilingi rel kereta, kicauan jangkrik terdengar sungguh keras. Matahari telah terbenam. Para penumpang yang duduk menghadap ke sisi barat kereta segera menaikkan tirai penghalang sinar matahari. Udara sejuk berembus masuk. Helai rambut si bayi yang halus dan pendek bergetar ditiup angin. Ia terlelap di dalam pelukan ibunya. Dua atau tiga ekor lalat beterbangan di dekat mulut si bayi yang agak terbuka. Wanita itu, yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, sesekali menghalau lalat-lalat tersebut dengan kibasan sapu tangan. Tidak lama setelah itu, ia membereskan barang-barangnya, dan membaringkan si bayi yang terlelap.

Kemudian wanita itu mengambil dua atau tiga lembar kartu pos, beserta sebatang pensil, dari dalam tas kainnya. Ia mulai menulis. Hanya saja, ia tidak bisa menulis banyak.

“Ibu.” Bocah yang kini lelah memandangi pemandangan di luar kereta kembali angkat suara. Ia terlihat mengantuk.

“Apa lagi?”

“Apa masih jauh?”

“Ya, masih jauh sekali. Jika kau mengantuk, bersandarlah pada Ibu dan tidurlah.”

“Aku tidak mengantuk.”

“Kalau begitu bacalah buku bergambarmu.”

Bocah itu mengangguk pelan. Dari dalam tas kainnya, sang ibu mengeluarkan empat atau lima buku dan majalah. Dengan patuh, bocah tersebut mulai membolak-balik halaman-halaman buku dan majalah itu. Aku bersandar di tempat dudukku dan sambil menatap sepasang ibu dan anak tersebut, yang satu memandangi halaman buku, dan yang lain sibuk menulis di atas lembaran kartu pos, aku tersadar bahwa keduanya memiliki bentuk mata yang sama.

Hal seperti ini mengejutkanku—misalnya saat berada di dalam angkutan umum, aku memandangi seorang anak yang duduk bersama kedua orangtuanya—bagaimana dalam wajah seorang anak kecil, ciri-ciri dua orang yang begitu berbeda satu dengan lainnya, dari sisi si wanita, maupun si lelaki, bisa hadir begitu harmonis, menyatu. Pertama, aku akan mengamati bahwa si anak dan ibunya sungguh mirip antara satu dengan yang lain. Lantas, mengamati si anak dan ayahnya, mereka juga sungguh mirip antara satu dengan yang lain. Kemudian, saat aku mengamati si ibu dan ayah, aku menemui betapa aneh bahwa keduanya sama sekali tidak memiliki kemiripan antara satu dengan yang lain.

Mengingat hal tersebut, aku jadi membayangkan diriku sebagai ayah dari bocah di hadapanku itu. Dan aku juga membayangkan seperti apa kehidupannya sekarang.

Dari pengamatanku terhadap bocah itu, dan daya imajinasiku yang simpang-siur, aku dengan mudah dapat membayangkan wajah dan penampilan suami wanita tersebut. Di sekolah tempatku menuntut ilmu dulu, ada seorang pemuda berdarah bangsawan, Magaki, yang tidak terlalu jauh di atasku tingkat pendidikannya, namun terpisah dariku sekitar lima, enam tahun. Aku teringat akan pemuda itu. Ia juga seorang peminum berat. Ketika dia sedang mabuk, bicaranya selalu tinggi. Pemuda itu bertubuh besar, berwajah pucat dan berhidung mancung, namun ia tidak penah belajar. Setelah gagal lulus ujian sebanyak dua atau tiga kali, ia berhenti sekolah atas kemauannya sendiri. Tidak lama setelah perang antara Rusia dan Jepang berakhir, aku melihat namanya tertera di koran sebagai presiden sebuah perusahaan yang bernama Perusahaan Saham Gabungan Joshy Hemp. Tapi setelah itu, aku tak tahu lagi bagaimana kabarnya.

Karena mendadak teringat akan Magaki, aku penasaran apakah suami wanita di hadapanku itu serupa dengan pemuda yang ada dalam ingatanku. Namun Magaki adalah seorang pembual. Dia bukan orang yang sulit mencari teman. Bahkan bisa dibilang bahwa dia adalah orang yang ramah dengan selera humor yang lumayan. Meski, tentunya, sifat semacam itu tidak sepenuhnya bisa diandalkan. Bahkan orang yang paling ramah sekalipun, setelah melalui serangkaian kegagalan, bisa berubah jadi orang yang sulit diajak hidup bersama. Dia bisa jadi pemurung. Dan dia bisa jadi lelaki yang cenderung melampiaskan kekesalannya terhadap seorang istri yang lemah, dan rumah tangga yang berantakan.

Apa tidak mungkin ayah bocah itu berperilaku sama?

Wanita itu mengenakan kimono musim panas, yang meskipun sudah terlihat tua, namun terbuat dari bahan sutra tipis dengan tali obi berwarna biru-keabuan. Dari kimono yang ia kenakan, aku bisa membayangkan bentuk tubuh wanita itu yang pastinya sangat menggoda saat muda dulu, saat dia baru menikah. Aku juga bisa membayangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya setelah itu.

Kereta yang kami tumpangi terus melaju cepat, melewati Oyama, melewati Koganei, melewati Ishibashi. Di luar jendela, pemandangan yang terbentang mulai terlihat gelap.

Ketika wanita itu selesai menulis di atas dua lembar kartu pos, si bocah berkata:

“Ibu. Aku harus ke belakang.” Di gerbong ini tak ada toilet.

“Apa kau tak bisa menahannya sebentar lagi?” tanya sang ibu, bingung. Bocah itu mengernyitkan dahinya, lalu menangguk.

Sambil meletakkan sebelah lengan di pundak bocah itu, wanita tersebut menatap berkeliling, namun tidak tahu harus melakukan apa.

“Sebentar lagi, ya?” kata wanita itu untuk menenangkan si bocah. Tetapi bocah itu berkata bahwa dia tidak tahan lagi. Tubuhnya gemetar.

Sesaat kemudian, kereta yang kami tumpangi tiba di Sunomiya. Wanita itu berbicara dengan masinis kereta, tapi sang masinis berkata bahwa tak ada cukup waktu perhentian di stasiun ini untuk pergi ke toilet. Maka mereka harus menunggu sampai tiba di stasiun berikutnya. Stasiun yang dimaksud adalah Utsunomiya, di mana kereta yang kami tumpangi akan berhenti selama delapan menit.

Sampai kereta itu tiba di Utsunomiya, wanita itu pasti kebingungan setengah mati. Sang bayi, yang sedari tadi tertidur, tiba-tiba kembali terbangun. Wanita itu buru-buru menyodorkan payudaranya, seraya mengulang kalimat yang sama:

“Sebentar lagi, sebentar lagi.” Aku tersadar bahwa apabila wanita ini tidak mati di tangan suaminya, dia akan mati di tangan bocah itu.

Dengan deru hampa, kereta yang kami tumpangi memasuki stasiun tepat di samping peron. Sebelum kereta itu berhenti, bocah di hadapanku melipat tubunya ke depan sambil memegangi perut. “Ayo, ayo cepat!”

“Kita turun sekarang,” ujar sang ibu, seraya meletakkan bayinya di atas kursi duduk dan mendekatkan wajahnya di dekat wajah sang bayi. “Jangan nakal, dan tunggu kami kembali dengan sabar.” Dengan itu, wanita tersebut menoleh ke arahku. “Saya minta maaf karena telah merepotkan Anda, boleh saya titip bayi ini sebentar?”

“Tentu saja,” jawabku.

Kereta itu akhirnya berhenti total. Aku buru-buru membukakan pintu. Bocah tersebut melompat keluar, ke atas peron.

“Jangan nakal, ya.” Namun sang bayi, begitu ibunya baru saja hendak beranjak pergi, merentangkan tangan ke arah punggung wanita itu dan berteriak sekencang-kencangnya seolah ia baru saja disulut api.

“Ya ampun.” Sang ibu terlihat ragu sesaat, lantas ia meraih tali obi yang mungil dan terbuat dari sutra Hakata dari dalam tas kain. Dililitnya tali obi di bawah lengan si bayi, kemudian diangkatnya bayi itu agar bersandar di balik punggungnya. Lalu wanita itu mengambil selembar sapu tangan katun dan meletakkannya di tengkuk lehernya sendiri. Dengan gesit wanita itu mengikat tali obi yang melilit tubuh bayinya, lalu ia menyelempangkan bayi tersebut di sisi tubuhnya sebelum beranjak turun dari kereta, ke atas peron. Aku ikut turun di belakangnya, dan berkata:

“Ini perhentian saya.”

“Oh…begitu?” Meski ia tampak terkejut, namun wanita itu segera menundukkan kepalanya secara formal.

“Terima kasih atas segala bantuan Anda.”

Kami berjalan beriringan melewati kerumunan penumpang di atas peron.

“Maaf, bolehkah saya menitipkan kartu pos ini kepada Anda?” Seraya bertanya, wanita itu merogoh ke dalam bagian depan kimono yang ia kenakan, berusaha mengambil lembaran-lembaran kartu pos yang disimpanya di sana. Hanya saja, tali obi yang terselempang di dadanya menyulitkan gerak tangannya. Akhirnya dia berhenti.

“Ibu. Ada apa?” Bocah itu membalikkan tubuhnya dan berbicara kepada wanita tersebut dengan nada kesal.

“Tunggu sebentar.” Dengan dagu tertunduk, wanita itu berusaha untuk melonggarkan bagian depan kimono yang ia kenakan. Telinganya berangsur memerah gara-gara tekanan tangannya di depan dada. Lalu, aku melihat betapa sapu tangannya, yang renyuk karena gesekan tali obi, telah turun ke pundaknya. Tanpa berkata-kata, aku melarikan sebelah tangan ke pundak wanita itu untuk meratakan sapu tangan tersebut. Wanita itu terkejut dan mengangkat wajahnya.

“Sapu tangan Anda kusut, jadi saya …” Kurasakan pipiku memanas.

“Maaf. Silakan,” kata wanita itu. Aku meratakan sapu tangannya, namun wanita itu hanya berdiri dalam diam.

Ketika aku menarik tanganku dari pundaknya, lidahku terasa kelu. Dan wanita itu kembali angkat suara: “Saya sungguh minta maaf.”

Di sana, di atas peron, tanpa menanyakan nama satu sama lain, kami berpisah.

Aku melangkah ke pintu masuk stasiun seraya menjinjing dua lembar kartu pos. Ada sebentuk kotak surat yang terpasang pada dinding stasiun. Aku merasakan keinginan untuk membaca tulisan yang tertera pada sepasang kartu pos itu. Aku juga merasa bahwa tak ada salahnya bagiku untuk melakukan hal tersebut.

Aku terdiam, ragu-ragu; tapi ketika aku tiba di depan kotak surat itu, aku menjatuhkan kedua kartu pos ke dalamnya dengan sisi yang bertuliskan alamat penerima menghadap ke atas. Begitu aku menjatuhkan kartu-kartu pos itu ke dalam kotak surat, aku ingin mengambilnya lagi. Aku sempat mengintip alamat yang tertera di atas kartu pos. Keduanya ditujukan ke Tokyo. Yang satu mencantumkan nama seorang wanita, yang lain mencantumkan nama seorang laki-laki. FL

sumber

esai, sastra

Patriotisme Setengah Hati

Hasil gambar untuk Chitra Divakaruni

Chitra Divakaruni

(diterjemahkan oleh Jessica Huwae)

Aku bukan tipe orang yang suka menempelkan stiker. Bemper mobilku pada dasarnya polos, tidak ada pernak-pernik imut menggantung di kaca spion; dan kaus-kaus yang kukenakan juga selalu berwarna polos tanpa logo ataupun kutipan-kutipan humor di atasnya.

Aku menganggap aneh tetanggaku yang menggantung papan tanda dengan dekorasi tupai (tupai?!) di rumahnya, menyatakan “Keluarga Waterfords Tinggal di Sini.” Kuakui, sekali, karena desakan keluarga, aku pernah menempel spanduk di kaca belakang mobil untuk menyatakan bahwa anakku mendapatkan gelar kehormatan di Sekolah Dasar West View. Tapi aku memasangnya asal saja, di bagian luar, dengan selotip berkualitas jelek — dan tentu saja aku lega ketika angin meniupnya hingga lepas.

Aku punya anggapan kuno bahwa kehidupan pribadi seharusnya tetap berada di ranah yang personal. Bahwa nilai-nilai dan keyakinan diri seharusnya dijalani, bukan dipamerkan.

Akan tetapi setelah serangan teroris 11 September, aku mendapati diriku memasang bendera kebangsaan Amerika di depan rumahku, sama seperti yang dilakukan tetangga-tetanggaku lainnya — keluarga Waterfords, Chan dan Siddiqi.

Aku melakukan hal itu untuk pertama kali, dan sama sekali tak menyangka akan begitu tersentuh olehnya. Memegang bendera merah, putih dan biru berbentuk persegi panjang itu di tanganku membuatku menyadari bagaimana Amerika — negara yang kudatangi sebagai gadis imigran berusia 19 tahun dari India — begitu berarti bagiku. Bagaimana selama bertahun-tahun nilai-nilai yang dipegang negara ini — kebebasan, kesetaraan, keadilan, toleransi, upaya mengejar kebahagiaan untuk semua — telah meresap ke dalam diriku dan membentuk jati diriku. Bagaimana aku dipersiapkan untuk berjuang, dengan caraku yang sunyi, untuk menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Aku bayangkan ada begitu banyak warga imigran yang tersebar di seluruh penjuru negeri tengah melakukan hal serupa, memasang bendera kebangsaan Amerika Serikat tinggi-tinggi guna menunjukkan kecintaan kami terhadap negara ini, juga kedukaan kami terhadap mereka yang nyawanya habis diberangus teror. Secara tak langsung, para korban itu adalah saudara kami juga — dan oleh sebab itu aku terhenyak sesaat oleh rasa kebersamaan yang begitu kuat dan langka.

Namun, di balik rasa patriotik yang intens dan tulus itu, terdapat juga perasaan gamang. Aku melihat betapa sejak kejadian 11 September ada perlawanan terhadap mereka yang tampil dengan ciri-ciri seorang Muslim atau berparas ke-Timur-Tengahan. Warga asal dan keturunan Asia Selatan sepertiku juga telah jadi sasaran kebencian dan diskriminasi SARA. Tak sedikit kaum Sikh yang dipukuli atau bahkan ditembak mati hanya gara-gara mengenakan turban atau tampil dengan wajah berjanggut; sementara para wanita berkerudung acapkali dituding sebagai istri-istri para teroris; dan para pengusaha dalam setelan jas dan dasi sering diminta turun dari pesawat karena warna kulit mereka membuat kru pesawat was-was.

Belum lama ini, di luar sebuah toko kelontong tak jauh dari tempat tinggalku, seorang pria meneriaku dan anak-anakku, menggunakan kata-kata ofensif yang tak akan aku ulangi: “Dasar Ay-rab, pulang sana ke negaramu!”

Komunitas kami telah mengambil langkah-langkah pencegahan. Para pemimpin komunitas menyarankan kami untuk tidak mengenakan pakaian etnis, tidak keluar pada malam hari, dan tidak bepergian seorang diri.

Secarik email juga diedarkan, menginstruksikan kami bahwa respons terbaik saat kami merasa diserang adalah dengan mengangkat dua jari di udara seraya membentuk simbol damai, lalu berseru, “Tuhan memberkati Amerika!”

Email yang sama juga menyarankan kami untuk memasang bendera kenegaraan (lebih besar dan mahal lebih baik) di rumah, di tempat usaha dan di mobil keluarga: “untuk menunujukkan pada orang Amerika bahwa kalian berada di pihak mereka.”

Orang Amerika? Tidak salah? Aku adalah orang Amerika! Aku pikir kami berada di sisi yang sama.

Bendera yang kupasang (berukuran kecil dan tidak mahal) bukanlah merupakan respons dari surat eletronik tersebut. Tapi tetap saja, begitu aku memasang bendera, aku dihajar oleh kenyataan bahwa tak peduli selama apapun aku — atau anak-anakku yang lahir di California — tinggal di negara ini, setiap ada konflik besar dengan bangsa lain, maka kami akan selalu kena batunya.

Kasus yang sama juga terjadi ketika krisis tawanan Iran meluap di media. Lagi, saat terjadi perang di Teluk Persia. Beberapa sahabatku, warga Amerika keturunan Jepang, dengan pahit mengingat periode saat sanak-saudara mereka ditahan di kamp konsentrasi; sementara sahabatku yang merupakan warga Amerika keturunan Cina juga mengingat perdebatan soal pesawat pengintai yang terjadi baru-baru ini. Dan terlepas dari kapan hal itu terjadi, kami — orang Amerika yang tidak terlihat seperti orang Amerika — harus menanggung beban untuk membuktikan patriotisme kami. Atau akan ada konsekuensinya.

Saat aku menaikkan bendera, aku bertanya-tanya apakah tindakanku ini dimotivasi oleh ancaman “konsekuensi” tersebut. Aku bertanya-tanya apakah bendera yang kupasang sama saja seperti tanda yang dipasang orang-orang Yahudi di rumah mereka pada era Musa untuk meluputkan mereka dari Malaikat Kegelapan. Karena pada saat ini para pengikut Malaikat Kegelapan itu ada di antara kita. Aku lihat sendiri bagaimana mereka mengaum lantang sambil menyusuri jalan-jalan perumahan tempat tinggal kami yang rata-rata didiami oleh warga keturunan.

Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda yang menumpangi truk terbuka, bukan warga lingkungan kami, dengan wajah-wajah asing. Mereka menglakson dan berteriak lantang seraya membanting setir ke arah trotoar setiap mereka melihat orang-orang yang penampilannya tidak mereka sukai. Bagian belakang mobil mereka ditempeli stiker-stiker bertuliskan “Bokong Bin Laden Adalah Milik Kami”. Dan tersangkut di pucuk antena radio kendaraan mereka ada bendera Amerika Serikat yang berkibar gagah seolah mengiringi aksi mereka secara patriotik.

Apakah mereka penyebab para tetangga Afganistan-ku — wanita-wanita berjilbab yang dulu secara malu-malu sering melambai ke arahku saat kami mengantar anak-anak kami ke sekolah — sudah berminggu-minggu tidak terlihat di luar rumah? Penyebab salah satu dari suami-suami mereka menjemput dan menggiring semua anak-anak keturunan Afghanistan di sekitar lingkungan tempat tinggal kami ke dalam mobil van, lalu mengantar mereka ke sekolah tepat sebelum bel pelajaran berbunyi?

Ketika aku menaikkan bendera, aku mendapati sedikit pergerakan di jendela rumah yang berseberangan dengan rumahku. Seseorang sedang memerhatikanku dari sela tirainya. Mungkin itu Nadia, wanita yang tinggal di rumah itu. Aku penasaran apa yang dia pikirkan mengenai aksiku ini, apakah hal ini membuatnya khawatir? Apakah dalam pikirannya, bendera yang kupasang menghubungkanku dengan para pemilik bendera lainnya, orang-orang yang bertekun menjunjung hidup ala Amerika?

Aku turun dan menatap benderaku. Di luar semua keraguanku, bendera itu berkibar dengan indahnya. Dan aku bangga bahwa kita memiliki satu sama lain. Aku berpikir untuk membiarkannya tetap terpasang di sana sampai krisis ini selesai (semoga segera dan dengan cara sedamai mungkin). Aku akan membiarkannya terus terpasang sebagai pengingat bahwa ada berbagai jenis orang Amerika yang tinggal di negara ini — dan kita harus menyediakan tempat bagi siapa saja di bawah bendera kita. Bahwa warna kulit tidaklah menentukan patriotisme — atau kurangnya patriotisme. Dan terlebih, kita tidak akan pernah bisa dengan sungguh-sungguh mencintai negara kita, tanpa mencintai sesama warga negara kita — pria dan wanita. Semuanya. FL

sumber

esai, sastra, Tak Berkategori

Kebebasan Menulis

Hasil gambar untuk orhan pamuk

Orhan Pamuk

(diterjemahkan oleh Maureen Freely)

Pada bulan Maret tahun 1985 Arthur Miller* dan Harold Pinter** sama-sama mengunjungi Istanbul. Di masa itu, mereka adalah dua nama terbesar di dunia teater, namun sayangnya, kunjungan mereka ke Istanbul tidak ada sangkut-pautnya dengan drama teater ataupun acara kesusastraan, melainkan keterbatasan yang tanpa ampun terhadap kebebasan berekspresi di Turki. Banyak sekali penulis yang dijebloskan ke penjara karena tulisan mereka waktu itu.

Peristiwa kudeta yang terjadi di Turki pada tahun 1980 menyebabkan ratusan ribu orang dijebloskan ke penjara; dan, seperti biasa, penulis jadi sasaran paling empuk. Setiap kali saya menilik artikel-artikel lawas dari berbagai surat kabar, serta kalender dari masa itu, saya seolah mengingatkan diri sendiri tentang apa yang terjadi saat itu—dan bayangan yang terlintas di kepala saya, lumrahnya, adalah suatu adegan yang menjadi ciri utama era tersebut: para lelaki duduk berjajar di ruang pengadilan, dikapit para gendarme (polisi), dengan kepala plontos dan dahi berkerut sementara kasus mereka terus diproses… Di antara kumpulan lelaki itu ada banyak sekali penulis, dan tujuan kunjungan Arthur dan Harold adalah untuk menemui mereka serta keluarga mereka, juga untuk menawarkan bantuan. Lebih dari itu, arti kunjungan mereka adalah untuk mengangkat kasus ketidakadilan yang dialami para penulis Turki agar semua orang di dunia tahu.

Perjalanan kedua penulis tersohor tersebut diatur dan didanai oleh dua institusi besar yang mendukung kebebasan berekspresi di seluruh dunia: PEN dan Helsinki Watch Committee***. Saya berangkat ke bandara untuk menemui mereka, karena seorang teman saya dan saya telah ditunjuk untuk jadi pemandu mereka.

Penunjukkan saya sebagai pemandu para penulis tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan kiprah saya di dunia politik saat itu, melainkan karena saya adalah seorang novelis yang mahir berbahasa Inggris; dan saya dengan senang hati menerima penugasan tersebut. Pertama, saya bisa membantu teman-teman sesama penulis yang sedang berkesusahan; kedua, saya bisa menghabiskan waktu selama beberapa hari bersama dua penulis hebat.

Akhirnya, kami berempat pergi mengunjungi beberapa rumah penerbitan yang berskala kecil dan masih berjuang untuk bertahan; ruang-ruang redaksi surat kabar yang berantakan; serta kantor-kantor majalah lokal yang berdebu, gelap dan nampaknya berada di ambang kebangkrutan. Kami juga berkunjung dari satu rumah penduduk ke rumah penduduk lainnya; selain itu, kami pun menghampiri beberapa restoran—semua ini guna menemui para penulis yang tengah ditargetkan pemerintah Turki beserta keluarga mereka.

Sebelumnya, sudah cukup bagi saya untuk berdiri di pinggiran lingkar politik, menolak untuk masuk kecuali dipaksa; tapi sekarang, setelah saya mendengar sendiri kisah-kisah pilu tentang penindasan, kekejaman dan kejahatan yang dilakukan aparat negara terhadap para penulis Turki, saya merasa tertarik ke dalam lingkaran yang sama karena rasa bersalah yang tak terbendung. Selain rasa bersalah, saya juga merasakan efek solidaritas, meski pada saat bersamaan, saya merasakan hasrat yang sama besarnya untuk melindungi diri saya sendiri dari semua ini. Keinginan utama saya hanyalah untuk menulis novel-novel indah seumur hidup saya.

Kami mengajak Arthur dan Harold naik taksi dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, melewati lalu-lintas kota Istanbul, dan saya ingat bagaimana kami membahas perihal para pedagang asongan di tengah kota. Kami juga membahas soal kereta kuda, poster bioskop, dan para wanita Turki yang tak bercadar serta tak berjilbab dan selalu membuat para wisatawan dari negara-negara Barat tercengang takjub. Namun ada satu adegan yang sangat jelas dalam ingatan saya: di ujung sebuah koridor panjang di hotel Istanbul Hilton, teman saya dan saya tengah berbisik seru, sementara di ujung lain koridor yang sama, Arthur dan Harold tengah berbisik juga di antara bayang-bayang gelap, dengan keseruan yang sama. Adegan ini terus terukir dalam pikiran saya—mungkin karena ia mewakili jarak yang sangat jauh antara sejarah negara kami yang begitu kompleks, dan sejarah negara mereka yang tak kalah rumit. Tetapi keberadaan kami di koridor yang sama menunjukkan bahwa bentuk solidaritas antar penulis adalah hal yang mungkin dan cukup efektif untuk menumbuhkan secercah harapan bagi para penulis yang tengah menunggu eksekusi.

Saya merasakan beban kebanggaan dan rasa malu yang sama di setiap pertemuan—tiap-tiap ruangan yang kami masuki selalu sarat akan pria-pria bermasalah dan asap rokok yang tak ada habisnya. Saya mengetahui hal ini karena sesekali masalah itu dibuka di depan umum; namun selebihnya saya bisa melihat kegelisahan yang hebat dari gerak-gerik dan ekspresi mereka. Para penulis, pemikir, dan jurnalis yang kami temui di masa itu sebagian besar mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai orang-orang beraliran kiri; maka bisa dikatakan bahwa masalah mereka terkait langsung dengan kebebasan yang diagung-agungkan oleh paham demokrasi liberal dari Barat. Dua puluh tahun kemudian, saat saya menemui separuh dari orang-orang yang saya temui saat itu—atau sekitar itu, saya tidak ingat jumlah pastinya—mereka justru berbalik arah dan membela paham nasionalisme yang berseberangan dengan Pembaratan dan demokrasi. Tentunya, hal ini membuat saya sedih.

Pengalaman saya sebagai pemandu, dan seperti pengalaman lain dalam hidup, mengajarkan saya sesuatu yang sudah kita ketahui dengan baik, tetapi ingin saya tekankan dalam esai ini. Apapun negaramu, kebebasan berpikir dan berekspresi adalah hak asasi manusia. Kebebasan ini, yang diinginkan oleh masyarakat modern sama seperti mereka merindukan roti dan air, tidak seharusnya dibatasi oleh sentimen nasionalis, moralisme, atau—lebih parahnya—kepentingan bisnis dan militer. Bila ada banyak negara di luar wilayah Barat terpaksa menanggung malu karena tingkat kemiskinan yang terus meningkat, itu tidak disebabkan oleh kebebasan bereskpresi, melainkan karena mereka tidak punya kebebasan berekspresi. Sementara mereka yang beremigrasi dari negara-negara miskin tersebut ke negara-negara Barat, atau Utara, demi meninggalkan kesulitan ekonomi dan bentuk penindasan keji—seperti yang kita ketahui, terkadang mereka justru mendapati diri mereka lebih ditindas oleh paham rasisme di negara-negara kaya. Ya, kita juga harus waswas terhadap orang-orang yang merendahkan para imigran dan kaum minoritas dengan alasan agama, akar budaya, atau dengan alasan kejahatan yang telah dilakukan pemerintah negara asal para imigran terhadap orang-orang dari negara-negara kaya tersebut.

Akan tetapi, menghormati kemanusiaan dan paham keagamaan kaum minoritas bukan berarti kita harus membatasi kebebasan berpikir orang yang berseberangan dengan kita, meski pikiran mereka tergolong rasis ataupun tak lazim.

Benar, kita memang harus menghargai hak-hak asasi kaum minoritas, tapi itu bukan artinya kita bisa seenaknya membungkam orang-orang yang tidak setuju dengan cara pikir kita. Sebagai penulis, kita seharusnya tidak meragukan ini. Tak peduli seberapa provokatif pesan yang disampaikan siapapun, kita tidak boleh membungkam orang seenaknya.

Sebagian dari kita memang lebih paham tentang norma-norma Barat, sementara sebagian lain lebih condong terhadap norma-norma Timur; dan masih ada sebagian kecil penulis, seperti saya, yang lebih senang membuka diri dan berada di garis tengah kedua paham tersebut. Namun keterkaitan kita dan hasrat kita untuk mengerti mereka yang berbeda dari kita tidak seharusnya jadi alasan bagi kita untuk membatasi rasa hormat kita terhadap hak-hak asasi manusia.

Saya selalu kesulitan mengekspresikan pandangan saya terhadap dunia politik dengan jelas, kuat dan penuh empati—saya selalu merasa pretensius, seolah apa-apa yang saya ucapkan tidak ada artinya, atau tidak benar. Ini disebabkan oleh kesadaran bahwa saya tidak mungkin mengerucutkan pemikiran saya tentang hidup ke dalam satu corong suara, atau satu sudut pandang—karena toh saya ini seorang novelis, jenis penulis yang selalu dituntut untuk bisa mewujudkan pemikiran tiap-tiap tokohnya, terutama tokoh-tokoh antagonis.

Hidup dalam dunia fiksi, di mana, dalam waktu singkat, seorang korban tirani dan penindasan bisa tiba-tiba berubah jadi seorang tiran dan diktator, saya juga sadar bahwa kepercayaan absolut terhadap proses dan manusia adalah hal yang tidak gampang. Saya juga percaya bahwa sebagian besar dari kita senang memikirkan hal-hal yang kontradiktif secara bersamaan, meski tidak dengan tujuan buruk.

Kesenangan saya untuk menulis novel pada dasarnya datang dari keingintahuan saya terhadap kondisi masyarakat modern yang cenderung senang mengontradiksi buah pikiran mereka sendiri. Justru karena cara pikir kita yang modern ini terlalu mudah bergeser maka kita butuh sekali kebebasan berekspresi: supaya kita paham tentang diri kita sendiri, paham tentang pemikiran kita yang terkadang kontradiktif dan mencurigakan, serta paham tentang rasa bangga dan rasa malu yang kerap hadir melebur jadi satu, yang tadi saya sebut.

Izinkan saya untuk menyampaikan cerita lain yang mungkin bisa menjelaskan konsep rasa bangga dan rasa malu yang saya rasakan dua puluh tahun lalu di saat saya sedang mengajak Arthur dan Harold berkeliling Istanbul. Sepuluh tahun setelah kunjungan mereka, serangkaian kebetulan yang digerakkan oleh itikad baik, amarah, rasa bersalah, dan dendam pribadi menggiring saya untuk menyampaikan serentetan pernyataan kepada publik tentang kebebasan berekspresi yang tak ada hubungannya dengan novel-novel saya. Dalam waktu singkat, peran saya di kancah politik jadi membesar tak terkendali, jauh lebih besar dari yang saya bayangkan sebelumnya. Di saat yang sama, penulis asal India yang menyusun laporan tentang kebebasan berekspresi di Turki untuk keperluan data PBB—seorang pria yang sudah cukup berumur—datang ke Istanbul mencari saya. Anehnya, kami juga berjumpa di Hotel Hilton. Belum lagi kami sempat duduk di meja makan, pria asal India itu melontarkan pertanyaan yang masih terngiang di telinga saya hingga saat ini: “Mr. Pamuk, hal apa saja yang terjadi di negaramu yang ingin kau sampaikan dalam buku-bukumu, namun terpaksa kau undurkan, karena takut dipersekusi?”

Pertanyaan itu disusul oleh kebungkaman yang cukup lama. Tak siap dengan jawaban, saya sibuk berpikir dan berpikir dan berpikir. Akhirnya, saya masuk ke dalam proses tanya-jawab dengan diri sendiri ala-ala Dostoevski. Sudah jelas bahwa apa yang ditanyakan oleh pria dari PBB adalah: “Mengingat segala tabu, larangan hukum dan aturan yang opresif di Turki, apa yang masih belum terucapkan?” Tapi karena dia bertanya kepada seorang penulis muda yang duduk di hadapannya dan—entah kenapa, mungkin karena tidak enak—meminta penulis muda itu untuk menjawab sesuai dengan kapasitasnya sebagai seorang novelis; saya yang belum banyak pengalaman menjawab pertanyaan macam ini pun akhirnya menerima pertanyaannya mentah-mentah. Turki yang saya kenal sepuluh tahun lalu memang sangat ketat terhadap apa-apa yang tidak boleh dibahas di khalayak umum, dan larangan ini dilindungi oleh hukum negara yang sangat opresif. Namun selagi saya menyebut satu-satu bentuk larangan yang dipaksakan kepada para penulis, pemikir dan jurnalis di masa itu, saya sadar bahwa tak ada satu pun yang ingin saya angkat “dalam bentuk novel”. Tapi saya juga sadar bahwa bila saya mengucapkan, “Tak ada yang ingin saya sampaikan dalam bentuk novel yang tak bisa saya bicarakan secara terbuka,” saya pasti memberikan kesan yang salah. Karena saya sudah sering mengangkat isu-isu berbahaya ini di luar novel-novel saya. Lebih dari itu, bukankah saya sudah sering mengangkat dan berfantasi tentang isu-isu ini dalam novel-novel saya justru karena itu dilarang? Selagi saya memikirkan semua itu, saya jadi malu terhadap kebungkaman saya dan mengonfirmasi dalam hati saya bahwa kebebasan berekspresi berakar pada kebanggaan dan karenanya, pada intinya, merupakan bagian besar dari cara kita mengekspresikan harga diri kita.

Saya kenal baik dengan banyak penulis yang sengaja mengangkat topik-topik terlarang justru karena mereka dilarang. Saya juga tak jauh beda dengan mereka. Sebab bila ada seorang penulis yang kebebasannya dikekang dan suaranya dibungkam, di mana pun dia berada, maka itu artinya tak ada penulis yang benar-benar bebas. Inilah semangat yang menguatkan tingkat solidaritas yang dirasakan oleh institusi besar seperti PEN, yang dirasakan semua penulis di dunia.

Sesekali ada saja teman yang akan menasihati saya seperti ini: “Seharusnya jangan menulis seperti itu, tulis saja seperti ini, supaya tidak menyinggung perasaan orang, supaya jauh dari masalah.” Tapi yang tidak mereka mengerti adalah bahwa bila saya mengubah kata-kata dan membungkusnya dengan cara berbeda, yang lebih bisa diterima oleh semua orang dalam kultur penindasan, dan melakukannya dengan baik, maka saya tidak ada bedanya dengan seorang kriminal yang terbiasa menyelundupkan barang-barang berharga tanpa sepengetahuan petugas bea dan cukai—dan hal itu tak hanya akan mengundang malu, tapi juga merendahkan.

Tema festival PEN tahun ini adalah akal budi dan kepercayaan. Saya mengangkat cerita-cerita tadi dalam esai ini untuk mengilustrasikan satu kebenaran—bahwa kenikmatan untuk mengutarakan apa saja yang ingin kita sampaikan sangat erat kaitannya dengan harga diri manusia. Maka mari kita bertanya pada diri sendiri seberapa “masuk akalnya” bagi kita untuk merendahkan budaya dan agama orang lain, atau lebih tepatnya, menghancurkan negara-negara orang, atas nama demokrasi dan kebebasan berpikir. Bagian dunia tempat tinggal saya tidak lantas berubah jadi lebih demokratis setelah semua pembunuhan itu terjadi. Dalam perang melawan Irak, serta segala macam bentuk penindasan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap lebih dari seratus ribu orang—tidak satu pun dari pengorbanan itu yang membawa kedamaian, ataupun demokrasi. Justru sebaliknya, semua peristiwa tersebut telah memicu semangat nasionalis dan amarah anti-Barat. Segala hal yang bersangkutan dengan kaum minoritas dan mereka-mereka yang berupaya menegakkan demokrasi serta memperjuangkan paham sekuler di Timur Tengah jadi jauh lebih sulit. Perang keji dan tak beradab ini adalah malu yang harus ditanggung oleh pihak Amerika dan negara-negara Barat sekutunya. Organisasi seperti PEN dan penulis seperti Harold Pinter dan Arthur Miller adalah sumber kebanggaan. FL

sumber

berita, politik

SURAT TERBUKA UNTUK MBAK GRACE NATALIE DAN PSI SOAL TOLAK POLIGAMI

Pelaku diskriminasi kok nggak mau didiskriminasi. Idih, manja. Kalau emang mau poligami ya nggak usah daftar jadi PNS atau kader PSI dong. Gitu aja kok repot.

Hai, Mbak Grace Natalie, perkenalkan saya cucu dari kakek yang berpoligami. Meski begitu, saya tidak pernah suka dengan praktik poligami, dan karena nggak suka—jauh di lubuk hati terdalam, saya selalu merasa tidak nyaman jika ada orang yang koar-koar mempromosikan poligami di ruang publik. Berteriak lantang kalau melakukan poligami dianggap lebih sempurna keislaman seseorang ketimbang yang tidak poligami.

Oleh karena itu, saya mendukung langkah Mbak Grace Natalie yang menyatakan PSI akan membawa aspirasi menolak praktik poligami dalam kampanyenya. PSI juga akan memperjuangkan bahwa kadernya harus bebas poligami. Tidak sampai di situ, Mbak Grace juga akan melanjutkan ide ini sampai tataran undang-undang yang bakal dipraktikkan ke PNS. Poinnya, PNS harus bebas dari poligami.

Wah, luar biasa konsisten ya Mbak Grace ini. Pembelaannya terhadap isu-isu diskriminatif perempuan selalu dikampanyekan dengan gegap gempita. Kalau kemudian ide ini malah mendiskriminasi para pelaku poligami, ya itu kan nggak urusan dong. Soalnya bagi PSI dan Mbak Grace poligami itu pasti 100% melakukan diskriminasi terhadap perempuan. Udah pasti itu. Sepasti Pagoda Pastilles.

Ya nggak peduli dong meski tafsir soal dalil poligami ini beragam di kalangan ulama Islam, bagi Mbak Grace Natalie membela yang dianggapnya benar adalah yang utama. Kalau kemudian ada pihak-pihak yang terdiskriminasi ya salah sendiri melakukan poligami. Pelaku diskriminasi kok nggak mau didiskriminasi. Idih, manja. Kalau emang mau poligami ya nggak usah jadi PNS atau kader PSI dong. Gitu aja kok repot.

Jadi mau poligami itu dilakukan untuk menyelamatkan janda-janda dan secara keimanan serta rasa keadilan sudah terpenuhi, tapi karena itu bentuknya nggak material dan cuma bisa dibaca dari luar, ya tentu nggak ada ukuran pastinya. Pokoknya semua yang poligami itu salah. Karena udah pasti nggak adil. Karena konsep keadilan itu cuma boleh pakai parameter Mbak Grace dan PSI. Nggak boleh kalau dari parameter lain—apalagi parameter keyakinan.

Meski si perempuan yang dipoligami merasa ikhlas, rela, dan nggak masalah dipoligami. Ya itu kan pasti karena sudah terdoktrin sama dalil-dalil dengan tafsir-tafsir yang nggak sesuai dengan konsep keadilan PSI dan Mbak Grace. Si perempuan pasti menderita, merasa cemburu, merasa hak-haknya sebagai istri terbagi dengan istri lain.

Persetan kalau si perempuan itu beneran ikhlas atau si suami betul-betul memenuhi kebutuhan lahir dan batin. Tapi kan karena kadar ikhlas dan adil itu tataran abstrak, maka yang begitu-begitu nggak ada ukuran logisnya. Dan karena cuma PSI dan Mbak Grace yang punya ukuran itu, jadi ukuran keadilan merekalah yang harusnya dipakai.

Pembelaan Mbak Grace Natalie ini juga keren punya. Apalagi banyak poligami yang tidak menjamin kebahagiaan keluarga. Lebih banyak bikin kehidupan keluarga jadi berantakan. Anak jadi banyak, tanggungan banyak. Dan sebagaimana banyak tafsir yang sepakat kalau konsep keadilan dalam poligami itu hampir mustahil, maka sudah haqqul yaqin konsep poligami itu nggak relevan.

Jadi kalau kakek saya poligami dan kehidupan keluarga besar saya baik-baik saja sampai sekarang, ya itu nggak masuk itungan dong. Kan itu anomali. Satu banding sejuta. Soalnya lebih banyak yang nggak merasa bahagia. Gimana Mbak Grace tahu? Ya karena ukuran kebahagiaan keluarga itu kan cuma boleh kalau dari Mbak Grace. Gimana seh?

Pandangan ini juga membuat kita nggak perlu menaruh hormat sama pelaku poligami. Mau dia seorang yang berjasa untuk orang banyak, prestasinya banyak, menolong banyak orang, kalau dia poligami ya berarti dia salah (hanya karena banyak pelaku poligami yang bermasalah). Kayak seperti rokok Bu Susi Pudjiastuti. Karena rokok dianggap sesuatu yang buruk, mau prestasi Bu Susi bejibun menjaga kedaulatan laut Indonesia, ya dia salah karena merokok. Titik.

Nggak ada urusan kalau dalam Islam, praktik ini masih diperdebatkan. Nggak urusan kalau ada golongan yang sepakat dengan ulama pendukung poligami dan ada ulama yang mensyaratkan berat untuk poligami (semi-semi melarang) itu ada. Semuanya tafsir itu hidup di bumi Indonesia. Lalu untuk umat yang percaya sama tafsir poligami dihukumi mubah (atau bahkan sunah), nah itu masalah. Karena keyakinan mereka itu bermasalah bagi kehidupan bangsa—utamanya perempuan.

Meski tidak pernah ada ulama yang secara lantang berani bilang bahwa poligami itu haram apa pun kondisinya. Uniknya, justru Mbak Grace Natalie dan PSI yang berani bilang itu dengan menciptakan gerakan anti-poligami tersebut, sampai jadi rencana kebijakan pemerintah kalau mereka jadi ke Senayan.

Dalam narasi PSI, Negara benar-benar harus turun langsung ikut overlap wilayah-wilayah tafsir agama soal poligami ini. Mereka nggak percaya sama ulama-ulama di Nusantara yang berdakwah soal tafsir poligami yang sebenarnya syaratnya sangat berat. Mereka nggak percaya kalau ulama di Indonesia itu masih banyak yang nggak pro sama poligami. Nggak mendukung, tapi bukan berarti memfatwakan haram lho ya?

Oleh karena itu, PSI dan Mbak Grace Natalie merasa perlu turun gunung langsung. Luar biasa memang inisiatifnya ini. Membantu dan mendukung salah satu tafsir agama serta menyingkirkan yang nggak senada. Pakai tangan pemerintah lagi. Luwar biyasa moderat radikal ya?

Eh, tapi bukannya PSI sudah komitmen nggak bakal politisisasi agama ya dalam kampanyenya ya? Lha ini apa terus ya namanya?

Ah, tahu deh. Pokoknya orang poligami itu pasti salah. Maka dari itu mereka nggak layak kalau jadi PNS atau kader PSI yang oke punya. Mereka salah karena keyakinan dan kepercayaan mereka, persis seperti PKI yang selalu salah sejak mereka lahir. Oleh karena itu, dua-duanya tidak layak melayani negara yang menjunjung keadilan bagi seluruh rakyatnya seperti Indonesia ini.

sumber

berita, politik

REUNI 212 DAN BEBERAPA MANFAATNYA SELAIN UNTUK POLITIK

Hanya pikiran tak kreatif saja yang melulu mengaitkan Reuni 212 dengan konsolidasi pendukung salah satu capres.

Jangan sempit berpikir bahwa Reuni 212 yang baru dilaksanakan kemarin ini cuma urusan politik, khususnya tudingan bahwa aksi tersebut merupakan konsolidasi pendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno semata.

Sejak saya bantu menyiapkan tim medis untuk penyelenggaraan mass gathering aksi 411 sampai 212, saya berpikir bahwa kekuatan massa sebanyak ini, selain bisa untuk kepentingan politik, juga bisa untuk buaaanyak manfaat lain.

Bang Novel Bamukmin yang ganteng dan cerdas itu bilang, reuni akan dihadiri 3,5 juta orang, meski ketika acara berlangsung menurut pihak Kepolisian jumlahnya cuma 40 ribu jamaah. Tapi, mana mungkin kita bisa percaya sama pihak yang doyan kriminalisasi ulama yaaa kaaaan? Eh.

Katakanlah kita percaya saja dengan apa yang disampaikan Bang Novel. Coba ngana bayangkan, apa yang bisa dikerjakan 3,5 juta orang itu (beberapa pihak malah sampai menyebut angka 8 juta lho)?

Kalau misalnya masing-masing individu nyumbang 50 ribu, tidak usah 100 ribu deh, maka secara ugal-ugalaan akan terkumpul dana sebesar 175 milyar!

Buset. Dana sebesar itu bisa bikin Apel Pemuda sebanyak 35 kali. GP Ansor dan Pemuda Muhammadiyah ndak perlu terima uang dari Kemenpora, cukup pakai dana umat itu sudah bisa bikin Apel Pemuda setiap tahun sampai tujuh kali ganti presiden. Pasti para pemuda itu akan makin guyup rukun dan nggak akan repot-repot berurusan dengan Polisi atau KPK karena pakai duit negara.

Dengan duit segitu, Muhammadiyah yang banting tulang mengumpulkan dana dan membangun ribuan rumah semipermanen, klinik, dan memberi bantuan makan ratusan ribu warga terdampak bencana di Lombok, Donggala, Sigi dan Palu akan terasa lebih ringan.

Bagaimana tidak? Dengan uang segitu bisa bangun 23 ribu rumah semi permanen di lokasi bencana; Bisa bangun rumah sakit; Bisa buka ribuan lapangan kerja; Bisa bangun ratusan sekolah; Apalagi kalau nyumbangnya 100 ribu dan dikumpulkan tiap tahun.

Angka penerimaan ASN atau PNS akan meningkat. Bagaimana bisa? Reuni bisa diisi dengan bimbingan tes. Kita kan tahu, tes CPNS itu satu-satunya tes yang nggak ada kurikulumnya. Saya yakin para PNS alumni 212 yang sudah berpengalaman akan bisa membantu sesama jamaah alumni belajar mengerjakan tes dengan baik dan benar di sela-sela doa dan kampanyeceramah para ustaz.

Ini semacam peer education, sebuah sistem pendidikan modern. Keren bukan? Yang lebih utama, program semacam ini bakal penting untuk mengurangi sogok-menyogok masuk pegawai negeri.

Dengan dana sebesar itu, Kak Hanum Rais tak perlu mengirimkam surat ke kampus-kampus Muhammadiyah untuk mengimbau civitas academia untuk nonton filmnya. Cukup mengarahkan para alumni untuk nonton, niscaya bioskop akan crowded.

Pertarungan head to head dengan film Ahok jelas akan dimenangkan Kak Hanum dengan mudah. Jangankan film tentang Ahok, film horor Suzanna yang penontonmya jutaan juga akan lewat.

Lalu kalau manfaatnya untuk Jakarta apa dong?

Begini. Coba kalau 3,5 juta orang kerja bakti di sepanjang Kali Sentiong yang hitam itu, ramai-ramai membersihkan sungai dan daerah alirannya, melakukan purifikasi, tentu kali yang kumuh itu sekejap akan berubah jadi objek wisata sungai nan indah seperti di Surabaya itu.

Tak perlu ada jaring-jaring, tak perlu numpuk karung pasir, semua akan beres. Secara tata kota bagus, secara kebersihan dan kesehatan oke punya, bahkan dipandang dari sisi agama kegiatan ini bakal mengurangi dosa-dosa yang nyinyir kepada Pak Gubernur.

Coba sekarang ngana bayangkan, setelah sungai-sungai bersih, para alumni bisa melepas bibit ikan. Nggak perlu banyak-banyak lah 10 ekor sekali lepasan per individu saja. Wah, saya jamin sungai-sungai di Jakarta akan yahud!

Hobi mancing bisa disalurkan di sungai-sungai di Jakarta. Para capres bisa bikin kampanye lomba mancing. Indeks stress warga Jakarta turun karena sering piknik, tak perlu macet-macet ria jalan ke Puncak. Jos sudah pokoknya.

Belum lagi kalau 3,5 juta orang masing-masing menanam 1 atau 2 pohon. Saya yakin dalam 3 kali reuni Jakarta akan jadi ijo royo-royo atau pinky kalau yang ditanam Tebubuia. Kalau yang ditanam mangga dan buah-buahan lain, Indonesia bisa swasembada buah, tanpa perlu impor buah dari Thailand atau China. Pak Harto tidak akan berani bilang, “Enak jamanku, to?” lagi.

Sembari menebar benih ikan dan menanam pohon, jamaah bisa membuat lubang-lubang resapan agar cita-cita Pak Gubernur memasukkan air ke dalam tanah bisa terealisasi segera. Bila ingin nilai tambah, bisa gotong royong membantu proyek-proyek sanitasi dan manajemen air lain sehingga makin memastikan Jakarta segera bebas banjir. Mitos bahwa Jakarta adalah kota banjir segera sirna oleh kekuatan jamaah.

Selain itu, dengan the power of ikhlas dari 3,5 juta jamaah, Pak Gubernur tidak perlu menekorkan APBD DKI sampai triliunan.

Bila jamaah reuni menyumbangkan cat dan tenaga untuk pewarnaan ibukota, mau setiap tahun ganti warna juga bisa. Hitam putih jadi warna pastel, kalau bosan ganti hijau biar segar, bosan lagi ganti warna partai bergiliran, atau untuk menunjukkan kerja sama bisa pelangi (etapi warna kombinasi pelangi ikut diboikot juga ndak ya?).

Dengan 3,5 juta pasang tangan-tangan perkasa penuh barokah membersihkan tembok-tembok Jakarta dari vandalisme tentu akan membuat Jakarta akan cling dalam sehari. Mata kita akan terbebas dari kumuhnya tembok-tembok ibukota.

Saya yakin, penghargaan-penghargaan Internasional yang diraih Surabaya seperti Lee Kuan Yew World City Prize, Global Green City PBB, Learning City UNESCO ,dan ASEAN Tourism segera akan beralih tangan ke Jakarta.

Senyum Bu Risma tak akan selebar sekarang karena akan terlalu sibuk berusaha menyaingi Jakarta. Malah bisa jadi akan ngotot memindah acara Reuni 212 yang penuh berkah itu ke Surabaya sekalian.

Itu baru sehari dengan 3,5 juta jamaah. Kalau setiap reuni dilaksanakan 2 hari, tentu lebih banyak yang bisa dilakukan, apalagi dibuat Pekan Reuni 212, seminggu penuh dengan peserta 7 juta. Wow banget pastinya.

Untuk itu saya usulkan agar reuni dilangsungkan di seluruh kota di Indonesia. Medan, Riau, Lampung, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya (biar Bu Risma nggak ngiri), Denpasar, Makasar sampai Jayapura. Putihkan dengan jubah Alumni 212 dengan Reuni 212.

Agendanya simpel saja: gotong royong bersih-bersih kota. Tentu doa bersama itu harus. Jangan pedulikan yang bilang doa bersama itu bidah. Karena sesungguhnya ini demi kemaslahatan. Agenda lain bisa dipilih seperti sudah kita bahas di atas, yang akan membuat Indonesia great again!

Jadi tolonglah, jangan hanya demen mengaitkan Reuni 212 dengan politik praktis saja. Hanya pikiran tak kreatif saja yang melulu mengaitkan reuni dengan konsolidasi pendukung salah satu capres.

Meski salah satu capres didapuk sebagai tamu kehormatan, sedangkan capres yang lain memang ditolak untuk datang. Eh.

sumber